Covid-19 Bisa Tinggalkan Dampak Permanen di Otak, Ini Temuannya
Kamis, 26 Februari 2026 | 13:07 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Covid-19 tidak hanya menyerang sistem pernapasan, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang pada otak, bahkan pada orang yang merasa sudah pulih sepenuhnya. Temuan terbaru menunjukkan virus ini bisa meninggalkan perubahan permanen pada sistem saraf tanpa disadari.
Seiring waktu, para peneliti menemukan bahwa infeksi virus SARS-CoV-2 berdampak ke berbagai organ tubuh, termasuk otak. Studi dari Griffith University melalui National Centre for Neuroimmunology and Emerging Diseases mengungkap perubahan struktur otak tidak hanya terjadi pada penderita long COVID, tetapi juga pada mereka yang tidak mengalami gejala lanjutan.
Penelitian tersebut melibatkan tiga kelompok partisipan, yakni penderita long COVID, individu yang sudah sembuh tanpa gejala sisa, serta kelompok yang belum pernah terinfeksi. Para peneliti menggunakan teknologi MRI multimodal untuk melihat bagian otak yang berperan penting dalam fungsi memori dan kognitif.
Hasilnya menunjukkan adanya perubahan pada zat kimia saraf, sinyal otak, hingga struktur jaringan, bahkan pada orang yang merasa benar-benar sudah pulih. Temuan ini mengindikasikan bahwa efek virus bisa berlangsung diam-diam di dalam tubuh.
Salah satu perubahan yang ditemukan adalah peningkatan intensitas sinyal myelin di beberapa area otak pada penderita long COVID. Kondisi ini diduga sebagai upaya otak memperbaiki diri atau melakukan remyelinasi akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh infeksi.
Menariknya, perubahan serupa juga terlihat pada kelompok yang tidak memiliki gejala. Meski merasa sehat, otak mereka menunjukkan perbedaan dibandingkan individu yang tidak pernah terinfeksi, menandakan adanya proses kompensasi yang tidak disadari.
Di tengah temuan ini, Covid-19 juga dikaitkan dengan gangguan metabolik di otak. Ketidakseimbangan ini berhubungan dengan gejala seperti brain fog, gangguan tidur, hingga kelelahan kronis, terutama pada area batang otak yang berperan penting dalam fungsi dasar tubuh.
Peneliti utama, Dr. Kiran Thapaliya, menegaskan bahwa orang tanpa gejala pasca-infeksi tetap berpotensi mengalami efek jangka panjang pada otak. Artinya, hasil tes negatif bukan berarti tubuh sepenuhnya kembali seperti semula.
Meski masih membutuhkan penelitian lanjutan dengan skala lebih besar, temuan ini menjadi peringatan penting bahwa Covid-19 bukan sekadar penyakit sementara. Dampaknya bisa bertahan lama dan memengaruhi fungsi otak secara perlahan.
Dengan temuan tersebut, kewaspadaan terhadap Covid-19 tetap diperlukan, termasuk bagi mereka yang hanya mengalami gejala ringan atau bahkan tanpa gejala sama sekali.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Pendakian Gunung Gede Pangrango Dibuka Lagi pada 13 April 2026




