Romo Magnis Kecam Aksi WO di Acara Kolese Kanisius

Selasa, 14 November 2017 | 00:01 WIB
HA
B
Penulis: Heru Andriyanto | Editor: B1
Franz Magnis Suseno
Franz Magnis Suseno (Beritasatu.com/Ezra Sihite)

Jakarta - Budayawan Franz Magnis-Suseno secara terbuka menyatakan rasa tidak sukanya atas aksi walkout (WO) yang dilakukan sejumlah orang dalam peringatan satu abad Kolese Kanisius di Jakarta akhir pekan kemarin.

Aksi itu dilakukan sebagai protes atas kehadiran Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang oleh para pelaku aksi dinilai merepresentasikan pandangan anti-pluralisme.

Menurut Franz Magnis, yang akrab disapa Romo Magnis, aksi walkout itu sangat memalukan dan patut disesalkan.

"Andai kata gubernur mengatakan sesuatu yang tidak senonoh/jahat/menghina, walkout dapat dibenarkan. Tetapi walkout kemarin menunjukkan permusuhan terhadap pribadi gubernur merupakan suatu penghinaan publik," kata Romo Magnis dalam pesan tertulis yang disebarkan melalui media sosial.

"Saya kutip Saudara Abdillah Toha: apakah, dengan kejadian ini diviralkan, 'justru tidak menjadi counter productive dan akan mempertajam permusuhan di negeri yang sudah rentan intoleransi itu?'"

Aksi walkout dimotori oleh Ananda Sukarlan, pianis dan komposer musik alumnus Kanisius yang diundang dan mendapat penghargaan dalam acara tersebut.

Anies memang sempat memicu kontroversi karena dalam pidato pertamanya sebagai gubernur dia menyebut istilah pribumi dan dinilai semakin mempertajam perbedaan setelah proses pemilihan gubernur yang sangat terpolarisasi.

"Betul, ucapan hal 'pribumi' pantas ditegur--dan sudah banyak ditegur--tetapi gubernur macam apa Anies nanti, harus ditunggu dulu. Amat disayangkan bahwa sebagian peserta menggunakan kesempatan 100 tahun Kanisius untuk menunjukkan permusuhan terhadap gubernur DKI," kata Romo Magnis.

Dia juga mengingatkan bahwa Anies adalah gubernur DKI yang sah dan dipilih secara demokratis oleh mayoritas warga Jakarta.

"Bukankah sikap yang benar adalah: beri dia kesempatan untuk membuktikan diri? Kita Katolik tidak bisa memilih negara di mana kita hidup, 57 persen pemilih Jakarta memilih Anies. Kolese Kanisius harus menjalankan misinya dengan pemerintahan DKI mana saja, dan saya perkirakan bahwa justru karena itu panitia mengundang Pak Anies," ujarnya.

"Saudara Ananda Sukarlan berhak menolak Anies. Sebagai seorang Muslim ia tidak perlu dicurigai bersikap sektarian. Namun saya tetap tidak dapat menyetujui kelakuannya. Tamu harus dihormati, tamu datang karena diundang panitia, maka semua yang ikut undangan panitia, harus menghormati tamu pun pula kalau secara pribadi tidak menyetujuinya. Silakan panitia dikritik. Tetapi menginisiasikan suatu demonstrasi penghinaan terbuka terhadap gubernur DKI saya anggap penyalahgunaan kesempatan."



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon