Bank Mega Bidik Bisnis Kartu Kredit 12%
Kamis, 12 Januari 2017 | 22:25 WIBJakarta – PT Bank Mega Tbk membidik kenaikan bisnis kartu kredit kisaran 10-12% secara year on year (yoy) tahun 2017. Tahun lalu, perseroan membukukan kenaikan outstanding loan kartu kredit sebesar 4% (yoy) menjadi Rp 8,2 triliun dan nilai transaksi tumbuh 2% (yoy) hingga menyentuh Rp 27,7 triliun.
Director Credit Card and Personal Loan Bank Mega Wiweko Probojakti menjelaskan, kondisi makroekonomi yang melambat pada semester I-2016 merupakan salah satu faktor utama bisnis kartu kredit perseroan hanya tumbuh single digit. Selain itu, rencana Direktorat Jenderal Pajak (DJP) untuk memeriksa transaksi kartu kredit para pemegang kartu di Indonesia justru disambut dengan aksi pengurangan transaksi, hingga penutupan kartu oleh masyarakat.
Meski demikian, selepas September 2016 aksi penutupan kartu kredit oleh nasabah Bank Mega mulai terkendali. "Penutupan meningkat pada periode April-Agustus, tapi setelah September keadaan sudah normal. Bahkan, sampai Januari ini, kami belum melihat lagi ada tanda-tanda peningkatan penutupan kartu," kata Wiweko saat dihubungi Investor Daily di Jakarta, Rabu (11/1).
Sebagai upaya mendukung target bisnis tahun ini, kata dia, perseroan berencana meluncurkan kartu kredit jenis baru yang akan fokus untuk segmen premium. Dia memprediksi Bank Mega dapat meluncurkan kartu kredit baru tersebut pada April-Mei mendatang.
"Produk kartu kredit baru kami, nanti akan memiliki kekuatan belanja yang lebih besar. Intinya, untuk mencapai kenaikan bisnis kartu kredit kisaran 10-12% (yoy) perseroan akan fokus dengan produk baru dan sinergi dengan kekuatan CT Corp," jelas dia.
Meski tahun ini Bank Mega lebih optimistis terkait bisnis kartu kredit, Wiweko mengakui, bukan berarti bank tidak akan menghadapi tantangan di sisi industri kartu kredit. Sebab seiring peluncuran Surat Edaran (SE) Bank Indonesia (BI) Nomor 18/33/DKSP atas perubahan SE Nomor 11/10/DASP, batas maksimum suku bunga kartu kredit dari semula sebesar 2,95% akan turun menjadi 2,25% per bulan.
Adapun perbankan memiliki waktu untuk menyesuaikan kembali bunga kartu kredit dengan batas waktu hingga Juni 2017. "Sebagai salah satu penerbit kartu kredit terbesar, Bank Mega sudah menyiapkan langkah untuk mengantisipasi penurunan pendapatan dari bunga kartu kredit. Jadi perseoran memutuskan untuk melakukan cost efficiency initiatives, yang antara lain mencakup biaya pemasaran dan operasional," papar dia.
Walaupun akan melakukan efisiensi, perseroan tetap menjaga agar insiatif untuk pengurangan biaya tidak akan berpengaruh besar terhadap manfaat yang selama ini perserona berikan kepada cardholder. "Selama ini itu para pemegang kartu kami mendapat benefit saat bertransaksi di seluruh Group CT Corp. Sehingga ke depan, perseroan akan berusaha menjaga agar benefit tersebut akan tetap bertahan," tegas dia.
Di samping menaruh harapan dari transaksi kartu kredit dalam cakupan domestik, belakangan ini Bank Mega juga mulai membukukan kenaikan transaksi di luar negeri. Pasalnya, ungkap Wiweko, berdasarkan data kenaikan transaksi kartu kredit Bank Mega di luar negeri yang sebelumnya hanya 7-8% kini mulai berkontribusi sebesar 10% dari total transaksi.
"Posisi 10% itu terhadap total transaksi yang sebesar Rp 27,7 triliun. Padahal, pada 2015 kami mencatat transaksi kartu kredit di luar negeri masih di bawah," ungkap dia.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), tercatat sampai November 2016 jumlah kartu kredit yang beredar sebanyak 17.351.826 keping kartu. Kemudian, dari sisi nominal transaksi tercatat mencapai Rp 23,74 triliun. BI juga mencatat, volume transaksi dari kartu kredit yang beredar itu menyentuh 26.342.250 transaksi hingga November tahun lalu.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




