Defisit Neraca Pembayaran di Luar Perkiraan BI
Rabu, 15 Mei 2013 | 21:01 WIB
Jakarta– Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tercatat mengalami defisit sebesar US$ 6,6 miliar pada triwulan I-2013 dan berada di luar perkiraan Bank Indonesia. Kondisi tersebut terjadi selain karena defisit di neraca transaksi berjalan, defisit juga terjadi di neraca transaksi modal dan finansial.
Bank Indonesia (BI) menerbitkan publikasi tersebut pada Rabu, 15 Mei 2013 dan menunjukkan bahwa transaksi berjalan (current account) defisit sebesar 2,4% dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau sekitar US$ 5,3 miliar. Jika dibandingkan dengan defisit pada triwulan IV-2012 sebesar US$ 7,6 miliar atau 3,5% dari PDB, defisit tersebut sebenarnya menurun.
Ditemui Investor Daily, Difi mengakui, defisitnya NPI kali ini memang di luar perkiraan BI. Sebelumnya, BI memperkirakan kondisi NPI pada triwulan I-2013 masih akan surplus. Sebab, diperkirakan masuknya arus modal ke transaksi modal dan finansial masih dapat menutup defisit di transaksi berjalan.
"Ya, memang meleset (dari perkiraan sebelumnya). Ini karena impor minyak masih tinggi, sedangkan BI harus menyuplai valas untuk menjaga kurs rupiah, sehingga transaksi modal dan finansial defisit," ujar dia.
Sementara itu, ditemui di sebuah kesempatan, Gubernur BI Darmin Nasution mengungkapkan, kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia memiliki kaitan dengan defisit transaksi berjalan. "Bagaimanapun, situasi ekonomi kita meskipun melambat, masih oke. Tetapi memang ada defisit di transaksi berjalan," ujar Darmin.
Dia mengungkapkan, investasi di sisi non bangunan (pembelian mesin dan lain-lain) melambat, namun di sektor bangunan tetap tinggi. Selain melakukan cukup banyak intervensi, neraca transaksi modal dan finansial defisit akibat masuknya modal dari luar negeri (capital inflow) tidak mampu menutupi defisit transaksi berjalan pada triwulan I-2013.
"Masuk (ke transaksi modal dan finansial), tapi sedikit melambat. Transaksi berjalan, defisitnya mengecil sedikit. NPI itu bisa surplus atau tidak defisit, jika transaksi modal dan finansialnya positif atau surplus," jelas Darmin.
Menurut dia, terdapat dua pilihan yang dapat diambil oleh pemerintah dan BI terkait perlambatan ekonomi dan defisit transaksi berjalan. Pertama, pertumbuhan ekonomi melambat, namun defisit transaksi berjalan tidak terlalu cepat. Kedua, perekonomian sedikit lebih cepat, namun defisit transaksi berjalan lebih besar.
"Ini pilihan kebijakan, saya tidak mau menjelaskan terlalu jauh. Ini sentrum perdebatan di media," tukas dia.
BI mencatat, kinerja ekspor non minyak dan gas (non migas) secara riil sudah mulai membaik, mengikuti pertumbuhan volume perdagangan dunia yang meningkat. Namun, secara nominal masih tumbuh negatif akibat harga komoditas ekspor yang masih menurun.
Kendati ekspor non migas tumbuh negatif, neraca perdagangan non migas mampu mencatat kenaikan surplus, karena impor turun lebih tajam daripada ekspor.
"Penurunan impor non migas tersebut merupakan dampak dari perlambatan konsumsi dan investasi domestik, yang tercermin dari menurunnya impor barang-barang konsumsi dan barang-barang modal," jelas Difi.
Sementara itu, penurunan defisit neraca jasa disebabkan oleh berkurangnya pengeluaran jasa transportasi. Kondisi itu mengikuti turunnya impor non migas dan pengeluaran jasa travel, karena jumlah penduduk Indonesia yang bepergian ke luar negeri pasca berakhirnya musim haji dan masa liburan akhir tahun menurun.
Dalam periode yang sama, defisit neraca pendapatan juga menyusut, terutama akibat berkurangnya pembayaran bunga utang luar negeri. Sebaliknya, defisit neraca perdagangan migas kembali meningkat akibat pertumbuhan volume konsumsi BBM yang masih terakselerasi dan produksi minyak yang terus menurun.
BI masih optimistis, kinerja NPI pada triwulan II-2013 secara keseluruhan diperkirakan bakal semakin membaik. Sebab, transaksi modal dan finansial akan kembali surplus, sehingga mampu menutupi defisit transaksi berjalan. Optimisme itu muncul karena inflow pada April 2013 meningkat cukup besar.
"Itu di antaranya karena penerbitan obligasi pemerintah, kemudian fundamental ekonomi Indonesia masih kuat, serta dampak dari kebijakan moneter global yang masih akomodatif," ujar Difi.
Perkiraan kinerja NPI triwulan II-2013 yang membaik tersebut mulai terindikasi dari jumlah cadangan devisa (cadev) pada akhir April 2013 yang meningkat menjadi US$ 107,3 miliar. Pada Maret 2013, cadev tercatat sebesar US$ 104,8 miliar.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




