Mahasiswa di Malang Sulap Limbah Cangkang Tiram Jadi Bahan Baterai Kendaraan Listrik
Rabu, 25 Oktober 2023 | 15:58 WIB
Malang, Beritasatu.com - Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur, berhasil menyulap cangkang hewan laut tiram menjadi sumber energi terbarukan untuk bahan pembuatan baterai kendaraan listrik yang diberi nama Crossta Baterry.
Dari hasil penelitian dan uji coba mahasiswa UB itu, di cangkang tiram jenis Crassostrea cucullata terdapat kandungan kalsium oksida sebagai bahan baku segala jenis baterai yang juga bisa digunakan sebagai sumber energi kendaraan listrik ramah lingkungan.
Salah satu tim peneliti dan penemu limbah cangkang tiram untuk sumber energi terbarukan, Izza Lailatul Kasanah mengatakan, dari hasil riset dan penelitian, limbah cangkang tiram bisa digunakan sebagai sumber energi terbarukan untuk baterai kendaraan listrik.
Dia menjelaskan, limbah cangkang banyak mengandung kalsium yang bisa digunakan sebagai bahan baku elektroda baterai untuk memproduksi baterai kalsium.
"Kandungan kalsium oksida yang ada pada cangkang tiram bisa digunakan sebagai bahan baku baterai yang merupakan salah satu sumber energi masa depan yang banyak digunakan sebagai sumber energi kendaraan listrik," kata Izza kepada Beritasatu.com, di Malang, Selasa (24/10/2023).
Dia menjelaskan, kalsium adalah mineral paling banyak jumlahnya di tubuh hewan dan manusia. Kalsium juga memiliki banyak manfaat dan melimpah di lingkungan sekitar sebagai bahan baku elektroda baterai kalsium.
Menurut mahasiswa semester tujuh Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) itu, baterai kalsium juga mudah diisi ulang sehingga memiliki potensi besar untuk perkembangan teknologi di bidang energi di masa depan. Pasalnya, baterai kalsium mengandung bahan baku yang melimpah dan biaya produksinya lebih rendah dibandingkan baterai jenis lainnya.
"Baterai kalsium (Ca-Ion) adalah inovasi penyimpanan daya yang menggunakan kalsium sebagai bahan utamanya. Kalsium lebih mudah ditemukan keberadaannya di alam, sehingga harga baterai kalsium tergolong lebih murah daripada jenis baterai lain," tandas Iza.
Sementara itu, baterai-baterai yang beredar dan digunakan saat ini, seperti baterai Lithium atau baterai Nickel-Metal Hydride (Ni-MH), tidak banyak ditemukan dan membutuhkan biaya yang tinggi dalam pemanfaatannya.
Selain itu, Indonesia juga harus mengimpor unsur-unsur baterai tersebut dari Tiongkok yang membuat biaya produksinya makin membengkak.
Ia menambahkan pada riset ini juga dilakukan proses pengujian terhadap sintesis kalsium oksida cangkang tiram yang sudah dikalsinasi menggunakan beberapa instrumen seperti, FTIR, AAS, Powder XRD, dan SEM EDX, dilanjutkan dengan hasil uji kelistrikan menggunakan RLC meter.
"Melalui pengujian tersebut menunjukkan bahwa CaO hasil kalsinasi 800°C berpotensi untuk dilanjutkan ke pengujian efektivitas baterai," ujarnya.
Izzah Lailatul Hasana menerangkan, proses riset dan penelitian serta praktik limbah cangkang tiram dilakukan selama 4 bulan. Hasilnya, limbah cangkang bisa mengeluarkan tegangan daya listrik dan berpotensi bisa digunakan untuk bahan baterai.
"Penelitiannya cukup lama. Saat kita praktikkan di laboratorium, kita bisa memastikan bahwa limbah cangkang tiram yang mengandung kalsium oksida bisa mengeluarkan tegangan dan positif bisa untuk bahan pembuat baterai," ungkapnya.
Izza menambahkan, riset ini masih dalam tahap pengembangan dan masih memerlukan banyak evaluasi untuk menghasilkan bahan baku alternatif baterai yang efektif dan efisien.
Untuk memperoleh hasil maksimal timnya masih terus melakukan riset mendalam agar diketahui apakah senyawa dari cangkang tiram tersebut mampu menghasilkan energi dalam jumlah besar, sehingga bisa digunakan untuk bahan dasar alternatif baterai yang lebih murah dan ramah lingkungan.
Dia berharap ke depan, limbah cangkang tiram ini dapat terus dioptimalisasi dan dikembangkan lebih lanjut sebagai energi masa depan untuk industri baterai.
"Saat ini juga masih dilakukan pengembangan yang lebih baik lagi, dan semoga bisa menjadi riset yang bisa berguna dan diterapkan secara meluas di dunia industri baterai. Jadi limbah cangkang tiram tidak hanya digunakan untuk bahan membuat baterai kendaraan listrik saja, tetapi juga bisa membuat baterai-baterai lainnya," ujarnya.
Menurut Izza, yang melatarbelakangi dia bersama teman-temannya melakukan riset dan penelitian cangkang hewan laut tersebut, karena setiap tahun pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia makin meningkat. Emisi kendaraan bermotor pun juga akan berdampak negatif terhadap kesehatan.
Oleh karena itu, penggunaan kendaraan berbasis listrik (KBL) dapat menjadi solusi dalam mengurangi emisi dan jumlah kendaraan bermotor berbahan bakar fosil.
Selain itu, besarnya pencemaran limbah cangkang di Pantai Dringu, Probolinggo, Jawa Timur menjadi ide awal munculnya riset ini.
"Jika riset ini dikembangkan lagi, harapannya kami bisa memanfaatkan limbah cangkang tiram menjadi lebih bermanfaat," pungkasnya.
Selain Izza, riset ini juga dibantu beberapa mahasiswa fakultas MIPA lainnya, seperti Ahmad Multazam Abdan, Ahmad Syarwani, Zainurrohman Prastomo, Uray Keisya Ranaputri dan dibimbing Profesor Akhmad Sabarudin.
Diharapkan, hasil inovasi ini, ke depannya bisa menjadi sumber energi terbarukan untuk kepentingan bangsa dan negara. Pertamina pun juga bisa membantu untuk melakukan penelitian lebih dalam dari uji coba ini.
Perlu diketahui, tiram merupakan sekelompok hewan laut sejenis kerang-kerangan dengan cangkang berkapur dan relatif pipih. Tiram juga merupakan hewan yang tidak bertulangbelakang atau invertebrata.
Hewan laut ini, selain mempunyai kandungan kalsium oksida, juga mengandung sumber seng, zat besi, selenium juga vitamin A dan vitamin B12. Karena sumber dayanya melimpah, biasanya, tiram juga dikonsumsi masyarakat pesisir pantai.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




