ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Dodol Betawi Kampung Ceger Bekasi Laris Manis Saat Ramadan

Rabu, 4 Maret 2026 | 05:44 WIB
ES
BW
Penulis: Eka Jaya Saputra | Editor: BW
Produksi dodol Betawi di Kampung Ceger, Bekasi, melonjak saat Ramadan 2026.
Produksi dodol Betawi di Kampung Ceger, Bekasi, melonjak saat Ramadan 2026. (Beritasatu.com/Eka Jaya Saputra)

Bekasi, Beritasatu.com — Aroma manis dodol Betawi kembali menyeruak dari sentra industri rumahan di Kampung Ceger, Desa Sukajaya, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi. Memasuki Ramadan, aktivitas produksi meningkat tajam seiring membeludaknya pesanan menjelang Idulfitri.

Asap tipis terlihat mengepul dari kuali-kuali besar yang berjajar di dapur produksi. Bunyi kayu pengaduk yang terus beradu dengan dinding kuali menjadi irama khas yang menandai kesibukan para perajin menjaga cita rasa tradisional.

Wulan (39), salah satu perajin dodol Betawi di Kampung Ceger, mengaku lonjakan pesanan sudah terasa sejak awal puasa. Ia menyebut produksi tahun ini meningkat signifikan dibanding hari biasa.

ADVERTISEMENT

“Untuk Ramadan menjelang Lebaran tahun ini, produksi dodol kami meningkat hingga 100%. Hari ini kami memproduksi dodol original, ketan hitam, dan cokelat,” ujar Wulan saat ditemui di lokasi usahanya, Selasa (3/3/2026).

Dalam sehari, Wulan mengoperasikan lima kuali dengan kapasitas sekitar 90 kilogram adonan per kuali. Artinya, total produksi hariannya mencapai kurang lebih 450 kilogram. Selama Ramadan, jumlah itu bisa menembus hingga 12 ton, dengan puncak penjualan biasanya terjadi pada 10 hari terakhir menjelang Idulfitri.

Varian rasa menjadi daya tarik tersendiri. Selain original, tersedia pilihan ketan hitam dan cokelat. Harga jualnya berkisar antara Rp 40.000 hingga Rp 70.000 per kilogram, tergantung jenis dan kualitas. Pembeli datang dari berbagai wilayah Jabodetabek seperti Bogor, Bekasi Kota, Pondok Gede, hingga Karawang.

“Yang terasa naik itu gula putih, tetapi alhamdulillah bahan lain masih normal,” katanya.

Untuk memenuhi lonjakan produksi, Wulan menambah tenaga kerja menjadi sekitar 30 orang selama musim Ramadan. Padahal, pada hari biasa ia hanya mempekerjakan lima hingga tujuh karyawan.

Hal serupa juga dirasakan Dobleh (62), perajin dodol Betawi lain di kawasan yang sama. Ia menyebut permintaan meningkat secara bertahap sejak awal Ramadan. “Alhamdulillah, ada peningkatan sedikit demi sedikit,” tuturnya.

Saat ini, Dobleh mengoperasikan lima kuali dengan kapasitas masing-masing sekitar 80 kilogram. Proses memasak membutuhkan waktu hingga delapan jam agar adonan matang sempurna. Varian produknya meliputi dodol merah, dodol hitam, wijen, wajik, hingga dodol durian.

Harga dodol buatannya relatif stabil dibanding tahun lalu, yakni sekitar Rp 45.000 hingga Rp 50.000 per kilogram untuk kualitas super.

Ramadan menjadi momentum penting bagi para perajin dodol Betawi di Kampung Ceger. Di tengah panasnya kuali dan lamanya proses memasak, mereka tak hanya menjaga warisan kuliner Betawi tetap lestari, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian keluarga dan lingkungan sekitar.
 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Produksi Dodol Betawi Menjelang Lebaran

Produksi Dodol Betawi Menjelang Lebaran

MULTIMEDIA

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT