Mengungkap Sejarah Jakarta: Kota Tua yang Jadi Pusat Pemerintahan
Rabu, 18 Juni 2025 | 22:21 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Memasuki usia ke-498 tahun pada 22 Juni 2025, Jakarta tak hanya merayakan hari jadinya dengan pesta budaya dan kemeriahan, tetapi juga mengajak warganya untuk kembali menengok sejarah panjang kota yang dulu bernama Sunda Kelapa ini.
Sebagai pusat pemerintahan, Jakarta memiliki sejarah panjang yang membentuk identitasnya sebagai kota metropolitan terbesar di Indonesia. Dari pelabuhan kecil di pesisir utara Pulau Jawa, Jakarta telah melalui berbagai masa kerajaan, penjajahan, kemerdekaan, hingga era modern.
Dalam lintasan sejarahnya, Jakarta menyimpan banyak kisah penting yang membentuk identitasnya saat ini, yakni sebuah kota yang lahir dari pergulatan sejarah dan terus berkembang menghadapi tantangan zaman.
Lantas, seperti apa perjalanan sejarah Kota Jakarta ini? Dihimpun Beritasatu.com dari berbagai sumber, berikut perjalanan terbentuknya Jakarta dari masa ke masa!
Awal Mula: Sunda Kelapa dan Kerajaan Hindu-Buddha
Asal mula Jakarta dapat ditelusuri sejak abad ke-4 Masehi. Wilayah ini dahulu merupakan bagian dari Kerajaan Tarumanegara, salah satu kerajaan Hindu tertua di Nusantara.
Bukti keberadaan kerajaan ini antara lain ditemukan dalam Prasasti Tugu dan Prasasti Ciaruteun yang berbahasa Sansekerta dan beraksara Pallawa.
Pada abad ke-14, wilayah ini dikenal dengan nama Sunda Kelapa, pelabuhan utama dari Kerajaan Sunda Pajajaran. Letaknya yang strategis menjadikan Sunda Kelapa sebagai pusat perdagangan penting di Asia Tenggara. Pedagang dari berbagai bangsa seperti Tiongkok, Arab, dan India kerap berlabuh di pelabuhan ini.
Direbut oleh Kesultanan Demak
Tahun 1527 menjadi momen penting dalam sejarah Jakarta. Ketika itu, pasukan Kesultanan Demak yang dipimpin oleh Fatahillah menyerang Sunda Kelapa untuk mengusir Portugis yang mulai menguasai wilayah tersebut. Setelah berhasil merebutnya, Fatahillah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, yang berarti “kemenangan yang sempurna”.
Jayakarta kemudian menjadi wilayah penting bagi kesultanan Islam di Jawa Barat, termasuk Banten dan Cirebon. Namun, pengaruh kolonial Eropa kembali hadir pada awal abad ke-17.
Batavia: Masa Kolonial Belanda
Pada tahun 1619, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di bawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen menyerang Jayakarta. Kota ini dihancurkan dan kemudian dibangun kembali dengan nama Batavia, yang menjadi pusat kekuasaan Belanda di Hindia Timur.
Batavia berkembang pesat sebagai kota perdagangan dan pemerintahan. Sayangnya, struktur sosial yang dibangun sangat diskriminatif. Penduduk asli tinggal di pinggiran kota, sementara pusat kota dihuni oleh warga Belanda dan elite pribumi.
Sepanjang masa kolonial, Batavia mengalami berbagai perubahan, termasuk pemberontakan, wabah penyakit, dan pembangunan infrastruktur seperti kanal dan benteng pertahanan. Nama Batavia bertahan hingga masa pendudukan Jepang.
Pendudukan Jepang dan Perubahan Nama Menjadi Jakarta
Pada tahun 1942, Jepang merebut Hindia Belanda dan mengganti nama Batavia menjadi Jakarta, singkatan dari Jakarta Tokubetsu Shi (Kota Istimewa Jakarta). Nama ini tetap digunakan hingga kini.
Selama tiga tahun pendudukan Jepang (1942–1945), rakyat Indonesia mengalami kesulitan ekonomi dan kerja paksa. Namun, masa ini juga menjadi titik balik kebangkitan semangat nasionalisme.
Jakarta menjadi saksi penting proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 oleh Soekarno dan Mohammad Hatta di Jalan Pegangsaan Timur nomor 56.
Jakarta Pascakemerdekaan: Ibu Kota Republik
Setelah proklamasi, Jakarta ditetapkan sebagai ibu kota Republik Indonesia. Kota ini menjadi pusat pemerintahan dan politik nasional. Namun, tidak sedikit tantangan yang dihadapi, termasuk agresi militer Belanda, pemberontakan dalam negeri, dan urbanisasi besar-besaran.
Era Orde Lama di bawah Presiden Soekarno ditandai dengan pembangunan infrastruktur monumental seperti Monumen Nasional (Monas) dan Gelora Bung Karno. Pembangunan dilanjutkan dengan pendekatan yang berbeda pada era Orde Baru di bawah Presiden Soeharto.
Jakarta Modern: Megapolitan dan Kota Global
Memasuki abad ke-21, Jakarta berkembang pesat sebagai kota megapolitan dengan penduduk lebih dari 10 juta jiwa. Pusat bisnis, pemerintahan, dan budaya berkumpul di kota ini. Namun, pertumbuhan Jakarta juga menghadirkan tantangan besar, termasuk kemacetan, banjir, polusi, dan kesenjangan sosial.
Pemerintah terus berupaya membenahi Jakarta melalui berbagai proyek, seperti MRT, LRT, revitalisasi trotoar, dan sistem pengendalian banjir.
Selain itu, pada 2019, Presiden ke-7 Joko Widodo mengumumkan rencana pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur, menjadikan Jakarta sebagai pusat ekonomi dan bisnis ke depan.
Sejarah Jakarta mencerminkan perjalanan panjang bangsa Indonesia, dari kerajaan, kolonialisme, kemerdekaan, hingga modernisasi. Identitas Jakarta dibentuk oleh keragaman budaya, perjuangan politik, dan dinamika sosial yang terus berubah.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Ini Senjata Iran yang Bikin Rontok Jet Tempur F-15 AS
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Man City vs Liverpool, Mengapa Guardiola Tak Ada di Pinggir Lapangan?




