Bantu Nelayan, Mahasiswa ITS Surabaya Ciptakan Alat Penghasil Es Ramah Lingkungan
Rabu, 21 Februari 2024 | 07:47 WIB
Surabaya, Beritasatu.com - Mahasiswa Departemen Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berinovasi membuat alat penghasil es ramah lingkungan. Menggunakan fotovoltaik atau panel surya, alat ini digunakan untuk mengonversi cahaya matahari menjadi listrik.
Salah satu anggota tim, Irgi Israr Altamis mengungkapkan bahwa proyek sosial yang dilakukan timnya bertujuan untuk membantu meningkatkan produksi nelayan di Desa Bringsang, Sumenep, Jawa Timur. Memiliki potensi bahari yang besar, kelompok nelayan di desa tersebut masih kesulitan dalam pemenuhan ketersediaan bahan pengawet berupa es.
“Permasalahan yang dihadapi adalah daya listrik yang ada tidak dapat memenuhi kebutuhan suplai listrik untuk lemari es,” ungkapnya kepada Beritasatu.com, Selasa (20/2/2024).
Terletak di kawasan pesisir, Desa Bringsang cenderung mendapatkan intensitas cahaya matahari yang tinggi sepanjang tahun. Hal ini memungkinkan cahaya matahari menjadi sumber energi listrik baru selain Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang penggunaannya terbatas di desa tersebut. Di samping itu, pemakaian fotovoltaik dinilai efektif untuk mengurangi emisi karbon, serta upaya untuk menjaga konsentrasi oksigen di udara.
Irgi melanjutkan alat yang digunakan merupakan lemari es low watt ramah lingkungan yang terintegrasi dengan fotovoltaik. Cahaya matahari yang ditangkap oleh panel surya kemudian diubah menjadi arus listrik searah atau direct current (DC). Berdimensi 2x1,64 meter, panel surya 300 watt-peak (wp) yang digunakan dapat memenuhi kebutuhan listrik lemari es hingga 20 jam per hari.
Lebih lanjut, arus listrik yang dihasilkan kemudian dibawa ke solar charge controller (SCC) untuk memastikan panel surya menghasilkan daya maksimum dan mentransfernya ke baterai dengan efisiensi tinggi.
“Baterai berfungsi untuk menyimpan energi sehingga alat ini tidak hanya beroperasi saat terkena sinar matahari, tetapi juga saat malam hari,” imbuhnya.
Sebelum dapat digunakan pada lemari es, arus listrik DC harus diubah menjadi alternating current (AC) dengan menggunakan inverter. Sedangkan inverter yang terhubung ke lemari es akan memastikan ketersediaan listrik harian agar produksi es dapat terpenuhi.
Dapat menampung hingga 150 liter air, produksi es dilakukan tiga kali sehari dan dapat digunakan secara komunal oleh kelompok nelayan di Desa Bringsang.
Selain pengembangan alat penghasil es, Irgi dan rekan-rekannya juga melakukan pembinaan digitalisasi pasar untuk nelayan melalui pengenalan e-commerce.
Sosialisasi ini bertujuan untuk mendukung peningkatan produktivitas masyarakat. Tidak hanya menjual tangkapan laut secara langsung, masyarakat juga dapat memanfaatkan berbagai platform untuk menjual dan mendistribusikan olahan makanan ke luar pulau.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




