Pencapresan Dini
Penulis muda asal Lhokseumawe. Pernah duduk sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Malikussaleh Lhokseumawe.
Jumat, 23 Agustus 2013 | 15:17 WIBTampaknya Agnes Monica harus menciptakan lagu baru, sebuah lagu tentang Wiranto dan Hary Tanoesoedibjo. Judulnya, Pencapresan Dini. Barangkali Melly Goeslaw mau membantu. Sebelum menulis liriknya, ada baiknya menyimak analisis berikut ini.
Pada 2 Juli 2013, Partai Hanura mendeklarasikan Wiranto-Hary sebagai capres-cawapres. Sebagian pengamat politik merespons negatif. Respons serupa juga muncul dari tokoh internal Hanura sendiri. Ketua DPP Hanura Fuad Bawazier menganggap deklarasi itu "mekanismenya tak sesuai dengan AD/ART" karena "seharusnya melalui rapimnas".
Dalam Pasal 32 Ayat (3) huruf i Anggaran Dasar Hanura disebutkan Dewan Pimpinan Pusat mempunyai wewenang mempertimbangkan, memutuskan, dan menetapkan calon presiden/wakil presiden. Tak ada perincian mekanisme penetapannya. Namun, menurut Fuad, karena penetapan capres-cawapres merupakan "hal yang bersifat strategis dan mendesak", mestinya dibahas dalam rapimnas sebagaimana diatur dalam Pasal 48 Ayat (4) huruf b Anggaran Dasar.
Langkah Nekat
Ada yang menilai langkah tersebut terlalu dini, karena diumumkan setahun sebelum pemilu legislatif (pileg). Belum tentu Hanura bisa meraih 20 persen kursi di parlemen atau 25 persen suara sah nasional pada pileg sebagai syarat mengajukan capres-cawapres. Pada Pileg 2009, suara yang diraih Hanura hanya 3,77 persen.
Jika Hanura gagal mencapai ambang batas pengajuan capres-cawapres, manuver Wiranto-Hary akan terganjal. Maka, Hanura tak mungkin mengusung capres-cawapresnya sendiri atau tanpa berkoalisi. Diperlukan dukungan dari gabungan parpol. Itu pun jika gabungan parpol koalisi bersedia tak mengusik format capres-cawapres yang sudah dideklarasikan Hanura.
Tak tertutup kemungkinan, Wiranto tetap diusung sebagai capres, tetapi cawapresnya bukan Hary, melainkan tokoh non-Hanura. Sebaliknya, seandainya perolehan suara Hanura rendah, maka membuat posisi tawar Wiranto paling banter diusung sebagai cawapres, mendampingi capres non-Hanura yang disepakati gabungan parpol. Atau, Wiranto mengalah dan memberi kesempatan bagi Hary maju sebagai cawapres. Berbagai kemungkinan bisa terjadi.
Bukan tak ada nilai positif dari deklarasi dini ini. Dengan deklarasi jauh-jauh hari, Wiranto-Hary dapat menyerap lebih banyak kritik atau masukan. Durasi satu tahun sebelum pileg tentu membuat keduanya lebih punya banyak waktu untuk pemantapan pengetahuan, jaringan pemilih, dan perumusan program kerja.
Dalam waktu yang lama pula, Wiranto-Hary bisa membangun kesamaan pemahaman yang lebih erat. Sosialisasi program kerja pun punya durasi waktu yang lebih panjang. Jika dilakukan dengan konsisten, maka masyarakat akan lebih mengenal pasangan ini. Pemilih pun punya cukup waktu untuk menimbang-nimbang apakah Wiranto-Hary pasangan ideal atau tidak. Memang, deklarasi keduanya disuarakan oleh kader-kader Hanura di daerah, tetapi suara pemilih lebih menentukan.
Hal itu berbeda dengan pasangan capres-cawapres yang dijodohkan parpol seusai pileg. Ikatan yang dibangun bukan karena kesatuan ideologi, melainkan kalkulasi politik berdasarkan perolehan suara pada pileg. Duet ditentukan bukan berdasarkan kesamaan visi.
Duet Serdadu-Pebisnis
Wiranto-Hary punya banyak waktu memadukan program kerjanya berdasarkan latar belakang masing-masing. Ibarat pasangan kekasih, keduanya bertunangan jauh-jauh hari sebelum pesta demokrasi. Jadi, deklarasi ini bukan ritual "pernikahan politik", melainkan tunangan saja. Hary akan jadi "muhrim politik" Wiranto ketika KPU menyatakan keduanya sah sebagai pasangan capres-cawapres. Tunangan dan akad nikah Wiranto-Hary tak dilakukan dalam waktu berdekatan. Ada tenggang waktu untuk saling mengenali sesama lebih jauh.
Wiranto merupakan figur tua. Seorang mantan petinggi militer. Ia pernah maju dalam Pilpres 2004 dengan cawapres Salahuddin Wahid. Suara yang diraih sebesar 22,15 persen. Mereka berada di urutan ketiga di bawah pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla (33,57 persen), dan Megawati-Hasyim Muzadi (26,61 persen). Pada Pilpres 2009, Wiranto kembali maju. Posisinya sebagai cawapres, mendampingi Jusuf Kalla. Perolehan suaranya cuma sebesar 12,41 persen.
Tampaknya Wiranto masih optimistis bisa menang. Apalagi bila didampingi oleh Hary, seorang bos media tersohor di Tanah Air. Kekuatan finansial yang kuat serta penguasaan jaringan media, membuat Wiranto merasa Hary memberi kekuatan baru. Menurut sejumlah kader Hanura, kolaborasi mantan militer dan pebisnis cukup ideal.
Wiranto-Hary memang dideklarasikan jauh-jauh hari sebelum pileg. Masalahnya, dilakukan dalam waktu singkat setelah Hary bergabung ke Hanura. Mestinya wacana duet keduanya dimunculkan terlebih dahulu untuk menangkap respons kader-kader Hanura dan publik luas. Restu dari keluarga besar Hanura mestinya yang diupayakan terlebih dahulu, bukan mendadak melakukan "pertunangan politik".
Karena sudah telanjur, Wiranto-Hary tinggal mengelola hubungan baik. Jangan sampai dalam jangka waktu yang lama menuju pesta demokrasi, yang terjadi malah perceraian dini. Biasanya, rumah tangga pasangan suami-istri yang menikah dini rentan cekcok, kecuali kalau keduanya mampu berpikir dewasa dan bisa saling menerima kekurangan satu sama lain.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Festival Mudik Dongkrak Wisatawan ke Wonosobo
Pidato Trump Picu Lonjakan Minyak Dunia
3
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Prabowo Beri Pelukan Hangat untuk Keluarga TNI yang Gugur di Lebanon




