Siang Ini, Kualitas Udara Jabodetabek Masuk Kategori Tidak Sehat
Selasa, 10 Juni 2025 | 13:55 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Pemantauan kualitas udara di wilayah Jabodetabek dan sekitarnya pada Selasa (10/6/2025) siang menunjukkan sejumlah wilayah masuk dalam kategori tidak sehat. Data ini berdasarkan hasil dari Stasiun Pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Berdasarkan data dari stasiun pemantauan milik Deputi Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) KLHK/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) yang dipantau dari Jakarta pada hari ini, Kota Tangerang menempati posisi teratas wilayah dengan kualitas udara tidak sehat, dengan skor ISPU mencapai 122 hingga pukul 11.00 WIB, dikutip dari Antara, Selasa (11/6/2025).
Kategori udara tidak sehat juga terpantau di beberapa wilayah lain, yakni Kabupaten Serang dengan skor 116, Jakarta 111, Kabupaten Tangerang 107, Kabupaten Bekasi 107, Bantar Gebang 106, dan Surabaya 105. Secara total, ada tujuh wilayah yang tercatat memiliki kualitas udara dalam kategori tidak sehat pada Selasa (11/6/2025).
Baca Juga: Kualitas Udara Jakarta Pagi Ini Terburuk Ke-42 di Dunia
Dari total 108 stasiun pemantauan yang terintegrasi dalam sistem KLHK, hanya 49 wilayah yang menunjukkan kualitas udara kategori baik. Selebihnya berada dalam kategori sedang.
BACA JUGA
Dharma Minta Pramono Anung dan Rano Karno Bersihkan Udara Jakarta: Saya Siap Kalau Diperlukan
Merujuk pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 14 Tahun 2020, kualitas udara dikategorikan sebagai baik dengan skor 0–50, sedang 51–100, tidak sehat 101–200, sangat tidak sehat 201–300, dan berbahaya jika skornya mencapai di atas 300.
KLHK menilai pencemaran udara di wilayah Jabodetabek tak lagi dianggap sebagai fenomena musiman, tetapi menjadi kondisi darurat yang memerlukan penanganan bersama dan tegas dari seluruh pihak.
"Kita menghadapi situasi serius, Jabodetabek berada dalam tekanan tinggi dari sumber pencemar, terutama emisi kendaraan bermotor yang menyumbang hingga 57 persen saat musim kemarau. Kami tidak akan membiarkan kondisi ini menjadi situasi normal baru," kata Deputi Bidang PPKL KLH Rasio Ridho Sani pada pekan lalu.
Evaluasi KLHK dan BPLH menunjukkan, pencemaran udara di Jabodetabek didominasi dari gas buang kendaraan bermotor sekitar 32% hingga 57%, diikuti emisi industri berbasis batu bara mencapai 14%, debu dari aktivitas konstruksi sebanyak 13%, dan juga aktivitas pembakaran terbuka sampah dan lahan sebesar 9% sampai 11%.
Selain itu, pembentukan aerosol sekunder dan faktor meteorologis disebut juga memperburuk akumulasi polutan di atmosfer.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




