ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Surat-surat Kartini Selamatkan Perempuan Indonesia

Minggu, 21 April 2024 | 07:19 WIB
WP
WP
Penulis: Whisnu Bagus Prasetyo | Editor: WBP
Ilustrasi Kartini dalam sampul buku
Ilustrasi Kartini dalam sampul buku "Habis Gelap Terbitlah Terang" koleksi Perpustakaan Jakarta-PDS HB Jassin yang diterjemahkan oleh Armijn Pane. (Perpustakaan Jakarta PDS HB Jassin/Perpustakaan Jakarta PDS HB Jassin)

Jakarta, Beritasatu.com - Setiap tahun pada 21 April, surat-surat Raden Ajeng (RA) Kartini kembali menjadi sorotan untuk mengenang perjuangan pahlawan emansipasi ini dalam membawa perubahan bagi perempuan Indonesia dari masa-masa penjajahan menuju ke arah yang lebih cerah.

Meski Kartini telah tiada, pesan-pesan yang terkandung dalam surat-suratnya tetap menjadi inspirasi bagi perempuan Indonesia yang terus berjuang untuk kemajuan bangsa, seperti yang dipublikasikan oleh media-media massa.

Dikutip dari Antara, Minggu (21/4/2204), Raden Ajeng Kartini, yang lahir di Jepara, Jawa Tengah pada 21 April 1879, mulai menulis surat pertamanya pada 1899. Dalam surat tersebut, ia mengekspresikan keresahannya terhadap keterbatasan dan keterikatan yang dialami perempuan Jawa pada masa itu, serta menginginkan kebebasan dan kesetaraan.

ADVERTISEMENT

Selama periode 1889 hingga 1904, Kartini aktif menulis surat dan merespons surat-surat dari teman-temannya di Belanda yang telah merasakan kebebasan sebagai perempuan modern. Surat-surat ini menjadi pendorong bagi Kartini untuk memperjuangkan pendidikan bagi perempuan Indonesia.

Kartini juga menentang praktik poligami yang masih umum dilakukan pada masa itu, serta mengkritik pernikahan paksa yang ia alami sendiri. Meskipun dipaksa menikah, Kartini tetap berpendapat bahwa perempuan seharusnya memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri.

Pentingnya peran Jacques Henrij (JH) Abendanon, yang memberikan beasiswa kepada Kartini untuk bersekolah di Belanda, juga ditekankan dalam surat-suratnya. Abendanon kemudian mengumpulkan surat-surat Kartini dan menerbitkannya dalam buku berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang, yang menjadi kumpulan karya Kartini.

Meski Kartini meninggal pada usia muda, yakni 17 September 1904 setelah melahirkan anak pertamanya, Soesalit Djojohadhiningrat, tetapi warisannya terus dihargai. 

Hari Kartini kemudian ditetapkan sebagai hari penting dalam sejarah Indonesia, dan Kartini diangkat sebagai pahlawan kemerdekaan nasional pada 1964 oleh Presiden Soekarno.
 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Tularkan Semangat Kartini, PLN Perkuat Kontribusi Perempuan lewat Srikandi Movement

Tularkan Semangat Kartini, PLN Perkuat Kontribusi Perempuan lewat Srikandi Movement

EKONOMI
Bukan Sekadar Kebaya: Revolusi Senjata Pena RA Kartini yang Terlupa

Bukan Sekadar Kebaya: Revolusi Senjata Pena RA Kartini yang Terlupa

MULTIMEDIA

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon