Brexit Dorong Tony Blair Kembali ke Dunia Politik
Selasa, 2 Mei 2017 | 11:28 WIB
LONDON – Mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair menyampaikan pengumuman kembalinya dia ke dalam politik dalam negeri untuk melawan Brexit, Senin (1/5). Dia juga mengaku masih sebagai tokoh yang memecah belah, yang mana kontribusinya mungkin tidak disambut.
Kendati mantan ketua Partai Buruh itu tidak akan mengikuti pemilihan umum pada 8 Juni. Namun dikatakan dirinya ingin bekerja dan membantu membentuk perdebatan, mengingat Inggris bersiap memasuki perundingan untuk meninggalkan Uni Eropa (UE).
"Saya tahu pada saat saya menjulrkan kepala keluar dari pintu saya akan kejatuhan seember wotsit ke selurh tubuh saya. Tapi saya sangat bersemangat tentang hal ini. Saya tidak ingin berada dalam situasi di mana kita melewati momen bersejarah dan saya tidak mengatakan apapun karena asrtinya saya tidak peduli dengan Negara ini. Padahal saya sangat peduli," ujar Blair kepada tabloid Daily Mirror.
Dia mengatakan tujuannya bukan untuk menentang pemungutan suara referendum tahun lalu yang mendukung Brexit, namun para pemilih harus diberi kesempatan untuk berubah pikiran begitu kesepakatan akhir keluar dari UE kian jelas.
Menurut Blair meninggalkan pasar tunggal Eropa dan mengupayakan perjanjian kesepakatan dagang bebas, seperti yang diharapkan oleh Perdana Menteri Konservatif Theresa May, akan mengasingkan diri kita dari atas dalam tatanan internasional.
"Masalah Brexit ini telah memberi saya motivasi langsung untuk lebih terlibat dalam politik. Anda harus membuat tangan Anda kotor dan saya akan melakukannya," kata pria berusia 63 tahun tersebut.
Di sisi lain, masih belum jelas apa yang ingin dilakukan Blair atau seberapa membantu intervensi yang dilakukannya. Dalam partai Buruh, yang sekarang dipimpin oleh Jeremy Corbyn yang berhaluan kiri, istilah Blairite – untuk menggambarkan kebijakan sentralisme Blair yang ramah bisnis – digunakan secara luas sebagai sebuah penghinaan.
Menurut hasil menurut survei You- Gov yang diterbitkan November, dari kalangan masyarakat ada sebanyak 74% orang yang tidak menyukai pandangan Blair.
"Bahkan beberapa pendukungnya berpikir semakin dia diam lebih baik,"tutur Steven Fielding, professor politik dari University of Nottingham.
Blair memenangkan tiga pemilu sebagai perdana menteri yang diusung Partai Buruh dan menghabiskan 10 tahun berkantor di Downning Street sejak 2 Mei 1997 hingga 2007. Akan tetapi tahun-tahun terakhirnya menjabat dirusak oleh keputusannya untuk bergabung dalam invasi Irak yang dipimpin Amerika Serikat – warisan yang tidak dapat dia lepaskan.
Usai tidak menjabat sebagai perdana menteri, Blair menghabiskan beberapa tahun dengan mempelajari isu-isu di Timur Tengah dan Afrika, namun menjadi blak-blakans oal masalah dalam negeri dalam beberapa bulan terakhir.
Dia telah mendirikan Institut Perubahan Global – yang tidak mencari keuntungan untuk berkampanye, antara lain, untuk merevitalisasi centre ground dan mengatasi pendekatan populisme yang merusak. Blair menyampaikan kepada Mirror:
"Saya tidak yakin bisa mengubah sesuatu menjadi gerakan politik, tapi saya pikir ada banyak gagasan di luar sana yang akan didukung orang-orang."
Pekan lalu, Blair mengakui bahwa Konservatif memenangkan pemilihan, karena jajak pendapat menempatkan mereka unggul lebih dari 20 poin di depan.
Namun, dalam sebuah wawancara dengan Sky News, Blair mengatakan bahwa masalah sebenarnya adalah seberapa banyak mereka menang, seraya memperingatkan supaya memberi ‘cek kosong’ pada May.
Sedangkan kalangan komentator menunjukkan bahwa komentarkomentar semacam itu tidak banyak membantu kampanye Partai Buruh. Dia juga telah dituduh mendorong pemungutan suara taktis, jika diperlukan untuk partai lain, untuk memilih calon anti-Brexit bulan depan. Namun Blair membantah seraya berjanji sumpah setia kepada Buruh.
"Tony Blair adalah sebuah suara yang mendapat perhatian dan dia menggunakannya untuk tujuannya sendiri, untuk mengerahkan pasukan dalam pertempuran lintas partai yang lebih besar, yaitu tentang Brexit," ujar kata Fielding kepada AFP.
Akan tetapi, Fielding mengingatkan bahwa Blair tidak akan seperti Raja Arthur yang sedang tidur dan terbangun untuk kemudian menyelamatkan Inggris pada saat Inggris membutuhkan. (afp/pya)
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




