Serangan Israel Tewaskan 24 Siswa, Pro Iran Ancam Pangkalan AS
Sabtu, 28 Februari 2026 | 18:56 WIB
Minab, Beritasatu.com – Tragedi kemanusiaan yang memilukan melanda wilayah Iran selatan pada Sabtu (28/2/2026). Jumlah korban jiwa dalam serangan udara Israel yang menghantam sebuah fasilitas pendidikan di Provinsi Hormozgan dilaporkan meningkat drastis. Berdasarkan data terbaru, puluhan nyawa pelajar tidak berdosa melayang dalam insiden tersebut.
Kantor berita Fars Iran, Sabtu (28/2/2026) melaporkan bahwa jumlah siswa yang tewas dalam serangan di sebuah sekolah dasar putri di Kota Minab kini telah mencapai 24 orang. Angka ini melonjak tajam dari laporan awal yang menyebutkan lima korban jiwa. Serangan yang menyasar area pemukiman dan pendidikan ini memicu gelombang kecaman internasional karena jatuhnya korban sipil dari kalangan anak-anak.
Hingga saat ini, suasana di Minab masih diselimuti duka mendalam. Tim penyelamat terus berupaya menyisir puing-puing bangunan sekolah untuk memastikan tidak ada korban lain yang tertimbun. Otoritas setempat menyatakan bahwa banyak siswa lainnya mengalami luka berat dan tengah menjalani perawatan intensif di rumah sakit terdekat.
Situasi kian memanas tidak hanya di Iran, tetapi juga merembet ke wilayah Irak. Kelompok paramiliter berpengaruh, Kataib Hezbollah, secara resmi mengeluarkan ancaman akan segera melakukan serangan balasan terhadap pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat (AS) yang tersebar di wilayah Irak.
Pernyataan ini muncul sebagai respons langsung atas serangan udara yang menargetkan pangkalan mereka di Jurf al-Sakher (juga dikenal sebagai Jurf al-Nasr), Irak selatan. Insiden di pangkalan tersebut dilaporkan telah menewaskan dua pejuang dari kelompok tersebut.
“Kami tidak akan tinggal diam atas agresi ini. Respons terhadap pangkalan AS akan segera dimulai sebagai balasan atas darah para pejuang kami,” ujar juru bicara kelompok tersebut dalam pernyataan resminya.
Kataib Hezbollah merupakan salah satu elemen terbesar dalam Pasukan Mobilisasi Populer (PMF atau Al-Hashd al-Sha'abi). Kelompok ini memiliki sejarah panjang di Irak sejak didirikan pada tahun 2014 untuk membendung kemajuan kelompok teroris ISIL (ISIS). Namun, dalam beberapa tahun terakhir, fokus mereka semakin bergeser pada penolakan kehadiran militer asing, khususnya Amerika Serikat, di kawasan tersebut.
Keterlibatan kelompok proksi di Irak dalam konflik antara Israel dan Iran ini menandakan meluasnya perang regional yang ditakutkan oleh komunitas internasional. Dengan meningkatnya jumlah korban sipil di Iran dan ancaman serangan balik di Irak, kawasan Timur Tengah kini berada di ambang perang terbuka yang lebih besar pada awal tahun 2026 ini.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
MK: Kerugian Negara Ditentukan BPK!
Pilot Hilang, AS Hadapi Tantangan Berat Pencarian
Lagi-lagi AS-Israel Serang Fasilitas Nuklir Iran
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Salah Bakal Hengkang dari Liverpool, Slot: Jangan Salahkan Saya!




