ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Sampai Desember 2013, Hutang Luar Negeri Indonesia US$ 264 Miliar

Kamis, 20 Februari 2014 | 18:19 WIB
RS
FH
Penulis: Ridho Syukro | Editor: FER
Ilustrasi mata uang Euro
Ilustrasi mata uang Euro (Guardian)

Jakarta - Posisi Hutang Luar Negeri (HLN) Indonesia pada Desember 2013 tercatat sebesar US$ 264 miliar. Hutang tersebut terdiri dari hutang luar negeri sektor publik 46,8% dan sektor swasta 53,2%.

Kepala Departemen Statistik Bank Indonesia Hendy Sulistiowaty mengatakan, Hutang Luar Negeri Desember 2013 tumbuh 4,06% lebih lambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada tahun sebelumnya yang mencapai 12,0% year on year (yoy).

Perlambatan HLN, kata dia, disumbang oleh HLN sektor publik yang terkoreksi 2,0 yoy dan sektor swasta yang tumbuh 11,3%.

Menurut Hendy, HLN sektor publik sebagian besar berupa hutang jangka panjang yang mencapai US$ 116,8 miliar. Kebanyakan dari hutang sektor publik berjangka panjang berupa pinjaman bilateral, multilateral dan fasilitas kredit ekspor serta obligasi pemerintah. Sementara, HLN sektor publik berjangka pendek berupa surat utang jangka pendek SPN, dan SBI.

ADVERTISEMENT

Hendy mengatakan, HLN sektor swasta didominasi oleh hutang jangka panjang yaitu sebesar US$ 99,8 miliar. Jika dilihat menurut instrumen, sebagian besar HLN swasta berbentuk pinjaman (loan agreement) mencapai US$ 91,3 miliar.

"Sebagian besar HLN swasta dimiliki korporasi non keuangan sebesar 77,3% sementara HLN perbankan hanya 17,2%," kata Hendy.

HLN sektor swasta terarah pada sektor keuangan, persewaan and jasa perusahaan (26%), industri pengolahan (20%), sektor pertambangan dan penggalian (18%) dan sektor listrik, gas dan air bersih (12%).

"Posisi hutang luar negeri Indonesia secara umum masih aman," ujar dia dalam acara diskusi BI Bareng Media" di Gedung BI, Jakarta, Kamis (20/2).

Hendy mengatakan, rasio HLN terhadap PDB triwulan IV 2013 sebesar 30,2% sedikit meningkat dari 28,7% pada tahun sebelumnya. Hal ini, lanjut Hendy, disebabkan masih positifnya net aliran masuk HLN dalam rangka mendukung kebutuhan pembiayaan kegiatan ekonomi domestik.

"Jika dibandingkan negara lain, rasio hutang Indonesia masih aman. Turki mencapai 45% terhadap PDB, Latvia 137%, Hungaria 152%, Kroasia 107%, Kolombia 33%, dan Rumania 74%," paparnya.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Latif Adam mengatakan, kondisi hutang luar negeri pemerintah maupun swasta masih cukup aman.

Menurut dia, hutang luar negeri pemerintah masih berada di bawah 30% terhadap PDB. "Jika hutang pemerintah sudah di atas 30%, maka hutang tersebut dikategorikan sebagai hutang yang tidak aman," kata Latif.

Lebih lanjut Latif mengatakan, ada dua indikator yang menentukan apakah hutang luar negeri pemerintah aman atau tidak. Pertama, rasio hutang terhadap PDB dibawah 30%. Kedua, cadangan devisa mampu membayar utang dan membayar impor selama 5 - 7 bulan.

Saat ini, kata Latif, cadangan devisa Indonesia semakin meningkat dan mendekati angka US$ 100 miliar. Menurutnya, jika kedua indikator tersebut sudah dipenuhi pemerintah, maka secara keseluruhan hutang pemerintah masih cukup aman.

"Cadangan devisa Indonesia terus meningkat sehingga mampu membayar utang," ujar Latif.

Latif mengatakan, hutang luar negeri swasta juga masih tergolong aman karena porsinya belum terlalu besar. "Justru yang perlu diwaspadai adalah menjelang akhir tahun, karena merupakan jatuh tempo pembayaran hutang luar negeri swasta," tambahnya.

Menurut Latif, batas aman dari hutang swasta adalah hutang jangka pendek dan jangka panjangnya harus currency match tidak boleh timpang.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Warga Blitar Rekayasa Jadi Korban Begal di Hutan karena Terlilit Utang

Warga Blitar Rekayasa Jadi Korban Begal di Hutan karena Terlilit Utang

JAWA TIMUR

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon