ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

RI, Malaysia, dan Honduras Desak Kampanye Hitam CPO Dihentikan

Rabu, 27 September 2023 | 18:42 WIB
FB
FB
Penulis: Faisal Maliki Baskoro | Editor: FMB
Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga the 2nd Sustainable Vegetable Oil Conference di Mumbai, India, Rabu 27 September 2023
Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga the 2nd Sustainable Vegetable Oil Conference di Mumbai, India, Rabu 27 September 2023 (Beritasatu.com/Faisal Maliki Baskoro)

Mumbai, Beritasatu.com - Indonesia, Malaysia, dan Honduras meminta eksploitasi citra negatif kelapa sawit (crude palm oil/CPO) dihentikan karena dapat mengancam ketahanan pangan.

Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mengatakan CPO dapat memenuhi permintaan global akan minyak sayur berkelanjutan, tetapi eksploitasi citra negatif minyak kelapa sawit harus dihentikan.

"Minyak kelapa sawit dan SDGs (Sustainable Development Goals) tidak dapat dipisahkan, karena yang pertama menjadi dasar pencapaian yang terakhir," kata Jerry Sambuaga dalam pembukaan konferensi minyak nabati di Mumbai, India, Rabu (27/9/2023).

Dewan Negara-negara Produsen Minyak Kelapa Sawit (CPOPC) dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) bersama-sama mengadakan Konferensi Minyak Nabati Berkelanjutan ke-2 (2nd SVOC) untuk mengatasi tantangan-tantangan yang mendesak dan merumuskan langkah-langkah untuk meningkatkan ketahanan di masa depan dalam penyediaan minyak sayur berkelanjutan.

ADVERTISEMENT

Konferensi ini diadakan di Mumbai, India, dan sejalan dengan pertemuan G-20. India adalah negara konsumen utama CPO sehingga penting dalam memperkuat kerja sama dalam bidang keamanan pangan, rantai nilai pangan inklusif, dan ekonomi berkelanjutan.

Para stakeholders dalam industri minyak nabati membahas tantangan global dalam rantai pasokan minyak nabati dan menekankan pentingnya memperkuat dasar komunikasi dan kerja sama di antara pemangku kepentingan global, membentuk aliansi untuk kepentingan bersama dalam sektor minyak nabati.

Perwakilan pertanian dan komoditas dari negara-negara produsen utama seperti Indonesia, Malaysia, India, Tiongkok, dan Uni Eropa, perwakilan organisasi internasional seperti Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) dan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim, serta perusahaan multinasional besar dan petani, membahas peran penting minyak sayur yang perlu ditekankan sebagai alat fundamental bagi kemanusiaan, baik untuk konsumsi makanan maupun berbagai aplikasi lainnya, termasuk dalam pencapaian SDGs.

Menteri Pertanian dan Peternakan Honduras Suazo, menyampaikan keprihatinannya mengenai tantangan yang dihadapi oleh produsen kecil Honduras dan pabrik ekstraksi akibat perubahan kebijakan impor Uni Eropa yang baru-baru ini terjadi. Padahal, Honduras sudah memiliki cetak biru untuk mengembangkan industri arikulturnya.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perkebunan & Komoditas Malaysia, Dato' Mad Zaidi bin Mohd Karli, menekankan bahwa populasi dunia terus tumbuh, dan dunia berada di bawah tekanan untuk memenuhi permintaan global akan makanan dan bahan bakar.

"Pertanyaan kunci yang perlu dihadapi bukanlah tentang menggantikan minyak kelapa sawit, tetapi mengakui bagaimana minyak kelapa sawit berkelanjutan dapat memenuhi permintaan ini secara efisien, ekonomis, dan berkelanjutan. Minyak kelapa sawit terbukti memberikan dampak positif pada keamanan pangan global berkat produktivitas tingginya, beragamnya aplikasi, dan kemampuannya untuk meningkatkan keamanan pangan," kata dia.

Managing Director Solidaridad Asia Shatadru Chattopadhayay, , mendesak Uni Eropa agar mengimplementasikan secara inklusif regulasi yang mendiskriminasi CPO, yaitu European Union Deforestastion Regulation (EUDR), dengan menciptakan tiga hal, yaitu:

"Pertama, menerapkan kuota inklusivitas, menjamin persentase tertentu impor minyak kelapa sawit dari petani kecil di Indonesia dan Malaysia. Kedua, mendukung petani kecil kelapa sawit dengan memberikan pembiayaan awal, bantuan teknis, dan pasar yang terjamin untuk kredit karbon. Ketiga, mendukung penyelarasan standar keberlanjutan wajib nasional seperti Malaysian Sustainable Palm Oil (MSPO) dan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dengan EUDR."

Sekretaris Jenderal CPOPC Rizal Affandi Lukman, mengingatkan peran minyak kelapa sawit dalam menyediakan pendekatan, gagasan, dan langkah-langkah baru untuk memastikan ketahanan dan kemakmuran sektor minyak sayur global dalam jangka panjang.

Dia menekankan bahwa bagi konsumen utama seperti India, minyak kelapa sawit akan melengkapi minyak sayur yang diproduksi secara domestik, bukan sebagai pesaing, untuk memastikan keamanan pangan dan energi. CPO adalah bahan baku krusial dalam campuran biofuel, yang saat ini dimandatkan berbagai negara.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Harga Referensi CPO Naik 6 Persen gara-gara Lebaran

Harga Referensi CPO Naik 6 Persen gara-gara Lebaran

EKONOMI
Purbaya Targetkan Ekonomi Kuartal II 2026 Tumbuh hingga 5,7 Persen

Purbaya Targetkan Ekonomi Kuartal II 2026 Tumbuh hingga 5,7 Persen

EKONOMI
Produsen Terbesar, Kementan Yakin Sawit RI Ramah Lingkungan

Produsen Terbesar, Kementan Yakin Sawit RI Ramah Lingkungan

EKONOMI
Dorong Kemandirian Energi Nasional, Kementan Uji B50 pada Alsintan

Dorong Kemandirian Energi Nasional, Kementan Uji B50 pada Alsintan

EKONOMI
Mendag Tegaskan Minyakita Tak Langka dan Pasokan Aman

Mendag Tegaskan Minyakita Tak Langka dan Pasokan Aman

EKONOMI
Kementan Dukung CPO Jadi Pengganti Nafta untuk Bahan Plastik

Kementan Dukung CPO Jadi Pengganti Nafta untuk Bahan Plastik

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon