Review Film Bagman: Horor Psikologis Menghadapi Trauma Masa Kecil
Rabu, 25 September 2024 | 07:33 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Bagman menjadi film horor-thriller terbaru yang disutradarai oleh Colm McCarthy, yang sebelumnya dikenal sebagai sutradara film The Girl with All the Gifts (2016) dan season 2 serial Peaky Blinders. Mulai tayang di bioskop Indonesia mulai Rabu (25/9/2024), film yang dirilis Lionsgate ini menyajikan kisah teror psikologis yang menggabungkan unsur mitos dan trauma masa lalu.
Narasi film berpusat pada Patrick McKee (diperankan oleh Sam Claflin), pria yang masih dihantui oleh makhluk mitos bernama Bagman yang hampir menculiknya ketika ia masih kecil. Bagman digambarkan sebagai sosok menyeramkan yang menculik anak-anak yang memasukkan mereka ke dalam tas.
Kini, setelah dewasa dan memiliki keluarga sendiri, Patrick harus menghadapi kengerian itu sekali lagi ketika Bagman kembali, kali ini mengincar anaknya, Jake (Carell Rhoden). Bersama istrinya, Karina (Antonia Thomas), Patrick harus berusaha mengalahkan trauma masa lalunya, sekaligus menyelamatkan keluarganya dari teror mahluk mitos.
Sam Claflin berhasil memberikan performa yang kuat sebagai Patrick, seorang ayah yang dibebani trauma masa lalu. Akting Claflin, yang sebelumnya dikenal dalam The Hunger Games dan Me Before You, menambah kedalaman emosional pada karakter Patrick. Dilema emosionalnya, antara menghadapi ketakutan masa kecilnya dan tanggung jawab melindungi keluarganya menjadi bumbu tersendiri dalam latar waktu yang disajikan tidak linier (masa sekarang dan kilas balik masa kecil Patrick).

Antonia Thomas yang berperan sebagai Karina, istri Patrick, juga memberikan performa yang solid. Thomas menghadirkan karakter istri yang berusaha mendukung suaminya di tengah kekacauan yang melanda keluarganya. Selain itu, Carell Rhoden yang memerankan Jake, anak Patrick dan Karina, memberikan sentuhan emosional dengan kepolosan dan kerentanannya yang menjadikannya target Bagman.
Bagman menciptakan atmosfer ketegangan sejak awal. McCarthy dengan cerdas menciptakan suasana yang mencekam dan mengganggu. Bagman bukan sekadar sosok menakutkan, tetapi simbol dari trauma masa kecil yang menjadi peringatan orang tua agar anaknya tidak berbuat aneh-aneh.
Visual yang suram dan tata suara yang mencekam semakin memperkuat nuansa horor yang dihadirkan. Adegan jump scare, khususnya ketika kemunculan Bagman dengan tas dan resletingnya mampu membuat penonton berteriak.
Namun, meskipun menawarkan cerita yang menarik, Bagman tidak sepenuhnya lepas dari beberapa kelemahan. Pada beberapa bagian, alur cerita terasa lambat, terutama di pertengahan film, yang mungkin membuat sebagian penonton kehilangan fokus. Bagi penggemar horor yang mengharapkan adegan yang intens, Bagman lebih menekankan pada horor psikologis daripada horor fisik.
Pada akhirnya, Bagman menjadi film horor terbaru Lionsgate yang cukup menghibur, meskipun masih terlalu mengandalkan elemen-elemen klasik, seperti jump scare dan efek audio yang selalu menjadi andalan genre ini.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Kasus Campak Merebak, 6 Daerah di Sulawesi Tengah Ditetapkan KLB




