Pengamat: Nasionalisme Akan Tumbuh, Tergantung Guru
Selasa, 14 Juli 2015 | 15:59 WIB
Jakarta - Pembina Ferderasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Doni Koesuma mengatakan, menumbuhkan rasa nasionalisme pada siswa, tergantung bagaimana guru mengajarkan nasionalisme secara berkualitas.
Menurut Pendiri Pendidikan Karakter Education Consulting, banyak atau sedikitnya jam belajar untuk mata pelajaran sejarah tidak secara langsung mempengaruhi semangat dan rasa nasionalisme anak, karena belajar sejarah hanya salah satu sarana untuk menumbuhkan semangat nasionalisme.
"Nasionalisme akan tumbuh pada anak, tergantung bagaiamana guru mengajarkan nasionalisme secara berkualitas dalam kehidupan sehari-hari," kata Doni, Selasa (14/7).
Doni menyebutkan, guru harus mampu memberikan contoh serta mempraktekkan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dengan menanamkan sikap nasionalisme dengan menghargai kebhinnekaan, serta bangga sebagai bangsa Indonesia, dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, lagu Bendera, dan beberapa lagu nasionalisme dan patriotisme lainnya.
Sementara, menurut Koordinasi Education Forum, Suparman, rasa nasionalisme pada anak sebetulnya belum hilang. Hanya sedang mengalami pelunturan, hingga tidak hanya dari sekolah untuk membangun, tetapi harus ada pendidikan kebangsaan dilingkungan keluarga dan masyarakat.
"Pada masyarakat, khususnya kalangan elit saat ini semakin jauh dari contoh keteladanan sikap nasionalisme," ujarnya.
Suparman menjelaskan, maraknya korupsi, pertingkaian antara kelompok masyarakat, atau kubu partai Politik, dan elite merupakan contoh buruk pendidikan nasionalismenya, sehingga pelajaran sejarah, yang diajarkan tidak dapat diaplikasikan menjadi sebuah momentum dan panduan generasi muda.
Suparman menilai, pelajaran sejaarah di sekolah telah sesuai dengan konsep substansi yang mengarah pada pendidikan nasional dan tidak bergantung pada sedikit atau banyaknya jam belajar.
Namun, dia menyayangkan seringkali nilai-nilai kebaikan yang diajarkan di sekolah ditemukan bertentangan dengan praktik-praktik kekuasaan yang tidak bersifat nasionalis.
Di tempat terpisah, sekretaris Gerakan Indononesia Pintar (Sekjen GIP) Alpha Amirrachman, mengatakan, sampai saat ini potret buruk kondisi anak Indonesia secara nyata masih menjadi ancaman bagi tumbuh kembang generasi penerus bangsa.
Mulai dari liberasi ekonomi, yang telah melahirkan gaya hidup hedonis, dan mengilangnya batas-batas budaya karena pengaruh global,sehinggaa munculnya perilaku individualitas sebagai generasi instan yang ditunjukan pelajar sehari-hari.
Alpha menyebutkan, masalah yang terjadi karena kebijakan ekonomi yang timpang akibat pemaparan budaya global tidak diimbangi dengan ketahanan dari pribadi dan kelompok sosial. Pada akhirnya, sering ditemukan fenomena negatif, seperti perkelahian, bullyng, dan penyalagunaan narkoba, dan fundamenatalisme agama.
Untuk solusi, Alpha menekankan, kedepan perlu ditanamkan budi pekerti sejak usia dini, dengan diajarkan secara terusa menerus, sehingga nilai tersebut dapat menjadi pilihan utama anak atas didukung dari semua aktor pendidikan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




