ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Bowongsoro, Warisan Leluhur yang Dijaga di Bentung Sangihe

Rabu, 27 Agustus 2025 | 10:32 WIB
JB
BW
Penulis: Jaya Takaliuang Bawole | Editor: BW

Bowongsoro, situs wisata sejarah yang ada di Bentung Sangihe.
Bowongsoro, situs wisata sejarah yang ada di Bentung Sangihe. (Beritasatu.com/Jaya Takaliuang Bawole)

Sangihe, Beritasatu.com – Suara ombak dari pesisir Pantai Nagha terdengar sayup-sayup, berpadu dengan semilir angin dari perbukitan di selatan Kampung Bentung, Kecamatan Tabukan Selatan. Di balik keseharian warga yang sibuk melaut dan berkebun, tersimpan kisah lama yang tak pernah hilang dari ingatan mereka, yaitu tentang sebuah bukit yang disebut Bowongsoro.

Bagi orang luar, Bowongsoro mungkin hanya tampak seperti perbukitan biasa. Namun, bagi warga Bentung, bukit itu adalah simbol kehidupan, warisan leluhur yang meneguhkan identitas mereka sebagai orang Sangir.

Adalah Joksan Samatara, guru sejarah di SMA Negeri 1 Tabukan Selatan, yang paling tekun menjaga cerita ini tetap hidup. Warga mengenalnya dengan sapaan akrab, Bapak Sam. Dengan semangat seorang pendidik, ia tidak hanya mengajarkan sejarah lewat buku, tetapi juga lewat tanah kelahirannya sendiri.

ADVERTISEMENT

Pada 2016, ia melaporkan keberadaan Bowongsoro ke Balai Arkeologi Sulawesi Utara. Hasil kajian awal memperkirakan situs itu sudah ada sejak abad ke-13. Namun bagi Bapak Sam, yang terpenting bukan sekadar angka usia, melainkan makna yang diwariskan.

“Ini bukan hanya batu atau bukit. Ini cerita leluhur kita, kisah tentang siapa kita sebagai orang Sangir,” ucapnya lirih sambil menatap arah bukit.

Nama Bowongsoro berasal dari bahasa Sangir, yaitu bowong berarti gunung, soro berarti lampu. “Bukit lampu”—itulah arti harfiahnya. Legenda turun-temurun menyebutkan adanya seekor burung raksasa yang bersarang di bukit ini. Saat paruhnya mengatup, cahaya petir memancar terang, seolah menerangi seluruh kampung.

Kisah itu dituturkan turun-temurun, bukan sekadar dongeng, melainkan pengingat bahwa tanah mereka menyimpan kekuatan dan cahaya dari masa lalu.

Di puncak bukit, berdiri sebuah makam batu dengan empat penanda. Warga percaya, itu adalah makam Maneke Nusa, tokoh penakluk wilayah yang juga leluhur masyarakat Sangir. Bagi sebagian orang, makam itu bukan hanya situs sejarah, melainkan tempat berdoa dan mengenang asal-usul.

Tak jauh dari sana, di lereng bukit, terdapat sumur berbentuk bulan sabit. Warga percaya, sumur itu bisa mengeluarkan air jika dilakukan ritual tertentu. Hingga kini, beberapa orang tua kampung masih sesekali mendatangi sumur itu, memandangnya dengan penuh takzim, seakan berbicara pada masa lalu.

Tak hanya warisan leluhur, Bentung juga menyimpan jejak kolonialisme Belanda. Di pesisir Pantai Nagha, pernah berdiri pelabuhan besar pada masa kolonial. Dari situlah tentara Belanda memasuki Sangihe. Kini, pantai itu hanya menyisakan pasir putih dan debur ombak. Namun bagi warga, setiap hembusan angin laut seperti membawa kembali kenangan masa silam yang berat.

Bapak Sam kerap merasa khawatir. Ia takut, jika tidak ada perhatian dari pemerintah, situs-situs ini hanya akan tinggal cerita.

“Saya berharap ada perhatian dari pemerintah pusat dan pihak berwenang. Situs ini adalah bukti peradaban masyarakat Sangir. Kalau hilang, hilanglah sebagian dari jati diri kita,” katanya penuh harap.

Bagi warga Bentung, Bowongsoro bukan hanya peninggalan sejarah. Ia adalah cahaya yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, pengingat bahwa meski zaman berubah, identitas mereka tetap berpijak pada warisan leluhur.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon