Dan Terciptalah Perpecahan Itu

Bisma Yadhi Putra
Bisma Yadhi Putra

Penulis muda asal Lhokseumawe. Pernah duduk sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Malikussaleh Lhokseumawe.

Senin, 2 Juni 2014 | 10:58 WIB

Nyatalah kini perpecahan di antara kita. Ternyata persatuan selama ini menjadi penuh ketidakpastian di kemudian hari. Dan ada satu hal yang pasti dalam persatuan yang tengah dijalankan: keretakan yang tertunda. Perpecahan pelan-pelan berproses mencapai wujud utuhnya saat orang-orang sedang menikmati keakraban di antara mereka.

Saat pemerintahan berjalan tak seperti yang diharapkan, rakyat pun bersatu saling membangun dan memperluas jejaring pertemanan dengan mengusung opini dan sikap yang sama bahwa rezim harus dikritik, bahkan kalau perlu dilakukan diskusi rutin untuk merencanakan aksi perlawanan.

Karena memandang pemerintahan saat ini tak berjalan sebagaimana diharapkan, di media sosial saya mencari kawan-kawan dengan pendapat sama. Terciptalah pertemanan lintas pulau. Sesama saling berbagi informasi, tulisan pribadi, metode agitasi, pemikiran kritis, hingga nomor handphone. Namun, kini terjadi saling ejek, mencemooh sesama. Padahal sebelumnya, dalam kemarahan yang mendidih, seruan revolusi pun kerap sama-sama dikumandangkan. Hilang musuh, lalu bermusuhan!

Munculnya calon-calon penguasa baru yang akan bertarung dalam pemilu presiden dan wakil presiden, membuat persatuan tadi pecah. Ini yang saya maksud dengan "keretakan yang tertunda". Rakyat yang terpecah menganggap jagoan masing-masing sebagai sosok paling pas untuk menggantikan pemimpin terdahulu.

Akibatnya tekanan terhadap rezim pun terus melonggar karena fokus dan kesatuan penentangnya berubah. Kita bisa lihat pada kasus Ketua Umum PPP Suryadharma Ali yang ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi penyelenggaraan haji. Orang-orang justru mencibir Prabowo karena status Suryadharma sebagai rekan koalisinya.

Semua kini buyar! Gara-gara berbeda dalam hal kepada siapa dukungan harus diberikan. Padahal sama-sama tahu bahwa dalam pemilu banyak orang memperjuangkan kemenangan sosok atau parpol yang sebenarnya menghendaki kemelaratan mereka di kemudian hari. Berulang kali itu telah terbukti. Herannya entah mengapa seolah hal itu tak disadari.

Dalam sebuah diskusi, Ignas Kleden menyatakan orang-orang yang memilih saat pemilu hanya untuk dilupakan setelah pemilu. Ini cukup menggelitik. Parpol-parpol itu memang berengsek. Jauh-jauh hari sebelum pemilu kita mencemoohnya. Namun menjelang pemilu kita mendukungnya juga, kan? Ayo, jawab jujur! Dari ungkapan Ignas itu, bisa dibuat percakapan seperti ini:

Nurjannah: Pus, tujuanmu memilih saat pemilu apa?

Puspa: Aku cuma ingin dilupakan. Kan, habis musim pemilu tibalah musim move on.

Parahnya dukungan kepada elite yang tak pernah peduli dengan kesehatan rakyat dilakukan dengan beragam cara tidak sehat. Alih-alih memamerkan keunggulan jagoan masing-masing, persaingan justru dilakukan dengan lebih banyak memfitnah atau menjelek-jelekkan lawan.

Ibaratnya ada dua kios kelontong saling berhadapan. Pedagang di kios A sepanjang hari--mulai buka hingga tutup kios--pekerjaannya hanya sibuk memberitahu khalayak bahwa barang dagangan di kios B tidak baik. Begitupun sebaliknya. Kalau perlu dengan tuduhan yang tak masuk akal.

Sportif
Kedua capres yang akan bertarung dalam pilpres, yakni Prabowo Subianto dan Joko Widodo dituduh macam-macam, seperti salah berwudu, tidak bisa salat, dan tidak bisa baca Alquran. Maka, saya setuju dengan usul Jusuf Kalla agar dilakukan saja tes baca Alquran dan menjadi imam salat. Semuanya disiarkan live di televisi. Berani?

Padahal, dengan keakraban yang pernah dijalani, pertarungan bisa dilakukan secara sportif, bukan mencela sana-sini. Inilah kebodohan kita: ikut-ikutan hanyut dalam pertarungan antarkapitalis. Tak habis pikir, rakyat malah membela habis-habisan elite-elite munafik. Ketegangan ini menyita banyak waktu karena orang-orang sibuk memelototi media sosial untuk membalas debat atau membagikan informasi-informasi, baik sahih maupun fitnah, yang tujuannya merugikan pihak lawan.

Biarlah pertarungan di antara mereka semakin keras, sementara kita tetap bersahabat. Rakyat santai saja. Kalau tidak, maka sembari mengisap cerutu mereka berdiskusi tentang kita dan terkekeh-kekeh geli.

Saya bukannya ingin menyangkal perbedaan atau hak setiap orang mau memilih siapa. Kita semua tak harus seragam. Tetapi yang jadi masalah adalah tidak sehatnya cara kita dalam menjalani perbedaan itu. Bukan perbedaannya yang jadi masalah, tetapi perpecahannya. Kalau berbeda tetapi masih bersahabat, itu bukan perpecahan.

Kalau mau, mari mulai sekarang bersaing sportif. Ketegangan itu memang keniscayaan, tetapi tak perlu tegang urat leher. Rakyat tetap saling menghormati. Duduk bersama sambil ngopi dan berdiskusi, dan biarlah elite yang saling mencaci. Pokoknya jangan sampai sikap kritis bersama tinggal kenangan. Bersedia?

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon