Apindo Soroti Kontraksi Ekspor Industri Pengolahan
Senin, 17 April 2023 | 22:49 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor pada sektor industri pengolahan pada Maret 2023 mencapai US$ 16,62 miliar. Angka ini tumbuh 7,22% dari bulan sebelumnya, dan mengalami kontraksi 13,67% dari posisi yang sama tahun 2022.
Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menyoroti tentang kontraksi yang terjadi pada ekspor sektor industri pengolahan.
Pihaknya sudah melihat bahwa sejak akhir tahun 2022 ekspor produk bernilai tambah atau ekspor produk manufaktur akan mengalami tekanan kontraksi demand yang signifikan sepanjang tahun ini karena kondisi pengetatan monoter dan risiko krisis ekonomi tinggi di pasar-pasar tujuan ekspor utama, khususnya Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE).
"Kebetulan kedua pasar ini juga adalah pasar dengan share ekspor terbesar untuk produk manufaktur padat karya seperti garmen dan sepatu," ucap Shinta saat dihubungi di Jakarta, Senin (17/4/2023).
Shinta mengatakan, dari kajian yang dilakukan terlihat bahwa pemerintah selama beberapa bulan terakhir semakin mempersulit impor bahan baku atau bahan penolong, sehingga industri manufaktur berorientasi ekspor juga semakin tertekan dan tidak memiliki support system. Hal ini turut mempengaruhi kinerja industri manufaktur.
Sementara itu, kontraksi di sisi ekspor komoditas seperti minyak kelapa sawit termasuk wajar terjadi karena stabilisasi/penurunan harga komoditas global . Sehingga memperlihatkan kontraksi ekspor secara tahunan. Oleh karena itu wajar bila kontraksi ekspor secara year on year terjadi dalam beberapa bulan ke depan.
"Khususnya bila harga komoditas di pasar global terus menurun ke level pra-konflik dan pra-pandemi. Bila volume ekspor kita juga tidak ditingkatkan secara signifikan atau bila kita tidak bisa menciptakan diversifikasi pasar yang baik untuk memaksimalkan demand ekspor global yang masih ada," tutur Shinta.
Mendorong kinerja ekspor, Shinta menyarankan agar pemerintah memfasilitasi semua upaya diversifikasi pasar tujuan ekspor, khususnya ke pasar-pasar non-tradisional.
Pemerintah perlu memberikan fasilitas dari segi pembiayaan ekspor , penetrasi pasar serta merelaksasi restriksi terhadap impor bahan baku, bahan penolong dan barang modal agar sektor manufaktur nasional bisa lebih maksimal menciptakan produktivitas ekspor.
"Sedangkan di sisi komoditas, perlu dipastikan juga bahwa volume ekspor atau export by volume bukan export by value harus dimaksimalkan," pungkas Shinta.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




