Ini Tips Cegah Perundungan di Ruang Digital
Minggu, 30 Oktober 2022 | 20:57 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Salah pergaulan menyeret pada perundungan, yang tak hanya di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya, khususnya lewat media sosial. Angka perundungan siber di Indonesia terbilang tinggi, namun bukan berarti tidak bisa dicegah. Salah satunya adalah melatih kepercayaan diri.
Hal tersebut menjadi perbincangan dalam webinar yang bertema "Mencegah, Menghadapi, dan Melawan Perundungan Digital" yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi.
Founder duaide.com Desty Dwiyanasari mengatakan kekerasan atau perundungan tak hanya terjadi di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya atau di ruang digital. Perundungan itu yang kemudian disebut sebagai perundungan siber (cyber bullying), yakni segala bentuk kekerasan yang dialami anak atau remaja di dunia maya.
Berdasarkan survei Child Protection 2019, sebanyak 45 % dari 2.777 responden di Indonesia pernah mengalami kekerasan digital. Golongan usia yang paling banyak menjadi korban kekerasan digital tersebut adalah kalangan milenial, yakni 54 %.
"Masih dari survei yang sama, platform media sosial adalah medium yang paling banyak digunakan atau yang paling banyak terjadi perundungan siber, yakni sebesar 71 %. Berikutnya adalah aplikasi percakapan sebesar 19 %, gim daring 5 %, YouTube 1 %, dan lain-lain sebesar 4 %," kata Desty, Minggu (30/10/2022).
Dikatakan ragam perundungan siber bermacam-macam. Ada yang disebut sebagai rickery atau tipu daya di mana korban dibujuk rayu untuk memberikan foto pribadinya yang kelak dipakai untuk memeras atau mengancam.
Ada pula yang disebut sebagai child grooming, yakni jalinan hubungan orang dewasa dengan anak atau remaja dengan maksud memanipulasi, mengeksploitasi, dan melecehkan. Lalu, ada istilah flaming atau pertengkaran yang mengakibatkan kemarahan lewat pesan elektronik.
"Ada cara untuk mencegah perundungan. Hal yang bisa dilakukan adalah dengan mengabaikan perundungan, hindari kontak fisik, berlatih menunjukkan sikap percaya diri, dan tunjukkan prestasi pribadi. Atau, laporkan kepada orang dewasa apabila ada perundungan," tuturnya.
Agar tidak terjadi kesalahpahaman di dunia maya yang bisa berujung pada perundungan, menurut Julianur, penting bagi pengguna media sosial atau aplikasi percakapan untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahasa adalah salah satu aspek dari budaya digital.
"Pikiran dan bahasa ibarat api dan asap. Keduanya berkaitan erat. Kemampuan untuk bisa memilih apa yang dikeluarkan secara lisan maupun tulisan, menunjukkan kemampuan untuk berpikir tertib," kata Jawara Internet Sehat 2022 Provinsi Gorontalo Julianur Rajak Husain yang mengutip pernyataan Ivan Lanin, pegiat bahasa Indonesia.
Relawan TIK Indonesia Abdul Wahab menambahkan, selain kecakapan berbahasa Indonesia, kecakapan menjaga keamanan digital, baik di ruang digital maupun pada perangkat digital, juga penting.
Kecakapan tersebut adalah mewaspadai serangan malware, tidak mudah memberikan informasi pribadi di media sosial, dan mengunci perangkat maupun akun dengan kata sandi yang kuat, yaitu berupa kombinasi huruf dan angka.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




