“Paranoid Anasisasi Syndome”
Penulis muda asal Lhokseumawe. Pernah duduk sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Malikussaleh Lhokseumawe.
Minggu, 13 Oktober 2013 | 09:09 WIBRupanya Anas Urbaningrum masih jadi momok bagi Partai Demokrat. Pembentukan ormas Pergerakan Perhimpunan Indonesia (PPI) memang dianggap Demokrat sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa. Namun, ketika tiga kader hadir dalam peresmian PPI, Demokrat justru reaktif.
Responsnya, mereka dianggap pembelot. Dinilai tak menghormati SBY. Sanksinya, mereka dicopot dari jabatan masing-masing. I Gede Pasek Suardika digantikan Pieter Zulkifli Simabuea sebagai ketua Komisi III DPR. Saan Mustopa digantikan Teuku Riefky Harsya sebagai sekretaris Fraksi Partai Demokrat yang baru. Sedangkan Ahmad Mubarok hingga kini belum dikenai sanksi.
Pencopotan atau rotasi jabatan di fraksi dan komisi itu tertuang dalam SK DPP PD Nomor: 174/SK/DPP.PD/IX/2013. Ketua Fraksi Partai Demokrat (FPD) Nurhayati Ali Assegaf menampik alasan pencopotan semata karena pembelotan, tapi yang lebih esensial adalah rotasi. Tujuannya penyegaran, memberi kesempatan bagi anggota-anggota FPD lain jadi ketua komisi. Yang dirotasi pun tak hanya dua kader yang ikut peresmian PPI.
Eliminasi Loyalis Anas
Demokrat jelas-jelas takut jika PPI ibaratnya menjadi vacuum cleaner yang menyedot kader-kader mereka. Semenjak Anas hengkang, loyalis-loyalisnya perlahan dilemahkan. Sebelumnya Demokrat mencoret nama para bacaleg loyalis Anas dari daftar calon. Pencopotan Pasek dan Saan adalah lanjutan dari manuver "pembersihan" itu. Hanya saja Demokrat menunggu momentum tepat. Ketika saatnya tiba, manuver dijalankan.
Saan dan Pasek pun tak berdaya. Hanya pasrah. Bahkan, Saan menganggap rotasi wajar dilakukan. Sementara Pasek, menilai Ruhut Sitompul pantas memimpin Komisi III, meski akhirnya mengundurkan diri dari pencalonan dan digantikan Pieter Zulkifli. Tiada perlawanan. Mungkin keduanya takut terkena sanksi lebih berat: recall.
Untuk sanksi itu, Demokrat bisa beralasan kinerja mereka tak produktif. Demokrat selalu pintar membuat alasan.
Barangkali, karena PPI bukan parpol, Demokrat tak me-recall loyalis-loyalis Anas di DPR. Demokrat mencurigai PPI adalah bentuk awal mesin politik baru Anas. Ibaratnya, agar tak tenggelam dalam lautan politik, Anas butuh sekoci setelah turun dari kapal SBY. Hingga suatu saat nanti, sekoci itu berhasil dibangun menjadi kapal. PPI bisa menjadi parpol. Persis seperti ormas Nasdem yang bertransformasi jadi Partai Nasdem. Ormasnya tak dibubarkan.
Bakteri dalam Tubuh Bakteri
Sebelum loyalis-loyalis Anas yang tersisa di Demokrat menggerogoti dari dalam, ada antisipasi. Posisi strategis mereka ditanggalkan. Yang hendak nyaleg digeser. Ditakutkan para loyalis Anas akan jadi penggembos. Barangkali, karena sadar kekuatannya terus melemah, Demokrat tak ingin menambah pesaing. Terlebih jika pesaing itu ternyata "teman lama".
Belum tentu PPI jadi parpol. Kekuatan Anas dalam politik pun sudah lemah, mengingat statusnya sebagai tersangka korupsi. Anas sukar dipercaya lagi. Dulu memuja-muja SBY, kini menjadi rivalnya. Dulu mengaku siap digantung di Monas, sekarang malah bikin ormas. Anas seharusnya di puncak Monas, bukan di jabatan puncak ormas. Demokrat betul-betul paranoid. Maka wajar jika Pasek, terinspirasi dari Vicki Presetyo, lantas menyebut Demokrat mengidap "Paranoid Anasisasi Syndrome". Demokrat mengalami "labil politik".
Sejatinya, polemik ini hanyalah pertarungan bakteri versus bakteri. Demokrat jelas-jelas patut dicap sebagai parpol korup. Sementara Anas adalah koruptor. Ribut-ribut di antara mereka tak ada hubungannya dengan nasib rakyat. Tak terlalu penting didiskusikan.
Sebab itulah artikel ini pendek, hanya 500-an. Biasanya saya menulis artikel minimal 800 kata. Saya tak mau terlalu banyak buang-buang waktu membahas hal yang tak terlalu penting. Kalau ada pembaca yang kesal karena waktunya terbuang percuma ketika membaca artikel ini, saya mohon maaf.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Iran Bantah Tangkap Pilot Jet Tempur AS
3
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Prabowo Beri Pelukan Hangat untuk Keluarga TNI yang Gugur di Lebanon




