Garuda Indonesia Batal Buy Back Saham
Senin, 6 Februari 2012 | 19:56 WIB
Perseroan masih membutuhkan banyak dana untuk menjaga dan meningkatkan arus kas (cash flow) perseroan
PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) membatalkan rencananya untuk melakukan pembelian kembali saham (buy back) tahun ini.
Pasalnya perseroan masih membutuhkan banyak dana untuk menjaga dan meningkatkan arus kas (cash flow) perseroan.
Batalnya rencana buy back saham ini juga dipengaruhi oleh meningkatnya harga saham perseroan di pasar akhir-akhir ini.
Jika pada akhir tahun lalu, saham GIAA masih bertengger di level 400-an per saham, namun tahun ini, saham GIAA berhasil terbang ke level 600 an per saham.
“Buy back adalah hal terakhir yang akan kita lakukan. Saya berharap mudah-mudahan rencana buy back itu batal ya, jadi kita akan memiliki free cash flow yang lebih bagus,” kata Direktur Keuangan PT Garuda Indonesia Tbk Elisa Lumbantoruan, kepada Investor Daily, Jakarta, akhir pekan lalu.
Dia mengakui, tahun ini perseroan berupaya untuk menggenjot free cash flow dari peningkatan penjualan tiket jauh-jauh hari (early bird). Perseroan berupaya melakukan penjualan minimal enam bulan sebelum perjalanan dilakukan. “Target kami free cash flow tahun ini bisa meningkat menjadi Rp2,7 triliun,” kata dia.
Dengan memperkuat free cash flow, lanjut Elisa, Garuda bisa meminimalisir penggunaan dana eksternal yang biayanya lebih mahal. Tahun ini, perseroan membutuhkan anggaran sekitar Rp5,27 triliun untuk membiayai belanja modal dan ekspansi armadanya.
Kebutuhan dana sebesar Rp5,27 triliun tersebut sudah mencakup belanja modal (capital expenditure-capex) tahun ini sebesar Rp1,4 triliun dan juga biaya untuk PDP (pre delivery payment) dan security deposit armada baru sebesar US$430 juta atau setara Rp3,87 triliun.
Rencananya, kebutuhan dana tersebut bisa didanai dari sisa dana IPO sebesar Rp1,397 triliun dan pinjaman maksimal sebesar US$200 juta. Namun perseroan sama sekali belum melakukan penjajakan untuk pinjaman senilai US$200 juta tersebut.
“Dengan target free cash flow sebesar Rp2,7 triliun tahun ini, kami berupaya untuk memperkecil pinjaman, sehingga biaya untuk pendaan armada bisa lebih murah,” kata dia.
Tadinya Garuda berencana melakukan buy back tahun ini. Rencana tersebut dibuat pada tahun lalu, sebab saham GIAA dinilai relatif bergerak flat di level 400 dan masih cukup dibanding harga IPO GIAA sebesar Rp750 per saham.
Sebelumnya Elisa pernah mengatakan, jika setelah 12 bulan pasak IPO saham GIAA masih relative flat, perseroan berupaya memanfaatkan momentum untuk melakukan buy back. Jangka waktu 12 bulan dari hasil IPO tersebut jatuh pada 12 Februari 2012, dari hasil pencatatan saham perdana (listing) Garuda pada 12 Februari 2011 lalu.
PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) membatalkan rencananya untuk melakukan pembelian kembali saham (buy back) tahun ini.
Pasalnya perseroan masih membutuhkan banyak dana untuk menjaga dan meningkatkan arus kas (cash flow) perseroan.
Batalnya rencana buy back saham ini juga dipengaruhi oleh meningkatnya harga saham perseroan di pasar akhir-akhir ini.
Jika pada akhir tahun lalu, saham GIAA masih bertengger di level 400-an per saham, namun tahun ini, saham GIAA berhasil terbang ke level 600 an per saham.
“Buy back adalah hal terakhir yang akan kita lakukan. Saya berharap mudah-mudahan rencana buy back itu batal ya, jadi kita akan memiliki free cash flow yang lebih bagus,” kata Direktur Keuangan PT Garuda Indonesia Tbk Elisa Lumbantoruan, kepada Investor Daily, Jakarta, akhir pekan lalu.
Dia mengakui, tahun ini perseroan berupaya untuk menggenjot free cash flow dari peningkatan penjualan tiket jauh-jauh hari (early bird). Perseroan berupaya melakukan penjualan minimal enam bulan sebelum perjalanan dilakukan. “Target kami free cash flow tahun ini bisa meningkat menjadi Rp2,7 triliun,” kata dia.
Dengan memperkuat free cash flow, lanjut Elisa, Garuda bisa meminimalisir penggunaan dana eksternal yang biayanya lebih mahal. Tahun ini, perseroan membutuhkan anggaran sekitar Rp5,27 triliun untuk membiayai belanja modal dan ekspansi armadanya.
Kebutuhan dana sebesar Rp5,27 triliun tersebut sudah mencakup belanja modal (capital expenditure-capex) tahun ini sebesar Rp1,4 triliun dan juga biaya untuk PDP (pre delivery payment) dan security deposit armada baru sebesar US$430 juta atau setara Rp3,87 triliun.
Rencananya, kebutuhan dana tersebut bisa didanai dari sisa dana IPO sebesar Rp1,397 triliun dan pinjaman maksimal sebesar US$200 juta. Namun perseroan sama sekali belum melakukan penjajakan untuk pinjaman senilai US$200 juta tersebut.
“Dengan target free cash flow sebesar Rp2,7 triliun tahun ini, kami berupaya untuk memperkecil pinjaman, sehingga biaya untuk pendaan armada bisa lebih murah,” kata dia.
Tadinya Garuda berencana melakukan buy back tahun ini. Rencana tersebut dibuat pada tahun lalu, sebab saham GIAA dinilai relatif bergerak flat di level 400 dan masih cukup dibanding harga IPO GIAA sebesar Rp750 per saham.
Sebelumnya Elisa pernah mengatakan, jika setelah 12 bulan pasak IPO saham GIAA masih relative flat, perseroan berupaya memanfaatkan momentum untuk melakukan buy back. Jangka waktu 12 bulan dari hasil IPO tersebut jatuh pada 12 Februari 2012, dari hasil pencatatan saham perdana (listing) Garuda pada 12 Februari 2011 lalu.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




