ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Menjaga Daya Beli Masyarakat Harus Jadi Prioritas

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:11 WIB
MK
MK
Penulis: Martin Bagya Kertiyasa | Editor: MBK
Ilustrasi Harga BBM.
Ilustrasi Harga BBM. (Antara/Andika Wahyu)

Jakarta, Beritasatu.com – Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai pemerintah perlu memprioritaskan perlindungan daya beli masyarakat di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global yang dipicu gejolak geopolitik dan kenaikan harga energi.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman mengatakan stabilitas daya beli masyarakat menjadi faktor penting karena struktur perekonomian Indonesia masih sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga.

“Karena struktur ekonomi kita sangat tergantung kepada konsumsi, 53% konsumsi, mau tidak mau harus dijaga dan harus diselamatkan,” ujar Rizal dilansir dari Antara.

Ia menjelaskan kondisi ekonomi global saat ini turut dipengaruhi dinamika ekonomi Amerika Serikat yang sedang menghadapi tekanan fiskal dan perdagangan. Defisit anggaran negara tersebut mencapai sekitar 6,5%, sementara total utang telah menembus sekitar US$ 127 triliun.

ADVERTISEMENT

Selain itu, defisit perdagangan yang besar juga mendorong Amerika Serikat mengambil berbagai kebijakan ekonomi ekspansif guna menjaga stabilitas ekonominya.

“Sehingga kemudian membuat sebuah kebijakan ATE, ART atau hambatan dagang, kemudian kebijakan ekspansional seperti sekarang atau openship, di mana semuanya untuk menjaga stabilitas ekonominya Amerika,” kata Rizal.

Menurut dia, berbagai kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi perekonomian global dan berdampak pada negara lain, termasuk Indonesia. Jika tidak diantisipasi dengan baik, kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap stabilitas ekonomi domestik.

Salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah lonjakan harga minyak dunia akibat eskalasi geopolitik. Saat ini harga minyak jenis Brent telah mendekati bahkan berpotensi melampaui US$ 100 per barel.

Apabila tren kenaikan tersebut berlanjut, tekanan inflasi energi diperkirakan meningkat dan berpotensi memperbesar defisit fiskal negara-negara importir energi, termasuk Indonesia.

Selain itu, volatilitas nilai tukar serta pasar keuangan global juga dinilai berpotensi meningkat sehingga dapat memperberat kondisi ekonomi dalam negeri.

Rizal menilai kelompok masyarakat menengah ke bawah menjadi pihak yang paling rentan terkena dampak tekanan tersebut. Jika daya beli kelompok ini menurun, konsumsi rumah tangga sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi juga berpotensi ikut melemah.

“Kebutuhan kebijakan tentu menuntut daya beli atau juga consumption rumah tangga ini diintervensi,” ujarnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

BBM Melonjak, Pakistan Gratiskan Transportasi Umum 30 Hari

BBM Melonjak, Pakistan Gratiskan Transportasi Umum 30 Hari

INTERNASIONAL
Siap-siap! Kebijakan Energi Bisa Berubah Kapan Saja

Siap-siap! Kebijakan Energi Bisa Berubah Kapan Saja

EKONOMI
Harga BBM Diminta Dievaluasi, Anggota DPR Soroti Beban APBN

Harga BBM Diminta Dievaluasi, Anggota DPR Soroti Beban APBN

NASIONAL
Update Harga Minyak: Naik Tajam 8 Persen Lebih

Update Harga Minyak: Naik Tajam 8 Persen Lebih

EKONOMI
Peran Kunci Pertamina Jaga Stabilitas Harga BBM di Tengah Perang Iran

Peran Kunci Pertamina Jaga Stabilitas Harga BBM di Tengah Perang Iran

EKONOMI
Dilema Harga BBM, Antara Beban Fiskal dan Daya Beli Masyarakat

Dilema Harga BBM, Antara Beban Fiskal dan Daya Beli Masyarakat

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon