Chatib Basri: Perkuat Kinerja Belanja untuk Dorong Pertumbuhan Ekonomi
Selasa, 1 Agustus 2023 | 07:05 WIB
Jakarta, Beritasatu.com- Pemerintah disarankan untuk menggenjot kinerja belanja negara agar dapat mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3% di tahun 2023 ini.
Ekonom Universitas Indonesia Chatib Basri mengatakan di tengah gejolak perekonomian global yang terjadi maka pemerintah harus mengoptimalkan sumber pertumbuhan ekonomi dalam negeri.
"Kita melihat sampai Juni 2023 fiskal masih surplus, ini yang sebenarnya bisa dilakukan di mana percepatan belanja menjadi sangat penting. Untuk pemulihan ekonomi, belanja pangkal pulih kalau belanja bisa dipercepat. Saya kira kita bisa mengatasi (dampak pelemahan perekonomian global) dengan baik," ucap Chatib Basri dalam acara Investor Daily Roundtable di Pelataran Senayan pada Senin (31/7/2023).
Mengutip data Kementerian Keuangan selama semester I 2023 APBN surplus Rp 152,3 Triliun. Dari surplus tersebut, keseimbangan primer tercatat surplus sebesar Rp 368,2 triliun selama semester I 2023. Realisasi Belanja Negara mencapai Rp 1.255,7 triliun atau 41,0% Pagu APBN (Pagu), tumbuh 0,9% (yoy). Realisasi Belanja Pemerintah Pusat (BPP) mencapai Rp 891,6 triliun (39,7% dari Pagu), ditopang Belanja K/L sebesar Rp 417,2 triliun dan Belanja non-K/L sebesar Rp 474,4 triliun. Sebanyak 55,2% dari BPP atau sebesar Rp 492 triliun merupakan belanja yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, baik melalui Perlindungan Sosial, Petani dan UMKM, Pendidikan, Infrastruktur, maupun sektor pelayanan publik lainnya.
"Kalau swasta gak bisa belanja karena bunga agak tinggi dan ekspor terpukul maka yang harus belanja adalah pemerintah," kata Chatib.
Sementara itu pertumbuhan ekonomi kuartal I 2023 mencapai 5,03% secara year on year( YOY). Sedangkan secara kuartal ke kuartal (Q to Q) terjadi kontraksi sebesar 0,92% Pada kuartal I 2023 tercatat Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I pada tahun 2023 Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) sebesar Rp 5.071,7 triliun dan Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) Rp 2.961,2 triliun
"Kita harus mengatakan 5% hari ini adalah sesuatu yang luar biasa karena banyak negara yang struggling di 5% karena banyak negara yang struggling dengan growth bahkan di bawah 3% seperti Singapura yang hanya 0,1%," pungkas Chatib.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




