Penyerang "Cyber" Kian Mengintai Seluler

Selasa, 9 Juli 2013 | 13:13 WIB
FN
B
Penulis: Farid Nurfaizi | Editor: B1
Ilustrasi ponsel.
Ilustrasi ponsel. (redwrite.com/redwrite.com)

Jakarta – Berdasarkan riset perusahaan global inovasi jaringan Juniper Networks dalam "Laporan Ancaman Seluler" tahunannya, pertumbuhan dan evolusi mobile malware bergerak cepat hingga menjadi sebuah bisnis yang menguntungkan bagi penyerang siber (cyber attack).

Juniper Networks Mobile Threats Center (MTC) menemukan, secara global pada periode Maret 2012-2013, mobile malware bertumbuh sebesar 614% dengan total 276.259 aplikasi berbahaya. Hal ini menunjukkan tingkat ketertarikan penjahat siber yang tinggi dalam ekploitasi perangkat seluler.

"Dengan mobile malware yang terus meningkat dan penyerang semakin pintar, pengguna membutuhkan perlindungan yang lebih baik bagi telepon selular. Di satu sisi, operator dan pemasok perangkat lunak harus bekerjasama untuk mengembangkan platform yang mampu meminimalisasi ancaman," kata Vice President of Global Product Marketing for the Security Business Juniper Networks Michael Callahan dalam siaran tertulisnya di Jakarta, Selasa (9/7).

Laporan Juniper memaparkan, para penyerang memaksimalkan keuntungan investasi dengan berfokus pada 92% dari keseluruhan ancaman yang terdeteksi oleh MTC di Android. Adapun Menurut firma analis Canalys, perangkat Android menyumbang 67,7% dari keseluruhan smartphones yang dikirim di 2012 dan diproyeksikan pengapalannya mencapai lebih dari satu miliar smartphones di 2017.

Pengembang mobile malware menyadari peluang besar dari dominasi pasar Android yang sedang bertumbuh. Malware untuk sistem operasi Android telah meningkat ke tahap yang mengejutkan sejak 2010. Pada periode tersebut, mobile malware bertumbuh dari 24% menjadi 92% pada bulan Maret 2013.

Selain itu, MTC mengidentifikasi lebih dari 500 toko aplikasi Android pihak ketiga di seluruh dunia, sebagian besar memiliki tingkat pertanggungjawaban atau pengawasan yang sangat rendah. Dari penyimpanan berbahaya pihak ketiga yang teridentifikasi oleh MTC, tiga dari lima toko aplikasi berasal dari Cina atau Rusia.

Lebih lanjut 73% dari malware yang diketahui adalah FakeInstallers atau SMS Trojans. Ancaman-ancaman ini mengecoh orang untuk mengirimkan SMS ke nomor-nomor dengan harga premium yang disiapkan oleh para penyerang. Berdasarkan penelitian yang diadakan oleh MTC, setiap serangan yang sukses mampu menghasilkan profit sekitar USD10 secara instan.

Ekosistem Android yang terfragmentasi membuat sebagian besar perangkat menerima langkah keamanan baru yang disediakan oleh Google. Menurut Google, pada 3 Juni 2013, hanya 4% dari pengguna ponsel Android yang menjalankan OS versi terbaru. Hal ini membuka kelonggaran terhadap malware yang mendalangi 77% ancaman-ancaman di Android.

"Laporan Ancaman Seluler" yang dilansir Juniper Networks Mobile Threat Center adalah satu dari sekian banyak studi penelitian first-hand kuantitatif terbesar di jenisnya. Laporan ini dibuat berdasarkan analisa lebih dari 1,85 juta aplikasi telepon seluler dan kerentanan-kerentanannya, meningkat lebih dari 133% dari laporan terakhir yang dikeluarkan pada bulan Februari 2012.

"Tidak diragukan lagi bahwa mobilitas akan terus menjadi kekuatan yang bisa mengecoh di setiap industri. Kami telah menemukan bahwa hal itu menciptakan kesempatan bisnis yang mudah bagi para pengembang malware," jelas Director of the Mobile Threat Center Juniper Networks, Troy Vennon.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon