ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Selat Hormuz Lumpuh: Ratusan Tanker Terjebak, Pasokan Minyak Terancam

Minggu, 1 Maret 2026 | 19:24 WIB
SL
SL
Penulis: Surya Lesmana | Editor: LES
Kapal tanker Inggris disita Iran di Selat Hormuz.
Kapal tanker Inggris disita Iran di Selat Hormuz. (Financial Times/Dokumentasi)

Dubai, Beritasatu.com – Jalur nadi energi dunia, Selat Hormuz, kini berada dalam kondisi kritis. Data perkapalan terbaru menunjukkan setidaknya 150 kapal tanker raksasa, termasuk pengangkut minyak mentah dan gas alam cair (LNG), terdampar di perairan terbuka Teluk. Kemacetan massal ini terjadi menyusul serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026.

Situasi ini telah menjerumuskan kawasan Timur Tengah ke dalam pusaran perang baru yang berdampak langsung pada stabilitas ekonomi global. Berdasarkan data pelacakan kapal dari platform MarineTraffic, ratusan kapal tersebut kini hanya bisa berlabuh statis di kedua sisi titik rawan (chokepoint) paling strategis di dunia tersebut.

Laporan yang dihimpun oleh kantor berita Reuters, Minggu (1/3/2026) mengungkapkan bahwa puluhan kapal tanker berkumpul di lepas pantai negara-negara penghasil minyak utama, termasuk Irak, Arab Saudi, serta raksasa LNG, Qatar. Di sisi lain selat, puluhan kapal lainnya juga terlihat diam tak bergerak, menunggu kepastian keamanan untuk melintas.

ADVERTISEMENT

"Kondisinya benar-benar tak menentu, kapten kapal mutusin buat berhenti dulu daripada ambil risiko kena sasaran rudal," ujar seorang sumber di otoritas pelabuhan regional dalam sebuah kutipan lisan yang menggambarkan kepanikan di lapangan.

Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilewati oleh hampir sepertiga dari total pengiriman minyak dunia lewat laut. Pemblokiran atau penghentian aktivitas di jalur ini secara otomatis memicu kekhawatiran akan meroketnya harga minyak mentah dan kelangkaan gas di pasar internasional.

Para analis energi memperingatkan bahwa jika situasi ini berlangsung lebih dari satu minggu, cadangan energi di negara-negara pengimpor besar seperti China, Jepang, dan beberapa negara Eropa akan mulai menipis. Ketidakpastian ini diperparah dengan status siaga militer di sepanjang pesisir Iran yang membuat perusahaan asuransi perkapalan menarik perlindungan mereka bagi kapal yang melintasi zona tersebut.

Pergerakan kapal yang terhenti ini merupakan respons langsung terhadap eskalasi militer antara Iran dan aliansi AS-Israel. Sejak serangan Sabtu (28/2/2026) yang melumpuhkan sebagian komando militer Iran, risiko serangan balasan di perairan Teluk meningkat tajam. Kapal-kapal komersial kini menjadi target potensial dalam perang asimetris yang mungkin dilancarkan oleh proksi-proksi regional.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanda-tanda de-eskalasi yang memungkinkan pembukaan kembali jalur pelayaran secara normal. Dunia kini menanti langkah diplomasi internasional untuk mencegah kelumpuhan total pada distribusi energi global yang dapat memicu krisis ekonomi yang lebih luas.
 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT