Perang Iran-Israel dan AS Masih Berlangsung Sebabkan LPG-BBM Tertekan
Selasa, 3 Maret 2026 | 03:51 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah diminta mengantisipasi dampak eskalasi perang di Timur Tengah terhadap ketahanan energi nasional, terutama jika penutupan Selat Hormuz berlangsung berkepanjangan. Jalur tersebut merupakan lintasan sekitar 40% perdagangan minyak dunia dan berperan vital terhadap pasokan energi global, termasuk Indonesia.
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengatakan, kawasan Timur Tengah memegang kunci cadangan dan distribusi minyak mentah dunia. Iran tercatat sebagai produsen minyak mentah terbesar kedua di kawasan setelah Arab Saudi dan menguasai sebagian besar garis pantai utara Selat Hormuz yang menjadi jalur utama ekspor minyak.
“Tujuannya banyak ke negara-negara Pasifik seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan. Empat negara ini juga menguasai sekitar 40% ekonomi dunia, sehingga menunjukkan betapa sentralnya Selat Hormuz,” kata Komaidi saat dihubungi Beritasatu.com, Senin (2/3/2026) malam.
Menurut dia, ada dua komoditas yang perlu diantisipasi pemerintah, yakni liquefied petroleum gas (LPG) dan bahan bakar minyak (BBM). Konsumsi LPG domestik mencapai 9 juta metrik ton per tahun, sementara produksi dalam negeri hanya sekitar 1,8 juta metrik ton. Artinya, Indonesia masih mengimpor sekitar 7,2 juta metrik ton per tahun.
“Sekitar 40% impor LPG Indonesia berasal dari Timur Tengah, sisanya dari Amerika Serikat. Artinya, kita cukup tergantung pada kawasan yang saat ini sedang berkonflik,” ujarnya.
Komaidi menilai, jika gangguan di Selat Hormuz berdampak luas, pemerintah perlu segera mencari alternatif pasokan jangka pendek untuk mencegah kelangkaan LPG. Pasokan tersebut sangat krusial karena menyangkut kebutuhan rumah tangga hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Selain LPG, harga BBM di dalam negeri juga berpotensi terdampak. Ia menjelaskan, mekanisme pembelian BBM saat ini mengikuti skema pasar terbuka sehingga sensitif terhadap gejolak global. Jika pasokan minyak mentah dunia berkurang akibat penutupan Selat Hormuz, harga minyak global berpeluang naik.
“Kalau penawaran turun sementara permintaan tetap, harga akan meningkat. Jika kenaikannya signifikan, otomatis harga BBM di dalam negeri ikut terdorong,” kata Komaidi.
Ia menambahkan, ketahanan stok BBM nasional berkisar 23 hingga 25 hari. Setelah periode tersebut, badan usaha harus melakukan pembelian dengan harga baru mengikuti kondisi pasar.
“Perhitungan kenaikan harga bukan lagi hitungan bulan, tetapi hari. Kalau harga tidak naik bulan depan, berarti pemerintah menambah subsidi. Pertanyaannya, apakah ruang fiskal mencukupi?” ujarnya.
Komaidi menekankan, pemerintah perlu menyiapkan skenario mitigasi sejak dini untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga energi di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Ini Senjata Iran yang Bikin Rontok Jet Tempur F-15 AS
Ribuan Warga Mojokerto Terima Bantuan Pangan
Sampah Laut Kian Parah, Pengelolaan di Darat Jadi Sumber Masalah
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Gempa M 6,2 Guncang Talaud Terasa hingga Manado




