ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

BKF: Kesehatan Fundamental Ekonomi 2017 Terjaga

Rabu, 11 Januari 2017 | 13:44 WIB
YW
B
Penulis: Yosi Winosa | Editor: B1
Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati memberi sambutan disela pembukaan pendangangan saham 2017 di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa 3 Januari 2017.
Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati memberi sambutan disela pembukaan pendangangan saham 2017 di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa 3 Januari 2017. (Beritasatu Photo / Uthan A Rachim/Uthan A Rachim)

Jakarta – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) optimistis mampu menjaga fundamental ekonomi Indonesia tahun ini tetap sehat. Optimisme itu muncul setelah menyaksikan kondisi ekonomi makro selama 2016 yang terjaga dengan baik.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Suahasil Nazara menyebutkan, secara year on year, pada 2016 konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh cukup stabil di level 5% (Q3), investasi tumbuh positif di angka 4,1% (Q3), dan inflasi terjaga di level 3,02%.

"Secara makro ini yang kita lakukan, untuk menjaga keseimbangan", jelas Suahasil dalam acara Rapat Kerja Nasional Kementerian Keuangan dengan tema "Sinergi untuk Negeri" di Kantor Pusat Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (10/1).

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa ada tiga sektor yang perlu diperbaiki dan perlu sinergi yang lebih baik. Ketiga sektor itu adalah sektor fiskal, sektor moneter, dan sektor riil. Selain sektor fiskal dan moneter, sektor riil juga perlu diperbaiki untuk menjaga keseimbangan ekonomi nasional.

ADVERTISEMENT

"Fiskalnya kita perbaiki, moneternya diperbaiki, tapi kalau sektor riilnya tidak diperbaiki, maka ini yang akan menjadi apa yang disebut bottle neck", jelas dia.

Suahasil juga menyebutkan, reformasi fiskal yang paling terlihat adalah kualitas belanja yang semakin membaik dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Hal tersebut dapat dilihat dari adanya realokasi belanja anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) ke sektor yang lebih produktif.

"Ini adalah reform kita yang paling besar selama tiga tahun terakhir. Dan ini mendapat apresisasi yang sangat besar," ujar Suahasil.

Beberapa reformasi kebijakan fiskal APBN itu dilakukan melalui skema subsidi yang lebih tepat sasaran dan belanja infrastruktur yang semakin meningkat. Selain itu, pemerintah juga berkomitmen untuk meningkatkan program layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan, serta melakukan penguatan desentralisasi fiskal.

Pada kesempatan yang sama, menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati kembali menegaskan, pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah menyepakati asumsi target pertumbuhan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017 sebesar 5,1%.

Menurut dia, target tersebut ditetapkan dengan cukup hati-hati, mengingat lingkungan global yang masih tidak pasti. "Waktu saya bahas dengan DPR, saya anggap lingkungan globalnya sangat tidak pasti," kata Sri Mulyani saat menyampaikan sambutan dalam rapat kerja nasional tersebut.

Sejak krisis 2014, menurut dia, tahun-tahun berikutnya menjadi tahun yang penuh perjuangan bagi Indonesia, salah satu contohnya adalah penurunan harga komoditas yang memukul penerimaan negara, atau perdagangan global yang melemah. Pada 2015 dan 2016, lanjut Menkeu, upaya untuk recovery dan kembali bankit terus dilakukan.

"Selama tiga tahun kemarin, kita alami shock yang cukup besar, ini menimbulkan pertanyaan kredibilitas APBN," kata dia seperti dipublikasikan laman Kemenkeu. Menurut Menkeu, hal tersebutlah yang menjadi alasan penyusunan APBN 2017 dilakukan dengan lebih hati-hati.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon