ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Varian Covid-19 Cicada Muncul di Banyak Negara, Ini Gejalanya

Senin, 30 Maret 2026 | 17:08 WIB
CR
TE
Penulis: Caesi Rosprianti | Editor: TCE
Ilustrasi Covid-19 varian Cicada.
Ilustrasi Covid-19 varian Cicada. (X.com/Pop Base)

Jakarta, Beritasatu.com - Peningkatan kasus varian baru Covid-19 yang dikenal dengan sebutan Cicada terjadi di berbagai negara. Virus ini awalnya terdeteksi di Afrika Selatan, kemudian menyebar ke Amerika Serikat hingga menjangkau Kawasan Eropa.

Saat ini, varian Cicada telah terdeteksi di sedikitnya 23 negara. Peningkatan kasus di berbagai wilayah membuat para ahli kesehatan memberikan perhatian serius terhadap potensi dampaknya.

Kondisi ini kembali menegaskan pentingnya kewaspadaan serta respons cepat dalam menghadapi ancaman kesehatan global.

ADVERTISEMENT

Apa Itu Varian Covid-19 Cicada?

Dikutip dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), varian Covid-19 Cicada merupakan subvarian dari Covid-19 turunan Omicron dengan kode ilmiah BA.3.2.

Varian ini pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan pada November 2024, lalu kembali meningkat secara global sepanjang 2025 hingga 2026. Nama “Cicada” bukan penamaan resmi dari World Health Organization (WHO).

Julukan ini muncul karena pola kemunculannya yang menyerupai serangga cicada, yang muncul ke permukaan setelah lama berada di bawah tanah. BA.3.2 menunjukkan pola serupa, muncul kembali dalam jumlah besar setelah sebelumnya jarang terdeteksi.

Salah satu karakter paling menonjol dari varian ini terletak pada jumlah mutasi yang sangat tinggi. BA.3.2 memiliki sekitar 70 mutasi hingga 75 mutasi pada protein spike. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan varian Omicron sebelumnya seperti JN.1 dan LP.8.1 yang memiliki sekitar 30 mutasi hingga 40 mutasi.

Jumlah mutasi yang tinggi membuat varian ini secara genetik sangat berbeda. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran di kalangan ilmuwan karena berpotensi memengaruhi cara virus berinteraksi dengan sistem imun manusia.

Varian Cicada juga menunjukkan indikasi kemampuan menghindari perlindungan imun dari vaksin maupun infeksi sebelumnya, kondisi yang dikenal sebagai immune escape. Hal ini membuat para ahli menaruh perhatian besar terhadap efektivitas perlindungan yang sudah ada.

Meski begitu, vaksin yang tersedia saat ini masih memberikan perlindungan terhadap gejala berat, kebutuhan rawat inap, serta risiko kematian. Para ahli tetap menekankan pentingnya vaksinasi sebagai langkah perlindungan utama.

Dari sisi penyebaran, varian ini telah terdeteksi di lebih dari 20 negara dan terus dipantau oleh lembaga kesehatan global. Hingga saat ini, penelitian masih terus berlangsung untuk memahami karakteristiknya secara menyeluruh.

WHO mengklasifikasikan varian ini sebagai variant under monitoring. Status ini menunjukkan varian belum masuk kategori berbahaya tingkat tinggi, tetapi tetap berada dalam pengawasan ketat.

Meski memiliki banyak mutasi, belum ditemukan bukti kuat yang menunjukkan varian Cicada menyebabkan penyakit lebih parah dibandingkan varian sebelumnya. Data yang tersedia masih terbatas dan terus diperbarui.

Laporan dari Northeastern Global News juga menunjukkan varian ini tidak berkaitan dengan peningkatan tingkat keparahan penyakit maupun angka kematian yang lebih tinggi berdasarkan pengamatan awal para ahli.

Namun, potensi risiko tetap ada. Jika varian BA.3.2 berkembang lebih jauh, dampaknya dapat meningkat karena kemampuannya dalam menghindari sistem kekebalan tubuh.

Gejala Varian Covid-19 Cicada

Dari sisi gejala, varian Covid-19 Cicada tidak menunjukkan perbedaan mencolok dibandingkan varian Covid-19 lain. Gejala yang muncul umumnya berkaitan dengan saluran pernapasan atas serta kondisi tubuh secara umum.

Gejala yang sering dilaporkan, meliputi demam, batuk, kelelahan, sakit kepala, nyeri otot, serta pilek atau hidung tersumbat. Selain itu, beberapa pasien mengalami bersin, sakit tenggorokan, serta penurunan indera penciuman atau perasa.

Beberapa laporan menyebut sakit tenggorokan dengan intensitas cukup tinggi lebih sering muncul pada varian ini, meski belum bisa dijadikan ciri khas pasti. Seperti varian sebelumnya, infeksi tanpa gejala juga dapat terjadi.

Seseorang dapat membawa dan menularkan virus tanpa menyadari kondisi tersebut. Situasi ini berkontribusi terhadap penyebaran yang sulit terdeteksi di masyarakat.

Para ahli juga mengingatkan potensi lonjakan kasus musiman, terutama jika tingkat vaksinasi menurun atau protokol kesehatan tidak dijalankan dengan baik. Prediksi ini masih dalam tahap pengamatan dan belum menjadi kepastian.

Varian Covid-19 Cicada menunjukkan karakter unik dengan jumlah mutasi tinggi yang berpotensi meningkatkan kemampuan penularan. Meski begitu, belum ada bukti kuat yang menunjukkan peningkatan tingkat keparahan penyakit.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT