Jakarta Pasar Properti Terbesar di Dunia
Jumat, 7 Desember 2012 | 07:27 WIB
Tiga pengembang asal Australia, New Zealand, dan Hong Kong, mulai membidik pasar properti Jakarta
Seiring dengan keinginan pemerintah untuk membuka keran kepemilikan asing, sektor properti Indonesia, khususnya Jakarta akan tumbuh pesat serta menjadi incaran investor dan pengembang global. Hal ini sejalan dengan hasil riset PricewaterhouseCoopers (PWC) dan Urban Land Institute (ULI) yang memproyeksikan pasar properti Indonesia bakal masuk peringkat ketujuh dunia pada 2021.
Saat ini, tiga pengembang asal Australia, New Zealand, dan Hong Kong, mulai membidik pasar properti Jakarta dan sejumlah kota di Indonesia. Tahun depan, Jakarta bakal menempati peringkat pertama tujuan investasi properti di kawasan Asia Pasifik, mengalahkan Shanghai, Singapura, Sydney, dan Kuala Lumpur.
Masuknya para pengembang dunia ke Indonesia diyakini bakal mendongkrak nilai aset properti di Jakarta dan sekitarnya. Khusus 2013, nilai kapitalisasi properti di Jakarta bakal bertambah sedikitnya Rp210 triliun.
Gencarnya pengembangan sektor ini diyakini bakal merembet ke pasar properti di sejumlah kota di Indonesia. Bahkan, PricewaterhouseCoopers (PWC) dan Urban Land Institute (ULI) memprediksi, nilai pasar properti komersial di Indo- nesia pada 2021 bakal mencapai US$563 miliar atau berada di posisi tujuh pasar properti dunia.
Demikian rangkuman analisis dan pendapat dari Asia Pasific Real Estate Tax Leader PWC KK So, Chief Executive Officer ULI Patrick L Philips, Direktur PT Ciputra Development Tbk Tulus Santoso, Direktur Pakuwon Group Sutandi Purnomosidi, Sekretaris Perusahaan PT Intiland Development Tbk Theresia Rustandi, Head of Research for Jones Lang LaSalle di Indonesia Anton Sitorus, dan pengamat properti Panangian Simanungkalit.
Mulai 2013, investor asal Hong Kong, Sentosa Worldwide siap menggarap proyek apartemen enam menara di Jakarta senilai US$150 juta. Crown International Holding Groups dari Australia menggelontorkan US$500 juta untuk menggarap tujuh menara apartemen. “Jakarta akan menjadi pasar terbesar properti dunia hingga 2050,” tegas Panangian Simanungkalit kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (7/12).
Pada 2013, PWC menyebutkan, Jakarta masuk ke urutan pertama sebagai pilihan investasi utama sektor properti. Tahun ini, Jakarta masih masih menempati posisi ke-11 besar dunia. Lompatan itu terjadi seiring melambatnya perekonomian Tiongkok dan India, serta mulai terbatasnya peluang pasar di sejumlah negara seperti Jepang dan Australia. Sebaliknya, sektor properti Jakarta menjanjikan imbal hasil (yield) tertinggi dibandingkan kota-kota besar di kawasan Asia Pasifik.
Kesimpulan tersebut merupakan hasil riset dari persepsi 400 responden. Mereka adalah para pengembang properti, pengelola aset properti, investor, perusahaan jasa properti, pengelola REIT's, pelaku perbankan, dan pemberi rekomendasi pinjaman.
Seiring dengan keinginan pemerintah untuk membuka keran kepemilikan asing, sektor properti Indonesia, khususnya Jakarta akan tumbuh pesat serta menjadi incaran investor dan pengembang global. Hal ini sejalan dengan hasil riset PricewaterhouseCoopers (PWC) dan Urban Land Institute (ULI) yang memproyeksikan pasar properti Indonesia bakal masuk peringkat ketujuh dunia pada 2021.
Saat ini, tiga pengembang asal Australia, New Zealand, dan Hong Kong, mulai membidik pasar properti Jakarta dan sejumlah kota di Indonesia. Tahun depan, Jakarta bakal menempati peringkat pertama tujuan investasi properti di kawasan Asia Pasifik, mengalahkan Shanghai, Singapura, Sydney, dan Kuala Lumpur.
Masuknya para pengembang dunia ke Indonesia diyakini bakal mendongkrak nilai aset properti di Jakarta dan sekitarnya. Khusus 2013, nilai kapitalisasi properti di Jakarta bakal bertambah sedikitnya Rp210 triliun.
Gencarnya pengembangan sektor ini diyakini bakal merembet ke pasar properti di sejumlah kota di Indonesia. Bahkan, PricewaterhouseCoopers (PWC) dan Urban Land Institute (ULI) memprediksi, nilai pasar properti komersial di Indo- nesia pada 2021 bakal mencapai US$563 miliar atau berada di posisi tujuh pasar properti dunia.
Demikian rangkuman analisis dan pendapat dari Asia Pasific Real Estate Tax Leader PWC KK So, Chief Executive Officer ULI Patrick L Philips, Direktur PT Ciputra Development Tbk Tulus Santoso, Direktur Pakuwon Group Sutandi Purnomosidi, Sekretaris Perusahaan PT Intiland Development Tbk Theresia Rustandi, Head of Research for Jones Lang LaSalle di Indonesia Anton Sitorus, dan pengamat properti Panangian Simanungkalit.
Mulai 2013, investor asal Hong Kong, Sentosa Worldwide siap menggarap proyek apartemen enam menara di Jakarta senilai US$150 juta. Crown International Holding Groups dari Australia menggelontorkan US$500 juta untuk menggarap tujuh menara apartemen. “Jakarta akan menjadi pasar terbesar properti dunia hingga 2050,” tegas Panangian Simanungkalit kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (7/12).
Pada 2013, PWC menyebutkan, Jakarta masuk ke urutan pertama sebagai pilihan investasi utama sektor properti. Tahun ini, Jakarta masih masih menempati posisi ke-11 besar dunia. Lompatan itu terjadi seiring melambatnya perekonomian Tiongkok dan India, serta mulai terbatasnya peluang pasar di sejumlah negara seperti Jepang dan Australia. Sebaliknya, sektor properti Jakarta menjanjikan imbal hasil (yield) tertinggi dibandingkan kota-kota besar di kawasan Asia Pasifik.
Kesimpulan tersebut merupakan hasil riset dari persepsi 400 responden. Mereka adalah para pengembang properti, pengelola aset properti, investor, perusahaan jasa properti, pengelola REIT's, pelaku perbankan, dan pemberi rekomendasi pinjaman.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




