Test Drive Mobilio di Tanjakan dan Turunan
Senin, 10 Februari 2014 | 10:14 WIB
Rute berikutnya lebih menantang, menuju wilayah pegunungan Kaliurang dan Candi Prambanan. Saya agak bersyukur masih membawa seri E dengan transmisi manual, karena pengendalian torsi atau tenaga penarik beban di tanjakan lebih di tangan sopir.
Hujan mengguyur cukup deras sejak kami beranjak dari hotel, namun dengan kendali manual kami berdua tak terlalu khawatir dengan masalah traksi atau daya cengkeram mobil di aspal licin dan menanjak.
Mobil ini berbagi mesin yang sama dengan Freed, jadi kami sudah cukup familiar dengan akselerasi dan torsi yang keluar. Dimensi yang lebih besar tertolong dengan aerodinamika yang lebih baik.
Menurut brosur, mesin Mobilio mengeluarkan tenaga maksimal 118 PS pada putaran mesin 6.600 rpm dan torsi 14,8 kg/m pada 4.600 rpm.
Lalu lintas yang cukup padat di dalam kota segera menghilang begitu kami mulai mendaki kaki Merapi menuju Kaliurang.
Kami berada di tengah dari konvoi sekitar 20 Mobilio yang mengangkut 68 wartawan, fotografer dan kameraman. Mesin yang cukup responsif membantu kami untuk menjaga konvoi tidak terputus.

Kadang-kadang ada truk yang terlalu lambat dan terlalu besar untuk bisa memberi jalan di kontur pegunungan ini meskipun kami mendapat pengawalan polisi. Namun begitu halangan lewat, cukup pasang gigi rendah dan injak gas, dalam hitungan detik kami sudah bisa merapat ke mobil rekan di depan.
"Tarikannya enteng meski di tanjakan," kata Nurudin, klise memang namun sejujurnya itu yang kami rasakan.
Roda kemudi sangat sensitif khas Honda, membuat mobil sangat lincah menghindari lubang-lubang jalanan yang mulai banyak kami temukan begitu meninggalkan kota.
Namun saya teringat falsafah Honda bahwa Mobilio memang diciptakan khusus untuk pasar Indonesia, sesuai dengan kondisi jalan dan tuntutan pemakai di sini. Juga pesan lainnya bahwa Yogyakarta dipilih karena mewakili kondisi infrastruktur yang ada di sebagian besar kota atau wilayah pedesaan yang ada di Indonesia.
Maka saya menyarankan rekan agar tidak terlalu rajin menghindari lubang, "untuk tes suspensi dan kaki-kaki."
Dengan ground clearance di atas rata-rata, suspensi depan McPherson Strut dan belakang berteknologi Torsion Beam, guncangan dan benturan ke lubang bisa diredam baik dan hanya menjadi getaran kecil ketika sampai ke tubuh. Sistem peredam suara juga lumayan, kabin tidak berisik di jalan berlubang atau oleh gesekan ban seperti yang umumnya menjadi gangguan di mobil sedan.
Dan di kontur jalan yang menantang seperti ini, penggerak roda depan selalu lebih bisa diandalkan.
Saya perhatikan setiap kecepatan rendah dengan ritme yang stabil, indikator ECO warna hijau akan menyala yang menunjukkan kami mengemudi dengan cara yang efisien. Di bawahnya ada petunjuk digital bahwa tingkat konsumsi bahan bakar adalah 12-13 kilometer untuk per liter bensin. Cukup bagus mengingat kami dalam konvoi panjang, mirip simulasi lalu lintas padat merayap di dalam kota. Jika di jalan tol sepi, angka ini tentunya bisa lebih baik lagi, meskipun belum sempat kami buktikan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




