Warisan Perang Jawa di Masjid Tua Kediri
Selasa, 3 Maret 2026 | 15:47 WIB
Pamenang, Beritasatu.com - Masjid Baiturrahman di Desa Tambakrejo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, menjadi saksi perjalanan sejarah hampir 2 abad sejak berdiri pada dekade 1830-an. Rumah ibadah tersebut didirikan oleh Kiai Abdurrahman, panglima kepercayaan Pangeran Diponegoro yang melanjutkan perjuangan melalui dakwah setelah perang Jawa berakhir pada 1830.
Masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga simbol transformasi perjuangan dari medan perang ke pembinaan spiritual dan pendidikan masyarakat. Hingga kini, bangunan tua tersebut tetap mempertahankan struktur asli dan nilai sejarahnya.
Sejarah Masjid Baiturrahman berkelindan dengan perang Jawa atau perang Diponegoro yang berlangsung pada 1825-1830. Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda di Magelang pada 1830, para pengikutnya berpencar ke berbagai daerah untuk menghindari pengejaran.
Kiai Abdurrahman disebut sebagai salah satu panglima yang bergerak ke wilayah Kediri Timur. Di kawasan yang kini menjadi Desa Tambakrejo, ia membangun masjid sebagai pusat dakwah dan pendidikan Islam.
Langkah tersebut menjadi bentuk perjuangan baru yang ditempuh melalui penguatan akidah dan pembinaan akhlak masyarakat.
Keunikan Masjid Baiturrahman tampak pada ornamen lafaz “Lillah” yang terukir di berbagai elemen bangunan, mulai dari pintu, dinding, tiang penyangga, hingga mimbar dan langit-langit.
Pengasuh masjid generasi keempat, Kiai Zaini Thoyyib menjelaskan, ornamen tersebut bukan sekadar hiasan. “Masjid ini adalah warisan kakek buyut kami untuk mengingatkan bahwa setiap ibadah harus dilakukan tanpa pamrih,” ujarnya, Selasa (3/3/2026).
Ia menyebut filosofi tersebut berkaitan dengan ajaran Tarekat Naqsyabandiyah yang menekankan konsep lillahi ta’ala, yakni segala sesuatu diniatkan semata-mata karena Allah.
Lafaz yang berulang di berbagai sudut bangunan menjadi pengingat visual bagi jemaah agar menjaga niat dan keikhlasan dalam beribadah.
Hampir 2 abad berdiri, sebagian struktur asli masjid masih terjaga. Kayu usuk dan tiang penyangga dari abad ke-19 tetap digunakan hingga kini.
Renovasi pernah dilakukan pada 1980-an, terutama pada bagian lantai dan atap untuk meningkatkan kenyamanan. Namun perubahan tersebut dilakukan tanpa mengubah bentuk dasar dan karakter arsitektur lama.
Masjid Baiturrahman kini tidak hanya menjadi pusat kegiatan keagamaan, tetapi juga penanda sejarah lokal yang merekam jejak perjuangan, migrasi, dan penguatan spiritual masyarakat Kediri.
Keberadaannya mengingatkan bahwa perjuangan tidak selalu dilakukan dengan senjata, melainkan juga melalui pendidikan, dakwah, dan pembinaan moral yang diwariskan lintas generasi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Ini Senjata Iran yang Bikin Rontok Jet Tempur F-15 AS
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Man City vs Liverpool, Mengapa Guardiola Tak Ada di Pinggir Lapangan?




