Bahasa Latin Tidak Lagi Dipakai Namai Spesies Baru
Jumat, 23 Desember 2011 | 19:12 WIB
Menghabiskan terlalu banyak waktu
Bahasa Latin kini tidak lagi digunakan untuk menamai spesies baru mahluk hidup yang ditemukan di dunia setelah para ilmuwan menilai metode itu menghabiskan waktu sementara banyak ahli botani yang tidak nyaman dengan bahasa kuno itu.
Perubahan itu sendiri merupakan usaha dari para ilmuwan untuk mempercepat proses penamaan tumbuhan baru karena dalam beberapa kasus spesies baru sudah terlanjur mati sebelum para ilmuwan menentukan nama Latin yang harus memerlukan waktu lama.
Selain itu, para ilmuwan juga telah sepakat bahwa semua publikasi online termasuk jurnal dan buku juga akan dinilai sebagai sumber yang valid dalam karya ilmiah, layaknya karya yang dicetak dalam kertas.
Menerbitkan penelitian tentang sebuah spesies baru dalam sebuah jurnal cetak bisa memakan waktu selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.
Aturan baru itu sendiri merupakan hasil konfrensi nomenklatur yang digelar bersama International Botanical Congress, Juli silam di Melbourne, Australia, dan mulai berlaku Januari 2012.
"Perubahan mendasar ini akan memudahkan penamaan dan penjelasan pada spesies baru," kata James S. Miller, Ph.D, dari The New York Botanical Garden.
Setiap tahun para ilmuwan rata-rata menami 2000 spesies tumbuhan, alga, dan jamur.
Sistem penamaan binominal - contohnya homo sapiens untuk manusia - yang sebelumnya digunakan, telah dikembangkan sejak tahun 1753 oleh botanis asal Swedia Carl Linnaeus. Sistem penamaan dengan bahasa Latin sendiri baru dimulai sejak 1908.
Dengan mekanisme ilmiah seperti itu para botanis diminta untuk menjelaskan spesies yang mereka temukan dengan rinci dan fokus pada keunikan dari spesies-spesies itu.
Bahasa Latin kini tidak lagi digunakan untuk menamai spesies baru mahluk hidup yang ditemukan di dunia setelah para ilmuwan menilai metode itu menghabiskan waktu sementara banyak ahli botani yang tidak nyaman dengan bahasa kuno itu.
Perubahan itu sendiri merupakan usaha dari para ilmuwan untuk mempercepat proses penamaan tumbuhan baru karena dalam beberapa kasus spesies baru sudah terlanjur mati sebelum para ilmuwan menentukan nama Latin yang harus memerlukan waktu lama.
Selain itu, para ilmuwan juga telah sepakat bahwa semua publikasi online termasuk jurnal dan buku juga akan dinilai sebagai sumber yang valid dalam karya ilmiah, layaknya karya yang dicetak dalam kertas.
Menerbitkan penelitian tentang sebuah spesies baru dalam sebuah jurnal cetak bisa memakan waktu selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.
Aturan baru itu sendiri merupakan hasil konfrensi nomenklatur yang digelar bersama International Botanical Congress, Juli silam di Melbourne, Australia, dan mulai berlaku Januari 2012.
"Perubahan mendasar ini akan memudahkan penamaan dan penjelasan pada spesies baru," kata James S. Miller, Ph.D, dari The New York Botanical Garden.
Setiap tahun para ilmuwan rata-rata menami 2000 spesies tumbuhan, alga, dan jamur.
Sistem penamaan binominal - contohnya homo sapiens untuk manusia - yang sebelumnya digunakan, telah dikembangkan sejak tahun 1753 oleh botanis asal Swedia Carl Linnaeus. Sistem penamaan dengan bahasa Latin sendiri baru dimulai sejak 1908.
Dengan mekanisme ilmiah seperti itu para botanis diminta untuk menjelaskan spesies yang mereka temukan dengan rinci dan fokus pada keunikan dari spesies-spesies itu.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




