ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Target Ekonomi 8 Persen Makin Sulit Dicapai Imbas Tarif Trump

Rabu, 9 Juli 2025 | 16:55 WIB
AH
AD
Penulis: Akmalal Hamdhi | Editor: AD
Investor Daily Talk bahas dampak tarif perdagangan AS.
Investor Daily Talk bahas dampak tarif perdagangan AS. (B-Universe/Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com - Target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8% dinilai semakin sulit tercapai seiring kebijakan tarif impor baru dari Amerika Serikat (AS). Industri manufaktur sebagai penggerak utama ekonomi diperkirakan semakin tertekan akibat potensi penurunan ekspor.

Senior Research Associate IFG Progress sekaligus dosen Sekolah Kajian Strategik dan Global Universitas Indonesia Ibrahim Kholilul Rohman menyatakan, target pertumbuhan ekonomi 8% kemungkinan sulit direalisasikan. Hal ini terutama disebabkan oleh belum kuatnya performa sektor manufaktur.

Ibrahim menjelaskan, target ambisius pertumbuhan ekonomi tidak bisa dicapai secara spontan. Sebagai perbandingan, pada era 1990-an ketika ekonomi Indonesia mampu tumbuh hingga 8%, industri manufakturnya mencatat pertumbuhan mendekati dua digit selama satu dekade.

ADVERTISEMENT

Namun saat ini, aktivitas manufaktur Indonesia masih jauh dari harapan. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia justru menurun dari 47,4 pada Mei 2025 menjadi 46,9 pada Juni 2025.

“Manufaktur merupakan mesin utama pertumbuhan ekonomi karena memiliki efek multiplier yang tinggi dan menciptakan banyak lapangan kerja. Jadi secara umum, sektor ini mampu mendorong ekonomi secara cepat,” ujar Ibrahim dalam program Investor Daily Talk, Rabu (9/7/225).

Ia menambahkan, tekanan terhadap sektor manufaktur berpotensi semakin besar dengan kebijakan tarif impor terbaru dari AS. Seperti diketahui, AS akan menaikkan tarif impor terhadap berbagai produk mulai 1 Agustus 2025. Bagi Indonesia, tarif tersebut akan naik dari 10% menjadi 32%.

Kondisi ini diperkirakan akan menekan kinerja ekspor Indonesia, khususnya pada sektor industri padat karya, seperti minyak sawit, sepatu, dan karet. Jika ekspor yang menyumbang sekitar 24% terhadap PDB terkoreksi, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan hanya mencapai 4,7%% hingga 4,8.

“Sehingga, untuk mencapai target 8%, dibutuhkan waktu lebih panjang guna meredefinisi kekuatan ekonomi nasional dan merevitalisasi sektor manufaktur,” pungkas Ibrahim.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Nike Digugat Konsumen karena Tak Kembalikan Biaya Tarif Impor

Nike Digugat Konsumen karena Tak Kembalikan Biaya Tarif Impor

EKONOMI
Indonesia Akan Temui Perwakilan Dagang AS Bahas Investigasi Tarif

Indonesia Akan Temui Perwakilan Dagang AS Bahas Investigasi Tarif

EKONOMI
RI Siapkan Bukti Hadapi Investigasi Dagang Amerika Serikat

RI Siapkan Bukti Hadapi Investigasi Dagang Amerika Serikat

EKONOMI
Purbaya Yakin Investigasi Dagang AS Tak Pengaruhi Indonesia

Purbaya Yakin Investigasi Dagang AS Tak Pengaruhi Indonesia

EKONOMI
Trump Bakal Selidiki Praktik Perdagangan 16 Mitra Dagang, Termasuk RI

Trump Bakal Selidiki Praktik Perdagangan 16 Mitra Dagang, Termasuk RI

EKONOMI
Tok! Tarif Dagang RI ke AS Turun dari 19 Persen Jadi 15 Persen

Tok! Tarif Dagang RI ke AS Turun dari 19 Persen Jadi 15 Persen

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon