I Made Gde Erata
Jangan Menunda Pekerjaan
Selasa, 22 April 2014 | 09:36 WIB
Jangan tunda pekerjaan. Dan, selesaikanlah pekerjaan lebih awal melebihi pekerjaan orang lain. Prinsip tersebut dipegang teguh orang nomor satu di Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank ini. Dia rela menghabiskan waktu sampai larut malam hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya pada hari itu. "Work hard, finish your job more than the other," demikian dia merangkumkan prinsipnya dalam untaian kata-kata.
I Made Gde Erata, begitu nama lengkap pria ini, berangkat pukul 06.00 WIB ke kantor setiap hari. Ia sudah duduk di depan meja kerjanya saat karyawan lain belum tiba. Paling lambat pukul 07.00 WIB, dia sudah memulai semua aktivitasnya.
Dengan menyelesaikan pekerjaan sampai tuntas, Erata tidak pernah mengalami masalah ketika di rumah. Itu karena dia tidak pernah mencampuradukkan antara pekerjaan rumah dan pekerjaan kantor.
"Ketika sampai di rumah, saya tidak lagi memikirkan pekerjaan kantor," tutur I Made Gde Erata di Jakarta, baru-baru ini.
Bagaimana asal-muasal prinsip Erata soal menunda pekerjaan dan sejauh mana prinsip itu memengaruhi kehidupannya, berikut wawancara dengannya.
Bisa diceritakan latar belakang pekerjaan Anda?
Saya sebelumnya bekerja di Direktorat Jenderal Pajak. Di sana pernah menempati banyak jabatan, mulai dari direktur perencanaan, direktur pajak penghasilan (PPh), kepala Kantor Wilayah Pajak di Surabaya, sampai direktur pajak pertambahan nilai (PPN).
Lalu ketika Pak Boediono menjabat sebagai menteri keuangan, saya menjabat sebagai staf ahli menteri keuangan. Selanjutya ketika menteri keuangan dijabat Pak Jusuf Anwar, saya menjabat sebagai kepala Badan STAN.
Setelah berkarier di Direktorat Jenderal Pajak, per awal 2010 saya ditempatkan di sini, di LPEI, menggantikan Bapak Mahendra Siregar. Sampai sekarang, sudah empat tahun tiga bulan saya menjabat sebagai chairman sekaligus chief executive officer (CEO) LPEI.
Jadi, ini pertama kalinya Anda memiliki jabatan di luar pemerintahan?
Saya memang orang pemerintahan, namun saya juga terkait dengan banyak perusahaan. Ketika bekerja di Direktorat Jenderal Pajak, saya mengurusi pajak mereka. Begitu juga ketika saya menjabat sebagai direktur PPN, hampir semua asosiasi industri saya kenal, karena PPN kan menyangkut barang dan jasa.
Makanya, begitu bekerja di sini, saya tidak canggung lagi. Namun, memang banyak yang harus saya pelajari, termasuk soal perhitungan biaya dan pengambilan kebijakan.
Bisa cerita sekilas LPEI?
LPEI didirikan berdasarkan undang-undang yang dibentuk khusus. Di Indonesia namanya memang LPEI, namun kalau di luar negeri namanya menjadi Indonesia Eximbank. Di dalam LPEI ini ada dewan direktur yang berisi tiga pejabat eselon satu, yaitu direktur jenderal (dirjen) kekayaan negara dan dirjen pajak (Kementerian Keuangan), serta dirjen perdagangan luar negeri (Kementerian Perdagangan). Di dalam dewan direktur ini, saya menjadi ketua dewan direktur. Selain itu, saya menjabat sebagai CEO atau direktur eksekutif.
Dalam implementasinya, lembaga ini tidak tunduk pada kebijakan lembaga perbankan, perusahaan terbuka, ataupun asuransi, karena sudah memiliki UU khusus. Akan tetapi, apabila ditemukan kebijakan di perbankan ataupun asuransi yang dirasa baik, LPEI bisa mengimplementasikannya juga.
