Sidang Perdebatan Pemakzulan Rousseff Dibuka

Sabtu, 16 April 2016 | 00:02 WIB
HA
B
Penulis: Happy Amanda Amalia | Editor: B1
Kongres Majelis Rendah Brasil akan melakukan pemungutan suara, pada Minggu, 17 APril 2016 sehubungan dengan kasus pemakzulan Presiden Dilma Rousseff.
Kongres Majelis Rendah Brasil akan melakukan pemungutan suara, pada Minggu, 17 APril 2016 sehubungan dengan kasus pemakzulan Presiden Dilma Rousseff. (AFP Photo/Evaristo Sa)

Brasilia – Kongres majelis rendah Brasil membuka sidang perdebatan mengenai kasus pemakzulan atau impeachment terhadap Presiden Dilma Rousseff, Jumat (15/4). Hal ini dilaksanakan menjelang pemungutan suara, pada akhir pekan ini, sebagai penentu nasibnya.

Sementara itu, beberapa jam sebelumnya, Mahkamah Agung Brasil telah menolak usulan yang diajukan presiden asal sayap kiri untuk menangguhkan proses pemakzulan.

Majelis Rendah juga memiliki kekuatan untuk membatalkan pemakzulan, ketika banyak suara yang memberi dukungan dalam pelaksanaan pemugutan suara, Minggu (17/4), namun itu sepertinya tidak mungkin karena Rousseff akan dibawa ke hadapan sidang Senat.

Perjuangan Rousseff telah membuat negara terbesar di Amerika Latin terpaku. Pasalnya krisis, resesi mendalam, dan skandal korupsi raksasa terus membayangi persiapan penyelenggaraan Olimpiade di Rio de Janeiro, pada Agustus 2016.

Bahkan, Ketua Majelis Rendah Eduardo Cunha memprediksi terjadi perdebatan sengit. Di sisi lain, dia sendiri dihadapkan pada tuduhan korupsi yang serius namun telah memposisikan dirinya sebagai perancang yang akan menyingkirkan Rousseff.

"Ini akan berlangsung tenang, tapi saya pikir perdebatan akan terus berjalan seperti itu sampai hari Minggu. Hal ini akan berlangsung sampai Minggu malam dan kemungkinan sampai orang-orang yang mendaftar angkat bicara. Ini ada proses bersejarah, tidak diragukan lagi," ujarnya kepada wartawan.

Rousseff telah dituduh memanipulasi neraca anggaran pemerintah secara ilegal. Selain itu, wanita berusia 68 tahun ini tidak disukai di seluruh negeri dan kerap dikritik oleh oposisi.

Bahkan mantan gerilya Marxis itu sempat dipenjara dan disiksa di bawah kediktatoran militer yang memerintah Brasil selama 20 tahun hingga 1985. Mengingat pengalaman pahit yang dialami maka tak heran jika dia menyebut upaya penyingkiran dirinya sebagai kudeta.

Dia berharap Mahkamah Agung akan bersimpati terhadap tuntutan pengacaranya bahwa proses pemakzulan sudah berubah menjadi serangan terbuka yang mengabaikan norma-norma hukum.

Akan tetapi, dalam sidang darurat yang berlangsung sepanjang malam hingga Jumat pagi, suara mayoritas hakim menyatakan menolak tuntutan yang diajukan. Beberapa hakim memandang bahwa sidang Senat merupakan masa-masa di mana subtansi kasus ini dapat diperdebatkan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon