Arus Asing Masih Deras, Surat Utang Negara Bakal Banyak Peminat
Senin, 18 Agustus 2025 | 06:03 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Pekan ini perhatian pelaku pasar diperkirakan masih akan terfokus pada perkembangan data inflasi Amerika Serikat (AS) dan arah kebijakan The Federal Reserve (The Fed).
Rilis inflasi inti dan indeks harga produsen (PPI) yang lebih tinggi dari perkiraan telah membuat peluang pemangkasan suku bunga acuan pada September 2025 menjadi kurang pasti.
Peneliti Ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai kondisi tersebut berpotensi menahan penurunan yield US Treasury sehingga berdampak pada permintaan yield yang sedikit lebih tinggi dalam lelang Surat Utang Negara (SUN) sepekan ini.
Meski demikian, ia menekankan bahwa sentimen domestik relatif positif. Menurutnya arus masuk dana asing masih akan deras, Bank Indonesia (BI) pun memiliki ruang untuk mulai menurunkan suku bunga.
"Pemerintah tetap berkomitmen menjaga defisit fiskal di bawah 3% PDB. Kombinasi faktor ini membuat lelang SUN tetap diproyeksikan ramai peminat, meskipun volatilitas dari sisi global tidak bisa diabaikan,” ujar Yusuf kepada Beritasatu.com.
Saat ini, imbal hasil SUN tenor 10 tahun berada di level 6,42%, terendah sejak September 2023. Namun, ruang penurunan ke depan dinilai semakin terbatas karena tekanan inflasi dari AS berpotensi mendorong kenaikan yield global.
Dengan demikian, pekan depan yield acuan 10 tahun diperkirakan bergerak stabil dengan kecenderungan naik tipis di kisaran 6,45%–6,55%.
Sementara itu, pemerintah dijadwalkan menggelar lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan target indikatif Rp 9 triliun melalui tujuh seri. Dari seri-seri tersebut, minat investor biasanya lebih besar pada tenor menengah hingga panjang, terutama seri benchmark 10 tahun PBS032 yang likuid dan menjadi acuan di pasar sekunder.
Investor asing umumnya memilih seri ini, sedangkan tenor 5 tahun lebih banyak diminati oleh perbankan dan institusi domestik untuk kepentingan pengelolaan likuiditas.
Secara keseluruhan, permintaan lelang diperkirakan tetap tinggi. Dengan target Rp 9 triliun, total penawaran yang masuk diproyeksikan dapat mencapai Rp 25–Rp 30 triliun atau sekitar 2,5–3 kali lipat dari target.
“Artinya, lelang pekan depan masih berpotensi oversubscribed meski tidak setinggi periode awal tahun ketika euforia investor lebih besar,” kata Yusuf.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