Hal yang membuktikan LPEI benar-benar diatur dalam UU khusus adalah diperbolehkannya rangkap jabatan, yaitu boleh menjabat sebagai komisaris dan direksi. Apabila merujuk pada UU Perseroan Terbatas (PT) kan tidak diperkenankan sistem single board alias komisaris dan direksi menjadi satu.
Hal lain adalah LPEI tidak hanya menjalankan bisnis perbankan. Setidaknya ada empat mandat yang ada di LPEI, yakni pembiayaan, penjaminan asuransi, dan konsultasi. Implementasi bisnis rangkap ini tidak diperbolehkan dalam institusi keuangan biasa.
Apa keunikan LPEI?
Misalnya di bank, tidak boleh memberikan kredit jika debitornya bermasalah. Di LPEI justru kalau mereka tidak bankable, namun memiliki produk yang bagus, kami tetap harus memberikan kredit.
Contoh lain, bank konvensional tidak bisa memberikan kredit kepada nonresiden, kami justru bisa memberikan kredit ke luar negeri. Apabila orang Indonesia punya usaha di luar negeri, misalnya membuka kantor cabang di luar negeri dalam rangka ekspor maka bisa kami berikan.
Bagaimana soal rangkap jabatan?
Saya sebelumnya pernah menjabat sebagai komisaris utama, namun sebagai direksi belum pernah. Biasanya direktur utama di sebuah PT, mereka juga banyak implementasi ke dalam. Namun di LPEI, saya melihat implementasinya diberikan kepada lima orang direktur pelaksana. Jadi, saya ikut ambil kebijakan, eksekusi juga saya yang melakukan, namun didelegasikan kepada direktur pelaksana.
Dengan sistem pengawasan dua level ini tidak ada masalah yang saya hadapi. Koordinasi selalu dilakukan. Misalnya ketika berhubungan dengan bisnis perbankan ataupun asuransi, kami bertitik tolak pada rasio yang ditentukan.
Evaluasi terkait rasio ini dilakukan secara harian. Tim akuntansi kami mengirim laporannya dua atau tiga hari sekali. Lalu setiap dua minggu sekali, kami akan lihat perkembangannya. Tim treasury juga akan memberi laporan, sehingga setiap kali ada laporan, kami bisa lebih tahu lebih awal.
Selama ini ada masalah dengan koordinasi?
Direktur pelaksana berada langsung di bawah komando saya. Jadi, setiap kali ada masalah, saya bisa langsung memanggil direktur pelaksana.
Tujuan utama yang ingin Anda capai di LPEI?
Ketika saya diberi tahu akan menjadi CEO LPEI, saya diberikan mandat untuk menjaga suku bunga pada kisaran satu digit. Cara yang saya lakukan untuk mencapai hal itu adalah dengan menekan biaya penjaminan asuransi.
Selain itu, saya mendiversifikasi sumber pendanaan, misalnya melalui modal, obligasi dalam dan luar negeri, serta pinjaman sindikasi. Apabila ada satu pinjaman yang menyebabkan bunga tinggi, maka tidak akan kami ambil. Hal ini pernah terjadi tahun lalu, saya tidak jadi mengambilnya karena tidak berisiko ke klien.
Yang penting fee penjaminan asuransi bisa ditekan. Harga bisa ditekan. Asalkan mencari dana, ada modal, obligasi dalam dan luar negeri, sindikasi. Asalkan ada satu pinjaman menyebabkan bunga tinggi, kami tidak ambil. Tahun lalu seperti itu. Saya tidak mau risikonya ke klien.
Visi bisnis LPEI ke depan seperti apa?
Tujuannya tetap sama, yaitu menjaga suku bunga. Jika suku bunganya rendah, kami bisa lebih kompetitif menjual barang. Selain itu, kami akan selalu menekan biaya penjaminan asuransi.
Bagaimana Anda bekerja sama dengan bawahan untuk mencapai hal tersebut?
Waktu awal saya masuk, jumlah karyawannya 140 orang. Kebijakan yang diambil waktu itu adalah mengambil karyawan yang sudah jadi.
Ketika masuk, saya mengubah kebijakan itu dengan mengambil sarjana baru dan melakukan tes. Awal kebijakan ini dibentuk, ada 30-100 karyawan yang diterima. Mereka kemudian dididik di LPPI Perbankan. Saat ini jumlah karyawan mencapai 312 orang.
Ada banyak keuntungan menggunakan formula perekrutan seperti itu. Mereka bisa mengerjakan semua kegiatan dan cepat belajar karena masih mempersiapkan diri. Ditambah pula, dengan struktur pegawai yang lebih muda, sense of belonging-nya masih tinggi. Berbeda halnya dengan sistem perekrutan yang sudah jadi, mereka sudah banyak tahu dan banyak kenal orang.
Terhadap karyawan ini, kami selalu menaikkan gaji. Bahkan, struktur gajinya lebih tinggi dibandingkan di perbankan. Apabila seorang karyawan bank bisa menerima 20 kali gaji setiap tahun maka karyawan LPEI bisa menerima gaji hingga 25 kali setahun. Tidak hanya kesejahteraan yang kami tanggung, kami juga menanggung kesehatan.
Dari hal yang kami berikan ini, kami menginginkan timbal balik. Sampai saat ini timbal balik itu mulai terlihat. Karyawan muda ini, kemampuan menghasilkan asetnya meningkat dari Rp 95 miliar menjadi Rp 120 miliar per orang. Turn over karyawan muda juga rendah. Hal ini dikarenakan mereka sudah dibekali pendidikan dari awal.
Anda juga pernah menjatuhkan hukuman kepada karyawan?
Kami pernah mencopot dua orang. Tingkat kesalahannya bermacam-macam, ada yang berhubungan dengan nasabah. Sebelum dipecat memang ada proses. Namun, jika terlampau parah, akan langsung kami copot.
Cara Anda berkomunikasi?
Saya menerapkan tiga rapat, yaitu rapat tentang kepatuhan, business review, dan transformasi manajemen. Hal ini penting dilakukan karena dulu LPEI berbentuk BUMN. Selanjutnya saya juga memperkenalkan balanced scorecard. Semua tindakan dan hasil karyawan tercatat di sana. Ada pula peta strategi. Di dalamnya termaktub strategi perusahaan, mulai dari proses kegiatan hingga hasil-hasil keuangan.
Peran teknologi juga penting untuk menunjang komunikasi. Makanya kepada masing-masing karyawan kami berikan fasilitas komunikasi, misalnya iPad untuk para direksi. Hal ini penting supaya SDM tambah bagus.
Bagaimana dengan prinsip hidup dan kebiasaan Anda?
Setiap orang memiliki kebiasaan masing-masing. Saya biasanya sudah berangkat pukul 06.00 WIB dari rumah. Paling lambat pukul 07.00 WIB saya sudah ada di kantor.
Ada satu hal yang memengaruhi saya mengapa selalu datang pagi. Kebetulan waktu di Amerika Serikat, saya pernah menonton film. Di dalam film itu diajarkan mengenai prinsip, di mana pun kamu bernaung, selesaikanlah pekerjaan lebih awal melebihi pekerjaan orang lain. Work hard, finish your job more than the other. Itu prinsipnya, sehingga saya pun selalu bangun lebih awal dan menyelesaikan pekerjaan lebih awal dibanding orang lain.
Anda bisa lihat dampak dari prinsip saya. Meja kerja saya kosong, karena sudah tidak ada pekerjaan lagi. Kalaupun ada masalah pekerjaan dan membutuhkan koordinasi dengan bawahan, saya usahakan satu hari bisa selesai.
Hal yang menjadi alasan saya untuk tidak menunda pekerjaan adalah takut pekerjaannya menumpuk, sehingga akhirnya lupa. Makanya makin cepat dikerjakan maka semakin cepat selesai.
Prinsip lain yang saya miliki adalah saya hidup sederhana. Hal ini saya peroleh ketika saya menjadi ketua Majelis Agama Hindu. Di situ saya banyak mendapat pelajaran. Hal ini berbeda dengan pelajaran ekonomi yang saya pelajari di sekolah, yaitu mencari kepuasan setinggi mungkin.
Di agama Hindu, saya diajarkan untuk mengurangi ikatan itu. Semua yang saya peroleh saat ini sudah cukup. Semua yang kita miliki bukanlah milik kita, termasuk kekayaan. Dengan melonggarkan ikatan, saya akan merasa cukup, cukup uang, cukup jabatan. Saya ingin melepas semua, sehingga bisa hidup lebih sederhana.
Prinsip ini saya terapkan pada pekerjaan saya. Tentukan target, hasilnya seperti apa, itu nanti, yang penting proses. Namun sejauh ini hasil yang saya peroleh sudah baik.
Begitu juga di LPEI ini. Ruangan kerja, saya bikin seminimalis mungkin. Namun untuk ruangan yang berhubungan dengan nasabah, dibikin sebagus mungkin. Sebab, yang akan kita terima adalah nasabah, sehingga pelayanannya harus bagus. Kalau saya kan cuma di belakang, jadi sederhana saja, tidak usah kompleks.
Bisa cerita latar belakang keluarga?
Saya lahir di Bali. Bapak saya kebetulan penjual minyak, buku, dan koran. Saya yang bertugas mengambil buku dan koran di pasar. Saya pun sempat mengedarkan koran sewaktu kecil.
Dulu, bentuk koran tidak se-simple sekarang. Dulu, koran itu dilempar dari bus dalam bentuk lembaran ke tempat saya. Saya yang melipatnya, lalu mengedarkannya di seputaran Gianyar. Ketika saya melipat, banyak polisi, tentara, dan orang-orang mangkal yang ikut baca, sehingga saya banyak kenal orang.
Saya juga berjualan minyak. Dulu, jualannya pakai drum, ambilnya pakai truk. Kebetulan tempat minyaknya di Denpasar, dekat kuburan. Saya sempat duduk di sana, sehingga saya menghitung berapa orang yang Ngaben.
Dari dulu saya memang sudah melakukan hal yang berbau bisnis. Namun sekadar melakukan, sehingga tidak berpikir apa-apa. Di Bali, saya juga sempat bertugas di dapur. Walaupun kakak dan adik saya ada yang perempuan, saya yang bertugas di dapur. Akibatnya, saya bisa masak, terutama masakan Bali. Struktur bumbunya saya tahu persis. Sampai saat ini, setiap akhir pekan, saya tetap memasak.
Waktu SMA, nilai saya bagus. Saking pede-nya, saya dan lima orang teman saya tes di ITS Surabaya. Namun ternyata dari lima orang itu, hanya saya yang tidak lulus.
Karena baru pertama kali mengalami tidak lulus, saya akhirnya ke Jakarta, masuk ke Akademi Gizi. Namun teman-teman mengajak saya masuk ke Institut Ilmu Keuangan. Saya ambil jurusan perbendaharaan, namun ternyata lulus di perpajakan. Lalu saya pun memutuskan untuk keluar dari Akademi Gizi.
Saya senang sekolah, sehingga saya belajar terus sampai ikut kursus bahasa Inggris. Lalu ada kesempatan ambil master di Amerika Serikat. Saya ambil dan memang saya bagus, sehingga saya melanjutkan sampai dapat gelar PhD.
Keluarga Anda sekarang?
Anak saya empat, dua bekerja di Melbourne. Satu lagi baru tamat kuliah, dan satunya lagi baru mau masuk kuliah di Monash.
Istri saya psikolog. Katanya belajar psikologi supaya bisa mengawasi saya. Ha, ha, ha...
Biasanya di akhir pekan, saya bersama keluarga ada di rumah. Saya menghabiskan akhir pekan dengan memasak masakan Bali.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




