ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Gesekan di Pilpres 2024 Diyakini Tak Sedahsyat Pilpres 2019

Rabu, 25 Oktober 2023 | 20:59 WIB
YP
SL
Penulis: Yustinus Patris Paat | Editor: LES
Diskusi Mapping Indonesia's Political Landscape di BNI Investor Daily Summit 2023 yang berlangsung di Hutan Kota by Pelataran, Jakarta, Rabu 25 Oktober 2023.
Diskusi Mapping Indonesia's Political Landscape di BNI Investor Daily Summit 2023 yang berlangsung di Hutan Kota by Pelataran, Jakarta, Rabu 25 Oktober 2023. (Beritasatu.com/Yustinus Patris Paat)

Jakarta, Beritasatu.com - Gesekan di Pilpres 2024 tidak akan sedahsyat Pilpres 2014 dan 2019 lalu. Masyarakat dan elite politik sudah paham bahwa pilpres hanya mencari pemimpin yang pada waktunya semua yang berkontestasi bisa masuk di gerbong yang sama.

Hal itu dikatakan Pengamat Politik Muhammad Qodari dalam acara diskusi bertajuk Mapping Indonesia's Political Landscape di Hutan Kota by Plataran, Jakarta, Rabu (25/10/2023).

"Saya mau mengatakan begini, sebetulnya sudah terbangun tradisi politik di Indonesia di mana kontestan atau pemilu itu memiliki momentum untuk mencari pemimpin pilot, kopilot, tetapi nanti semuanya akan masuk ke dalam pesawat yang namanya Indonesia," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Diskusi tersebut merupakan bagian dari kegiatan BNI Investor Daily Summit 2023 yang dipandu oleh CEO BTV Rio Abdurachman. Hadir juga sebagai pembicara tokoh politik nasional Enggartiasto Lukita.

Menurut Qodari, Pilpres 2019 memberikan pelajaran penting kepada masyarakat dan elite politik di Indonesia. Sosok Presiden Jokowi, kata dia, membuka tradisi baru dalam politik Indonesia dengan menggandeng rivalnya masuk kabinet, yakni Prabowo Subianto menjadi Menteri Pertahanan dan Sandiaga Salahuddin Uno menjadi Menparekraf.

"Saya menduga juga begitu, kalau Pak Prabowo menang presiden, nanti Mendagri-nya Mas Ganjar, Pak Mahfud jadi Menko Polhukam, Mas Anies jadi Mendikbud lagi, Pak Muhaimin jadi Menko Kesra."

"Atau misalnya Pak Ganjar menang, Pak Prabowo Menhan lagi, Mas Gibran jadi Menteri Ekonomi Kreatif misalnya," tutur Qodari.

Karena itu, kata Qodari, masyarakat tidak boleh terlalu fanatik dalam mendukung pasangan capres-cawapres hingga bermusuhan satu sama lain karena beda pilihan politik.

"Jadi kita jangan baper (terbawa perasaan,-red), karena nanti yang sekarang ini sedang berkompetisi justru ujungnya akan bersama-sama. Jadi semua ide dan gagasan itu pada waktunya akan mendapatkan tempat di pemerintah Indonesia," pungkas Qodari.

Diketahui, Pilpres 2024 bakal diikuti tiga pasangan capres-cawapres seusai Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka mendaftar ke KPU pada Rabu ini. Prabowo-Gibran didaftarkan oleh pimpinan partai politik Koalisi Indonesia Maju (KIM), yang terdiri dari Gerindra, Golkar, PAN, Partai Demokrat, PBB, Partai Gelora, Partai Garuda, dan PSI.

Sebelumnya, pada 19 Oktober 2023, dua pasangan capres-cawapres mendaftar ke KPU, yakni Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar yang diusung Nasdem, PKB dan PKS. Serta pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD yang diusung PDIP, PPP, Hanura dan Perindo.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Hercules Klaim Pernah Ditawari Ratusan Miliar agar Tak Dukung Prabowo

Hercules Klaim Pernah Ditawari Ratusan Miliar agar Tak Dukung Prabowo

NASIONAL
KPK Tak Temukan Bukti Uang Korupsi Taspen Mengalir ke Pilpres 2024

KPK Tak Temukan Bukti Uang Korupsi Taspen Mengalir ke Pilpres 2024

NASIONAL
Santai Bahas Rivalitas, Prabowo: Anies Bikin Mak-mak Kasihan ke Saya

Santai Bahas Rivalitas, Prabowo: Anies Bikin Mak-mak Kasihan ke Saya

NASIONAL
Prabowo: Saya Enggak Dendam Sama Anies, Dia yang Bantu Aku Menang

Prabowo: Saya Enggak Dendam Sama Anies, Dia yang Bantu Aku Menang

NASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon