Kualitas Udara Jakarta Pagi Ini Terburuk Ke-2 di Dunia
Jumat, 27 Juni 2025 | 07:35 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Kualitas udara Jakarta pada Jumat (27/6/2025) pagi masuk kategori tidak sehat dan menduduki peringkat kedua sebagai kota dengan udara terburuk di dunia.
Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 06.00 WIB, indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta berada pada angka 172 atau masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif dengan angka partikel halus atau particulate matter (PM) 2,5.
Angka itu memiliki penjelasan tingkat kualitas udaranya tidak sehat bagi kelompok sensitif karena dapat merugikan manusia, kelompok hewan yang sensitive, atau bisa menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika.
Situs tersebut juga merekomendasikan terkait kondisi udara di Jakarta, yaitu bagi masyarakat sebaiknya menghindari aktivitas di luar ruangan. Apabila berada di luar ruangan gunakanlah masker, maka kemudian menutup jendela untuk menghindari udara luar yang kotor.
Sedangkan kategori baik, yakni tingkat kualitas udara yang tidak memberikan efek bagi kesehatan manusia atau hewan dan tidak berpengaruh pada tumbuhan, bangunan ataupun nilai estetika dengan rentang PM 2,5 sebesar 0-50.
Kemudian kategori sedang, yakni kualitas udaranya yang tidak berpengaruh pada kesehatan manusia atau hewan, namun berpengaruh pada tumbuhan yang sensitif dan nilai estetika dengan rentang PM 2,5 sebesar 51-100.
Lalu kategori sangat tidak sehat dengan rentang PM 2,5 sebesar 200-299 atau kualitas udaranya dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar. Terakhir, berbahaya (300-500) atau secara umum kualitas udaranya dapat merugikan kesehatan yang serius pada populasi.
Dikutip dari Antara, kota dengan kualitas udara terburuk di dunia pagi ini, adalah Kinshasa, Kongo dengan indeks kualitas udara pada angka 186. Kemudian di urutan ketiga diikuti Dubai, Uni Emirat Arab dengan angka 163, dan peringkat keempat diduduki Lahore, Pakistan dengan indeks kualitas udara di angka 162.
Diketahui, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta akan meniru kota-kota besar dunia, seperti Paris dan Bangkok dalam menangani polusi udara.
Sebelumnya, Kepala DLH Asep Kuswanto menyatakan Jakarta akan menambah stasiun pemantau kualitas udara (SPKU). Saat ini Jakarta memiliki 111 SPKU, sedangkan Bangkok memiliki 1.000 SPKU dan Paris 400 SPKU. Penambahan SPKU di Jakarta dari sebelumnya hanya lima unit agar pihaknya bisa lebih cepat dan akurat melakukan intervensi.
Ia menambahkan keterbukaan data menjadi langkah penting dalam memperbaiki kualitas udara secara sistematis.
Asep mengatakan penyampaian data polusi udara harus lebih terbuka agar intervensi bisa lebih efektif. Dia menilai yang dibutuhkan bukan hanya intervensi sesaat, tetapi langkah-langkah berkelanjutan dan luar biasa dalam menangani pencemaran udara.
DLH Jakarta menargetkan penambahan 1.000 sensor kualitas udara berbiaya rendah (low-cost sensors) agar pemantauan lebih luas dan akurat.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




