ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Kuasa Hukum Pegi Setiawan: Kenapa Polisi Tak Pernah Membuka Rekaman CCTV Kasus Pembunuhan Vina?

Minggu, 30 Juni 2024 | 06:13 WIB
CK
R
Penulis: Candra Kurnia | Editor: RZL
Kuasa hukum Pegi Setiawan, Toni RM menyebut petugas kepolisian mengonfirmasi adanya CCTV pembunuhan Vina sebagai barang bukti.
Kuasa hukum Pegi Setiawan, Toni RM menyebut petugas kepolisian mengonfirmasi adanya CCTV pembunuhan Vina sebagai barang bukti. (Beritasatu.com/Candra Kurnia)

Cirebon, Beritasatu.com - Kasus pembunuhan Vina dan Eky di Cirebon, Jawa Barat pada 2016 lalu masih menyisakan tanda tanya besar. Meskipun sudah berlalu beberapa tahun, kejadian tragis ini belum juga terpecahkan dan benang kusut misteri justru kian kusut ketika berusaha diurai.

Salah satu aspek yang mencuat adalah keberadaan rekaman kamera pengawas (CCTV) yang tidak pernah diperiksa secara detail dalam proses penyelidikan.

Menurut kuasa hukum Pegi Setiawan, Toni RM, dalam salinan putusan sidang Pengadilan Negeri Cirebon terhadap delapan terpidana, salah satu saksi bernama Dodi Irwanto yang juga seorang petugas kepolisian mengonfirmasi adanya CCTV sebagai barang bukti.

ADVERTISEMENT

Dodi bersama tiga orang polisi lainnya, yakni Aiptu Rudiana (ayah Eky), Bripka Gugun, dan Brigadir Andi Saprudi menjadi petugas polisi yang melakukan pengamanan terhadap delapan terduga pelaku pembunuhan.

"Dalam putusan tersebut disebutkan bahwa saksi Dodi Irwanto telah mengecek CCTV di lokasi kejadian namun belum pernah dibuka untuk penyelidikan lebih lanjut," ungkap Toni kepada Beritasatu.com pada Minggu (30/6/2024).

Toni juga menambahkan, saksi lainnya, yakni Bripka Gugun Gumilar, juga melaporkan hal yang serupa. Meskipun CCTV tersebut sudah ada, tetapi tidak pernah dianalisis atau dijadikan bagian dari proses penyelidikan yang tegas.

Menurut dugaan Toni, keputusan untuk tidak mendalami CCTV ini bisa menjadi bukti bahwa penyidik mungkin terburu-buru dalam menangkap dan memproses tersangka, sehingga bukti krusial seperti CCTV tidak diperhatikan.

"Kami menduga bahwa CCTV ini sebenarnya ada sejak awal, tetapi ditemukan belakangan setelah penangkapan delapan orang tersebut. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa mungkin ada kesalahan dalam proses penangkapan atau bahkan penyalahgunaan kekuasaan yang mengarah kepada tersangka yang salah," jelas Toni.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT