Joe Biden Dilantik, Ini Dampaknya untuk Ekonomi Indonesia
Logo BeritaSatu
INDEX

BISNIS-27 526.524 (-11.32)   |   COMPOSITE 6376.76 (-85.96)   |   DBX 1366.47 (-4.13)   |   I-GRADE 184.394 (-4.05)   |   IDX30 516.608 (-10.51)   |   IDX80 138.726 (-2.53)   |   IDXBUMN20 405.249 (-8.22)   |   IDXESGL 142.142 (-2.59)   |   IDXG30 145.757 (-3.33)   |   IDXHIDIV20 455.745 (-7.55)   |   IDXQ30 148.268 (-2.8)   |   IDXSMC-COM 300.72 (-2.17)   |   IDXSMC-LIQ 363.064 (-5.5)   |   IDXV30 136.038 (-1.55)   |   INFOBANK15 1074.63 (-26.5)   |   Investor33 444.938 (-9.47)   |   ISSI 184.203 (-2.63)   |   JII 631.94 (-13.58)   |   JII70 222.617 (-4.41)   |   KOMPAS100 1239.85 (-24.1)   |   LQ45 968.215 (-19.75)   |   MBX 1728.57 (-26.45)   |   MNC36 329.564 (-6.33)   |   PEFINDO25 328.624 (-5.07)   |   SMInfra18 313.805 (-5.25)   |   SRI-KEHATI 378.364 (-8.61)   |  

Joe Biden Dilantik, Ini Dampaknya untuk Ekonomi Indonesia

Selasa, 19 Januari 2021 | 17:00 WIB
Oleh : Herman / FMB

Jakarta, Beritasatu.com – Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Bidang Hubungan Internasional, Shinta Widjaja Kamdani mengungkapkan, terpilihnya Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) akan memberikan sejumlah peluang dan juga tantangan bagi Indonesia.

Dikatakan Shinta, pelaku usaha menilai era Joe Biden akan lebih menjanjikan untuk pertumbuhan dan peningkatan relasi ekonomi Indonesia - AS dibandingkan era Donald Trump.

Joe Biden rencananya akan dilantik secara resmi sebagai Presiden AS pada 20 Januari 2021. Sebelumnya, Biden dua kali menjadi Wakil Presiden AS mendampingi Barack Obama (2008-2016).

“Proyeksi kami, akan ada peningkatan kapasitas berusaha dengan AS, peningkatan permintaan pasar AS dan pasar global seiring program stimulus dan normalisasi ekonomi AS,” kata Shinta Kamdani dalam webinar "Prospek Hubungan Ekonomi dan Perdagangan Indonesia-AS di Era Biden", Selasa (19/1/2021).

Perang dagang antara AS-Tiongkok juga diprediksi akan terus berlanjut. Menurut Shinta, hal ini bisa menjadi peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi AS di sektor manufaktur.

Namun, Shinta melihat ada potensi peningkatan tuduhan antidumping, antisubsidi, dan kebijakan lain oleh AS. Hal ini berkaca dari pengalaman di era Barack Obama saat Joe Biden menjadi wakil presiden.

“Kalau kita ingat di era Obama, Indonesia mengalami banyak tuduhan antidumping dan antisubsidi, khususnya untuk biofuel yang saat ini tidak bisa lagi diekspor ke AS karena tuduhan anti-subsidinya dimenangkan AS di level domestik maupun di level WTO,” kata Shinta.

Pada 2019, AS juga telah memasukkan Indonesia sebagai negara maju. Menurut Shinta, status ini akan membuat Indonesia menjadi lebih sulit memenangkan tuduhan anti-subsidi di AS secara bilateral karena marjin perhitungan subsidi yang dipersempit.

Karenanya, Indonesia harus memastikan agar kebijakan nasional, khususnya yang terkait produk ekspor unggulan betul-betul sejalan dengan aturan perdagangan internasional untuk menghindari peningkatan tuduhan AS.

“Selain itu, kita juga perlu memanfaatkan omnibus law dan reformasi struktural untuk meningkatkan hubungan bilateral Indonesia - Amerika Serikat. Yang terpenting, saya rasa kita harus menyadari bahwa Biden akan selalu mendahulukan kepentingan AS. Dia tidak akan segan-segan mematikan kepentingan negara lain misalnya Indonesia, bila kepentingan Indonesia tidak sejalan dengan kepentingan AS,” kata Shinta.

Sementara itu menurut Direktur Perundingan Bilateral Kementerian Perdagangan, Ni Made Ayu Marthini, kehadiran Biden sebagai Presiden AS diprediksi tidak akan mengubah banyak arah kebijakan ekonomi dan perdagangan AS, hanya pendekatannya saja yang berbeda.

“Arah kebijakannya tetap sama untuk melayani kepentingan AS. Namun, gaya atau pendekatannya berbeda, lebih multilateralism, lebih friendly, lebih pasti,” kata Ni Made.

Menurutnya, yang perlu dilakukan saat ini adalah menentukan fokus. Misalnya dalam jangka pendek yaitu mengisi pasar AS yang ditinggalkan Tiongkok atau negara-negara lainnya. Kemudian dalam jangka menengah atau panjang menjadi bagian dari supply chain AS dengan menciptakan iklim usaha yang kondusif untuk investasi dari AS.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2020 ekspor dari Indonesia ke AS mencapai US$ 18,6 miliar. Sedangkan impor dari AS ke Indonesia sebesar US$ 7,4 miliar.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Menkop dan UKM Tingkatkan Kerja Sama di 5 Destinasi Super Prioritas

Kemkop dan UKM bersama Kemperekraf berkomitmen untuk konsisten mengembangkan potensi di lima Destinasi Super Prioritas.

EKONOMI | 19 Januari 2021

Genjot Pendapatan, AP II Cari Pengelola Tunggal Iklan Outdoor

AP II akan membuka kerja sama pengelolaan iklan outdoor di 13 cabang bandara selama 10 tahun.

EKONOMI | 19 Januari 2021

Ini 5 Tantangan Ekonomi Syariah di 2021

Perlu strategi khusus untuk membuat pangsa pasar keuangan syariah menjadi lebih besar, setidaknya mencapai 20%.

EKONOMI | 19 Januari 2021

Ini 5 Saham Pilihan Investor Asing Hari Ini

PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP) mencatat beli bersih investor asing sebesar Rp 55,5 miliar. Saham INKP naik 2,2% ke Rp 12.775.

EKONOMI | 19 Januari 2021

Rupiah Relatif Stabil di Rp 14.050

Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan sore hari ini, Selasa (19/1/2021), terpantau menguat tipis ke kisaran Rp 14.050.

EKONOMI | 19 Januari 2021

Bursa Eropa Menguat, Investor Pantau Laporan Keuangan Emiten-emiten Kakap

Indeks Stoxx600 Eropa naik 0,27%, DAX Jerman naik 0,36%, FTSE Inggris naik 0,48%, CAC Prancis naik 0,24%, FTSE MIB Italia naik 0,45%.

EKONOMI | 19 Januari 2021

Mayoritas Bursa Asia Menguat Jelang Pidato Calon Menkeu AS

Indeks Nikkei 225 naik 1,39%, indeks komposit Shanghai turun 0,83%, Hang Seng Hong Kong naik 2,7%, ASX 200 Australia naik 1,19%, Kospi Korsel naik 2,61%.

EKONOMI | 19 Januari 2021

Asing Borong Saham, IHSG Malah Melemah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 1,06% ke kisaran 6.321,9 pada akhir perdagangan hari ini, Selasa (19/1/2021).

EKONOMI | 19 Januari 2021

Menuju Hunian Pintar Incaran Milenial dengan Smart Lock

Dalam dekade terakhir, perkembangan teknologi di dunia berkembang sangat pesat.

EKONOMI | 19 Januari 2021

Survei BI: Penyaluran Kredit 2021 Diprediksi Tumbuh 7,3%

Standar penyaluran kredit pada triwulan I-2021 diperkirakan tidak seketat periode sebelumnya.

EKONOMI | 19 Januari 2021


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS