Imbal Hasil Pasar SUN Diprediksi Menguat, Ini Pendorongnya
Minggu, 21 Mei 2023 | 18:06 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Imbal hasil (yield) pasar surat utang negara (SUN) diprediksi menguat pada pekan ini setelah 11 pekan terakhir terperosok cukup dalam.
Associate Director of Research Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, pekan ini ruang kenaikan yield terbuka lebar dengan rentang 5,95%-6,20% untuk tenor lima tahun, kemudian 6,40%-6,50% untuk tenor 10 tahun, 6,60%-6,70% untuk tenor 15 tahun, dan 6,70%-6,80% untuk tenor 20 tahun.
Di tingkat domestik, ruang kenaikan yield salah satunya didukung oleh pertemuan Bank Indonesia (BI) pada 25 Mei 2023 mendatang. Sementara sentimen eksternal di antaranya didorong dari purchasing manager index (PMI) manufacturing, PMI services, dan PMI composite yang diproyeksikan menurun.
Di luar itu, pertemuan The Federal Open Market Committee (FOMC) juga menjadi sentimen penting yang akan memacu yield pasar obligasi domestik menguat. Belum lagi, initial jobless claims, continuing claims, dan personal income yang diprediksi meningkat.
"Sejauh ini kalau kita perhatikan, capital inflow perlahan tapi pasti masih terus masuk ke pasar obligasi," tutur Nico.
Menurut Nico, sejak mengalami titik paling rendah dalam kepemilikkan investor asing dalam obligasi, kepemilikkan asing terus membaik. Bahkan, meningkat hingga 14,9% dari total utang yang ada.
Meski pasar masih mengalami ketidakpastian, tapi Nico melihat, fundamental yang kuat dan fiskal yang berjalan sehat akan membuat investor asing tetap melirik untuk berinvestasi di pasar obligasi.
Hanya saja, kata dia, agresivitas masuknya investor asing belum begitu kuat karena imbal hasil saat ini masih rendah. Adapun yang menjadi fokus utamanya, pertemuan Bank Indonesia pekan ini yang diharapkan tetap dengan tingkat suku bunganya.
Head of Fixed Income at PT Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto menambahkan, pekan ini potensi penguatan di pasar obligasi cukup terbuka sekalipun relatif terbatas.
"Artinya, yield kita memang spread-nya semakin rendah dengan US Treasury makin mangecil secara perlahan dengan konsistensi likuidtas di pasar kita saat ini yang mampu menjaga kepercayaan pasar terhadap instrumen-instrumen utang yang diterbitkan pemerintah. Jadi, yield kita masih akan bergerak di kisaran 6,4%-6,5% dengan kecenderungan menguat walaupun terbatas," kata Ramdhan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




