Sejumlah UMKM Tekstil Orientasi Ekspor Mampu Bertahan Saat Pandemi
Kamis, 16 September 2021 | 16:15 WIB
Jakarta, Beritasatu.com- Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) menjadi salah satu sektor yang mengalami pukulan terdalam baik untuk pasar domestik maupun di pasar global akibat pandemi Covid-19. Meski demikian, sejumlah pelaku usaha UMKM tekstil mampu mempertahankan kinerja ekspornya.
Salah satunya CV Pria Tampan UKM berorientasi ekspor batik asal Solo ini mampu melakukan pengiriman kain batik ke luar negeri senilai US$ 467.000 per Agustus 2021, atau naik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya US$ 463.000. Selama 3 tahun terakhir, mayoritas negara tujuan UKM asal Solo ini adalah Kanada dan Amerika Serikat. Bulir-bulir putih yang timbul pada kain batik yang berasal dari proses pewarnaan kain merupakan ciri khas yang membuatnya diminati pasar mancanegara.
"Saat ini kita dihadapkan pada situasi pandemi Covid-19, sehingga sangat penting untuk tetap optimistis dan memiliki pola pikir positif bahwa kita dapat melewati situasi saat ini. Mau tidak mau harus lebih jeli dalam memanfaatkan segala peluang yang ada, sekecil apa pun itu," kata CEO dari CV Pria Tampan Andri Setyawan, dalam keterangan tertulis, Kamis (16/9/2021)
Selain itu, kata dia, harus memanfaatkan segala bantuan yang diberikan pemerintah seperti yang dia manfaatkan lewat program Penugasan Khusus Ekspor (PKE) UKM dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). "Bantuan tersebut sangat membantu kita dalam menjalankan usaha khususnya ditengah situasi seperti ini," ujar dia.
Berdasarkan kajian IEB Institute, sektor TPT berperan penting terhadap perekonomian Indonesia. Kontribusi TPT terhadap total produk domestik bruto (PDB) nasional 2020 sebesar 1,21% (dari 1,26% pada 2019), sedangkan kontribusi ekspor TPT terhadap total ekspor turun menjadi 6,12% di 2020 (dari 7,15% pada 2019). Dari sisi total tenaga kerja (TK) sektor TPT berada pada kisaran 3 juta pekerja yang mencakup sekitar 2-3% dari total TK Indonesia.
Dalam kacamata ekspor, industri TPT tertekan dari tiga sisi baik dari permintaan, suplai, dan distribusi di antaranya akibat kelangkaan kontainer yang mendorong kenaikan harga.
Sepanjang tahun 2020 ekspor TPT hanya mencapai US$ 10,55 miliar, turun (-17,7% yoy) dari tahun 2019. Penurunan tersebut terjadi di berbagai produk yaitu segmen benang (-27,3% yoy), kain (-15,7% yoy) dan pakaian jadi (-15,1% yoy). Kontribusi penurunan terbesar berasal dari penurunan pakaian jadi yang memiliki porsi 66% dari total ekspor TPT Indonesia. Tekanan terhadap industri TPT setidaknya masih terjadi hingga paruh pertama tahun 2021. Kinerja TPT sedikit terbantu oleh adanya permintaan alat pelindung diri (APD) untuk keperluan penanganan Covid-19. Namun permintaan terhadap APD tersebut tidak cukup besar untuk menutupi turunnya penjualan produk produk TPT secara keseluruhan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




