ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Melongok Penambangan Batu Bara KPC di Sangatta

Rabu, 1 Mei 2019 | 20:00 WIB
PD
B
Penulis: Primus Dorimulu | Editor: B1
Geladak mother vessel sepanjang 200 meter milik PT Kaltim Prima Coal.
Geladak mother vessel sepanjang 200 meter milik PT Kaltim Prima Coal. (Beritasatu/Primus Dorimulu)

Sangatta, Kutai Timur, Beritasatu.com - Alat berat itu ada di tengah tambang batu bara. Namanya Liebherr tipe 9800, ekskavator raksasa buatan Jerman seberat 260 ton. Sekali ayun, alat berat seharga US$ 5 juta itu mampu merengkuh material 45 meter kubik atau 70 ton. Tidak jauh dari Liebherr, ada ekskavator yang lebih kecil untuk mengeruk dan mengangkat batu bara dari lapisan bebatuan.

Itulah sekilas pemandangan yang disaksikan Beritasatu.com saat mengunjungi lokasi penambangan batu bata PT Kaltim Prima Coal (KPC) di Kutai Timur, Kalimantan Timur, Jumat (26/4/2019). Luas tambang ini sekitar 2,5x1 km dengan kedalaman lebih dari 300 meter. Ditambang sejak 2009, cadangan batu bara di area ini diperkirakan baru akan habis tahun 2030.

Pada tahun-tahun awal, penambangan hanya empat lima meter sudah mendapatkan batu bara berkualitas. Makin ke dalam, makin besar biaya operasional. Di kedalaman lebih 300 meter, penambangan batu bara tak bisa efisien. Namun, KPC masih memiliki kawasan konsesi yang luas. Dari sumber daya batu bara sebesar 7 miliar ton lebih, cadangan batu bara yang bisa diangkat sekitar 1,178 miliar ton, yang tersebar di Sangatta 947 juta ton dan Bengalon 230 juta ton. Bengalon juga terletak di Kutai Timur.

ADVERTISEMENT

Ekskavator milik PT Kaltim Prima Coal.

Sejak 2017, Liebherr tak lagi digunakan karena boros bahan bakar dan mahalnya perawatan. Untuk mengeruk dan mengangkat bebatuan, KPC menggunakan alat dump truck buatan Jepang, yakni Hitachi Euclid EH4500 dan beberapa jenis ekskavator lainnya. Liebherr nomor seri yang sama hanya ada lima di dunia, tiga di antaranya ada di KPC, di Australia.

Setiap hari, kegiatan di tambang ini melibatkan sembilan ekskavator penggali tanah dan 76 truk pengeruk batu bara. Bongkahan tanah dan batu yang harus dipindahkan serta batu bara diangkut oleh 200 dump trucks. Kapasitas angkut setiap dump truck 290 ton. Total kendaraan alat berat di KPC sekitar 2.560 unit.

Semua kendaraan berat ini dioperasikan para sopir Indonesia, di antaranya 25 penempuan. "Perempuan yang sudah menikah pun tetap dipercayakan untuk mengemudikan kendaraan selama mereka sehat bugar dan bersedia bekerja," kata koordinator pekerja di area tambang.

Saat kondisi alam mendukung, tidak ada hujan, iringan dump truck tampak bergerak indah. Setiap dump truck mampu mengangkat 290 ton beban. Di samping harga dump truck sekitar US$ 2 juta, biaya perawatan juga mahal. Satu ban dump truck dengan tinggi 3,4 meter itu sekitar US$ 50.000. Satu dump truck menggunakan enam ban.

Dump truck milik PT kaltim Prima Coal, satu unit seharga US$ 2 juta. Untuk satu ban saja harganya US$ 50.000.

Setiap hari, ratusan ribu material diangkut oleh berbagai jenis kendaraan berat. Material tanah dan bebatuan disimpan di lokasi tertentu dan setelah penambangan selesai, material itu dikembalikan ke tempat asal. Sedang sekitar 170.000 ton batu bara diangkut ke lokasi pengolahan setiap hari.

Efisien
Dari area tambang, batu bara dibawa oleh dump truck ke coal processing plant (CPP). Di tempat ini, bongkahan batu bara berbagai ukuran dibersihkan dan dihancurkan untuk menghasilkan produk ukuran kecil sesuai standar, sekitar 50 milimeter. Sebagian batu bara juga ditampung di run of mine (ROM) di area dekat crusher atau mesin giling. Pada saatnya, batu bara di ROM juga diproses di CPP.

Batu bara yang sudah diproses di CPP diangkut ke pelabuhan lewat double overland conveyor (OLC) berkapasitas 8.000 ton per jam. OLC dengan panjang sekitar 13,5 km ini serupa kereta yang terus bergerak hampir 24 jam. Pengangkutan lewat kereta jauh lebih efisien dibanding menggunakan truk.

Conveyor milik PT Kaltim Prima Coal yang menyalurkan batubara sejauh 15 km menuju mother vessel.

Ada dua pelabuhan batu bara milik KPC, yakni Pelabuhan Tanjung Bara berkapasitas 1,7 juta ron dan Pelabuhan Lubuk Tutung berkapasitas 120.000 ton. Di Pelabuhan Tanjung Bara bersandar kapal-kapal besar skala mother vessel. Sedang di pelabuhan Lubuk Tutung, batu bara diambil oleh kapal tongkang untuk selanjutnya dipindahkan ke kapal besar yang menunggu di laut dalam.

Saat Beritasatu.com berkunjung ke Pelabuhan Tanjung Bara, Sabtu (27/4/2019), sedang bersandar sebuah mother vessel dengan panjang 200 meter lebih dan lebar 32 meter serta berkapasitas 70.000 ton. Kapal ini mengangkat batu bara pesanan PT PLN untuk untuk PLTU Tanjung Jati, Kepada, Jawa Tengah. Kapal besar ini memiliki tujuh palka, yakni tempat pendampungan barang.

Batu bara yang diangkut lewat OLC tak semuanya langsung masuk kapal atau tongkang. Karena itu, di pelabuhan juga ada tempat penampungan.

Terbesar
Dengan produksi 57 juta ton tahun 2018, KPC adalah produsen batu bara terbesar di Indonesia. Perusahaan juga memperoleh area konsesi pertambangan seluas 84.938 ha di Sangatta, Benyamin, dan Rantau Pulung, Kutai Timur, Kalimantan Timur. Penambangan batu bara anak perusahaan Bumi Resources ini merupakan salah satu open pit mining terbesar di dunia.

Sekitar delapan pit dikelola langsung oleh KPC, sedang tujuh pit lainnya dikelola kontraktor. Di area konsesi ini, KPC memperoleh batu bara kualitas tinggi, yakni jenis prima, pinang, dan melawan. Tahun ini, produksi KPC akan ditingkatkan menjadi 62 juta ton.

KPC, kata Corporate Secretary Bumi Resources Dileep Srivastava, selalu mematuhi regulasi pemerintah, termasuk ketentuan domestic market obligation (DMO) 20-25%. Pada tahun 2018, penjualan KPC ke dalam negeri mencapai 28,5%.

Corporate Secretary PT Bumi Resources Dileep Srivastava (kanan) menunjuk kegiatan pemuatan batubara KPC ke mother vessel, kapal raksasa dengan panjang 200 meter. Batubara akan diangkut ke PLTU Tanjung Jati. Tanjung Bara, Sangatta, Sabtu, 27 April 2019.

Sekitar 20,5% produk batu bara KPC diekspor ke India. RRT mengimpor 15%, Jepang 9,5%, Filipina 5,6%, dan selebihnya Malaysia, Taiwan, Thailand, Korsel, Italia, Pakistan, dan Brunei. Pengguna terbesar batu bara KPC adalah pembangkit listrik 68,4%. Selebihnya adalah penjualan kepada trading company 28%, pabrik baja 1,9%, dan industri 1,7%.

Penjualan batubara Bumi Resources (KPC dan Arutmin) tahun 2018 sebesar 80,3 juta ton. Perusahaan terbuka ini meraih pendapatan US$ 4,92 miliar pada tahun yang sama.

KPC dan Arutmin, dua anak perusahaan Bumi Resources merupakan penyumbang terbesar ke kas negara. Pada tahun 2018, Bumi mengontribusi US$ 1,4 miliar ke kas negara lewat pajak, royalti, iuran pegawai, dan subsidi. Bumi membayar royalti 4,5 kali lebih besar dari Freeport Indonesia.

Pada tahun 2017, Bank Indonesia memberikan award kepada KPC sebagai perusahaan Indonesia dengan kontribusi terbesar terhadap devisa. Pada tahun yang sama, Kementerian Keuangan juga memberikan apresiasi kepada perusahaan ini atas kontribusinya terhadap penerimaan negara bukan pajak.

Pemegang saham KPC adalah Bumi Resources 51%, Tata Power 30%, dan China Investment Cooperation (CIC) 19%. Meski Bumi menjadi pemegang saham terbesar, demikian Corporate Secretary Bumi Resources Dileep Srivastava, sejak 2007, pengelolaan KPC berdasarkan musyawarah mufakat. Pihak Tata didaulatkan sebagai CFO, pihak CIC Finance sebagai finance manager.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT