ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Menghitung Dampak Konflik Timur Tengah ke Ekspor RI

Kamis, 19 Maret 2026 | 05:11 WIB
MK
MK
Penulis: Martin Bagya Kertiyasa | Editor: MBK
Ilustrasi kapal tanker.
Ilustrasi kapal tanker. (AP)

Jakarta, Beritasatu.com – Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank menilai dampak langsung eskalasi konflik di Timur Tengah terhadap perdagangan Indonesia masih relatif terbatas.

Penilaian tersebut didasarkan pada kecilnya eksposur perdagangan Indonesia dengan kawasan tersebut.

Head of Indonesia Eximbank Institute Rini Satriani mengatakan, risiko utama justru muncul melalui jalur tidak langsung, seperti kenaikan harga energi, volatilitas nilai tukar, serta perlambatan aktivitas industri di negara mitra dagang utama.

“Risiko utama justru muncul melalui kanal tidak langsung, terutama kenaikan harga energi, volatilitas nilai tukar, serta perlambatan aktivitas industri di negara mitra dagang utama yang dapat memengaruhi dinamika ekspor Indonesia,” ujarnya dilansir dari Antara.

ADVERTISEMENT

Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Indonesia Eximbank Institute menunjukkan ekspor Indonesia ke Timur Tengah hanya sekitar 4,2% dari total ekspor nasional.

Komoditas utama meliputi minyak kelapa sawit (HS 1511), perhiasan (HS 7113), serta mobil dan kendaraan bermotor lainnya (HS 8703).

Sementara itu, impor Indonesia dari kawasan tersebut mencapai sekitar 3,9% dari total impor nasional dan didominasi komoditas energi, khususnya minyak.

Struktur ini menunjukkan eksposur perdagangan langsung Indonesia terhadap kawasan konflik relatif terbatas.

Sebagian besar ekspor Indonesia mengalir ke kawasan lain seperti Asia Timur (36,4%), Asia Tenggara (20,8%), Amerika Utara (11,5%), Asia Selatan (9,6%), dan Eropa Barat (5,7%).

Dengan demikian, dinamika ekonomi di kawasan tersebut tetap menjadi penentu utama kinerja ekspor nasional.

Meski demikian, Rini menegaskan pihaknya terus memantau perkembangan konflik dan implikasinya terhadap perdagangan global, khususnya terkait stabilitas jalur energi internasional.

“Kami memonitor secara cermat dinamika di kawasan Timur Tengah, termasuk keamanan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz yang merupakan salah satu arteri utama perdagangan energi dunia,” jelasnya.

Kawasan Timur Tengah memiliki peran strategis dalam sistem energi global, dengan kontribusi lebih dari 30% terhadap produksi minyak dunia.

Sekitar 20%-30% perdagangan minyak global juga melewati Selat Hormuz. Gangguan pada jalur ini dapat berdampak cepat terhadap harga energi internasional dan meningkatkan biaya logistik global.

Meski impor minyak Indonesia tidak secara langsung berasal dari Timur Tengah, dampaknya tetap terasa melalui jalur perdagangan regional. Sekitar 75% impor minyak Indonesia berasal dari Singapura dan Malaysia, yang merupakan pusat perdagangan dan pengolahan minyak di Asia.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Selat Hormuz Bergejolak: Kapal Tanker Disita dan Kargo Ditenggelamkan

Selat Hormuz Bergejolak: Kapal Tanker Disita dan Kargo Ditenggelamkan

INTERNASIONAL
Sesi Pertama Pertemuan Trump dan Xi Jinping Berakhir Tanpa Bahas Iran

Sesi Pertama Pertemuan Trump dan Xi Jinping Berakhir Tanpa Bahas Iran

INTERNASIONAL
Harga Minyak Dunia Menguat Tipis Sambut Pertemuan Trump-Xi Jinping

Harga Minyak Dunia Menguat Tipis Sambut Pertemuan Trump-Xi Jinping

EKONOMI
Wall Street Cetak Rekor Baru, Saham AI dan Cip Jadi Penggerak

Wall Street Cetak Rekor Baru, Saham AI dan Cip Jadi Penggerak

EKONOMI
Nissan Prediksi Penjualan Turun 19.000 Unit karena Perang Iran

Nissan Prediksi Penjualan Turun 19.000 Unit karena Perang Iran

OTOTEKNO
Trump Tak Mau Minta Bantuan China untuk Atasi Konflik Selat Hormuz

Trump Tak Mau Minta Bantuan China untuk Atasi Konflik Selat Hormuz

INTERNASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon