Masa Transisi Brexit Belum Mengkhawatirkan
Laba BNI London Melesat 430%
Selasa, 16 Mei 2017 | 18:54 WIB
London - Masa transisi Britain Exit (Brexit) atau keluarnya Inggris dari Uni Eropa belum menunjukkan tanda-tanda mengkhawatirkan. Ekonomi United Kingdom (UK) atau Inggris Raya itu justru menggeliat. BNI Cabang London pada kuartal pertama 2017 meraih pertumbuhan laba setelah pajak 429,6% dibanding periode yang sama tahun 2016. Dalam empat tahun terakhir, 2013-2016, laba setelah pajak kantor cabang ini rata-rata naik 41%.
Pada tahun 2016, saat referendum di Inggris memenangkan kubu yang menghendaki United Kingdom (UK) keluar dari Uni Eropa, BNI London membukukan laba setelah pajak US$ 6,4 juta dan pada kuartal pertama 2017 sebesar US$ 6,4 juta. "Mudah-mudahan, dampak buruk Brexit tidak sebesar yang dikhawatirkan," ujar Direktur Utama PT BNI Tbk Achmad Baiquni di London pekan lalu.
Referendum di Inggris yang digelar Kamis, 23 Juni 2016, dimenangkan oleh kubu yang menghendaki UK keluar dari Uni Eropa dengan dukungan suara 52%. Sebagian besar pendukung Brexit adalah pemilih usia 65% ke atas. Mereka adalah kelompok usia yang pernah merasakan masa jaya Inggris sebelum bergabung ke Uni Eropa. Sebelum referendum, Inggris meminta status khusus yang berbeda dengan 27 anggota Uni Eropa lainnya, yakni hak memperlakukan para imigran dan hak untuk mengontrol semua aspek ekonominya tanpa campur tangan Uni Eropa.
Kinerja ekonomi Inggris pasca referendum, kata Kepala Cabang BNI London Teddy Erdius Eka Saputra, belum menampakkan keadaan mengkhawatirkan. Sebaliknya, data ekonomi Inggris justru menunjukkan kondisi positif. "Sampai saat ini, Brexit belum berdampak pada kinerja BNI London. Tapi, keadaan sesungguhnya nanti kita lihat setelah Inggris resmi keluar dari Uni Eropa tahun 2019," ungkap Teddy, Selasa (16/5).
PM Inggris Theresa May sudah menyetujui UK untuk mengikuti prosedur Pasal 50 Perjanjian Lisbon sebagai syarat keluar dari The European Union (EU), 29 Maret 2017. Pemimpin Inggris ini sudah menjadwalkan Inggris resmi tinggalkan EU, 29 Maret 2019. Kini tinggal proses persetujuan parlemen Inggris. EU terbentuk 1 November 1993 sebagi organisasi kerjasama regional di bidang ekonomi dan politik negara-negara Eropa.
Ekonomi Inggris pasca referendum Brexit justru menunjukkan kinerja positif. Dana Moneter Internasional (IMF) sudah merevisi naik perkiraan laju pertumbuhan ekonomi Inggris dari 1,5% menjadi 2% April lalu. Pada Januari 2017, IMF memperkirakan, ekonomi Inggris tahun 2017 hanya bertumbuh 1,5%. Data Badan Statistik Inggris (UK Stastistics Authority) menunjukkan, laju pertumbuhan ekonomi negeri itu pada tahun 2016 sebesar 1,8%. Sebelum kubu pro Brexit memenangkan referendum, pertumbuhan ekonomi Inggris diprediksi 2,2%.
Seiring dengan laju pertumbuhan ekonomi, angka pengangguran Inggris turun ke level 4,6%. Selama 11 tahun terakhir, pengangguran di Inggris selalu di level 4,8%. Pada November 2016, pengangguran turun 52.000 ke 1,6 juta atau 4,6% dari total angkatan kerja. Hingga Maret 2017, penyerapan angkatan kerja di negeri berpenduduk 64 juta itu terus meningkat.
Namun, angka inflasi perlahan merayap naik. Pada Januari 2017 (year on year), inflasi UK 1,9%. Namun, pada Maret 2017 (yoy), inflasi membengkak menjadi 2,5%. Kenaikan laju inflasi ikut membuat nilai poundsterling (GBP) terdepresiasi terhadap dolar AS. GBP yang pada Januari 2017 masih di level 1,2 per dolar AS, pada 15 Mei 2017 berada di level 1,3 per dolar AS
"Yang kami khawatirkan adalah nilai poundsterling yang terus terdepresiasi terhadap dolar AS," kata Teddy. Tapi, ia yakin, nilai poundsterling akan kembali stabil sejalan dengan perbaikan ekonomi Inggris. Brexit bisa menjadi momentum bagi bangsa Inggris untuk menunjukkan kepada Uni Eropa dan dunia bahwa mereka bisa lebih maju dan sejahtera dibanding ketika masih bersama EU.
Kantor Cabang Terbesar
Kinerja enam kantor cabang BNI di luar negeri, kata Baiquni, cukup menggembirakan. Pada tahun 2016, laba bersih kantor cabang BNI di luar negeri sebesar US$ 40,8 juta atau naik 27,3% dari tahun sebelumnya. BNI London mengontribusi US$ 6,4 juta.
Pada kuartal pertama 2017, laba bersih keenam kantor cabang BNI di luar negeri sebesar US$ 12,1 juta, meningkat 87,3% dari periode yang sama tahun 2016. Kontribusi terbesar berasal dari BNI London yang mencetak laba bersih US$ 2,3 juta.
Laba besar yang dicetak BNI London, antara lain, disebabkan oleh pinjaman sebesar US$ 170 juta yang disalurkan bank itu kepada Grup Sinar Mas tahun 2016. Pinjaman disalurkan dalam dua tahap, yakni US$ 70 juta pada Maret 2016 dan US$ 100 juta di akhir tahun 2016.
Pinjaman diberikan pada tingkat bunga 3,75% di atas LIBOR tiga bulan. Teddy menjelaskan, tingkat bunga itu memberikan margin yang cukup baik kepada BNI. Dana pinjaman dibutuhkan Grup Sinar Mas yang beroperasi di Kanada untuk mendukung bisnis kertasnya. Grup usaha yang sudah menjadi pemain global ini mengembangkan perusahaan pulp berbahan baku kayu serat panjang untuk menunjang bisnis kertas, terutama kertas tisu.
BNI London menyalurkan pinjaman sebesar US$ 264,9 juta selama 2016 dan dalam jumlah yang sama pada kuartal pertama 2017. BNI London mengincar perusahaan yang terafiliasi dengan Indonesia yang beroperasi di luar negeri, terutama di Eropa. Perusahaan terafiliasi itu adalah perusahaan Indonesia yang beroperasi di luar negeri dan perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia.
Di antara enam kantor cabang BNI di luar negeri, BNI London adalah yang terbesar dilihat dari sisi aset. Pada Maret 2017, total aset kantor cabang BNI di luar negeri US$ 3,4 miliar atau 7% dari total aset PT BNI Tbk. Aset BNI London pada Maret 2017 sebesar US$ 991,5 juta.
Selain London, lima kantor cabang BNI di luar negeri lainnya adalah Singapura, Hongkong, Tokyo, New York, dan Seoul. Singapura adalah kantor cabang BNI tertua di luar negeri, yang dioperasikan tahun 1955, jauh sebelum Singapura merdeka. Sedang BNI London akan genap 31 tahun pada 29 Desember 2017.
BNI juga memiliki dua kantor cabang pembantu di luar negeri, yakni di Osaka dan Yangon, yang masing-masing dibuka tahun 2013 dan 2015. Saat ini, demikian Baiquni, BNI sedang menjajaki pembukaan kantor cabang di Melbourne, Australia, dan di Riadh, Arab Saudi. BNI juga mengincar Malaysia, tapi peraturan di negeri jiran itu terlampau ketat, tidak sebanding dengan kelonggaran yang diperoleh bank-bank asal Malaysia yang beroperasi di Indonesia.
Asas resiprositi atau timbal balik masih menjadi masalah besar bagi Indonesia dengan negara-negara asal bank yang sudah beroperasi dan meraih keuntungan besar di Indonesia. Untuk membuka kantor cabang, menjaring nasabah penyimpan maupun nasabah peminjam, serta pemasangan ATM, persyaratan yang diminta terlalu berat. Sementara di Indonesia, bank-bank asing bisa beroperasi dengan leluasa.
Mengerem Ekspansi
Setelah bertumbuh di atas industri, BNI tahun 2017 akan sedikit menahan laju ekspansi. Pada tahun 2016, kata Baiquni, kredit BNI melaju 20,6%, jauh di atas rata-rata industri yang hanya 7,9%. Sedang pada kuartal pertama 2017, kredit BNI naik 21,4%. Pada periode yang sama, kredit perbankan nasional tumbuh hanya 8,6%. Posisi kredit BNI per Maret 2017 sebesar Rp 396,5 triliun.
"Meski kuartal pertama naik cukup tinggi, tahun ini laju ekspansi kredit akan lebih rendah dari tahun lalu," ungkap Baiquni. Pihaknya harus mengerem laju pertumbuhan kredit karena loan to deposit ratio (LDR) sudah hampir menyentuh 90%. Pada Desember 2016, LDR BNI sempat di level 90,4%, namun pada Maret 2017 sedikit turun menjadi 89,3%. Pihaknya menjaga kualitas kredit yang sudah disalurkan guna menekan non-performing loan (NPL) yang pada Maret 2017 sebesar 3%. Pada periode yang sama, LDR dan NPL industri masing-masing 89,3% dan 3,2%.
Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) BNI tidak setinggi laju ekspansi kredit. Pada tahun 2016, DPK BNI meningkat 17,6% menjadi Rp 435,5 triliun. Sedang pada kuartal pertama 2017, DPK naik 19,8% menjadi Rp 445 triliun. Kendati demikian, pertumbuhan DPK BNI jauh di atas rata-rata industri yang pada 2016 dan kuartal pertama 2017 hanya meningkat 9,6% dan 9,2%.
Walau mengerem, kredit untuk mendukung pembangunan infrastruktur akan tetap menjadi perhatian. Pada tahun 2016, kredit BNI ke sektor infrastruktur meningkat 30,4% menjadi Rp 86,3 triliun. Sedang pada kuartal pertama 2017, kredit ke sektor infrastruktur meningkat lagi 21,5% menjadi Rp 86,9 triliun. Kredit terbesar adalah untuk pembangkit listrik, yang pada Maret 2017 mencapai Rp 25,7 triliun. Peringkat selanjutnya adalah kredit untuk konstruksi dan jalan tol Rp 21,5 triliun, transportasi Rp 15,6 triliun, migas Rp 14,7 triliun, dan telekomunikasi Rp 9,3 triliun.
Kinerja BNI cukup mengesankan. Pada tahun 2016, bank yang didirikan 5 Juli 1946 ini membukukan laba bersih Rp 11,4 triliun atau meningkat 25,1% dan pada kuartal pertama 2017 meraih laba bersih Rp 3,2 triliun atau naik 8,5% dari periode yang sama tahun 2016. Potensi laba bank beraset Rp 618,8 triliun per Maret 2017 ini cukup besar, antara lain karena net interest margin (NIM) yang masih 5,6-6,2% pendapatan non-bunga yang terus meningkat.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




