Surplus RI-Cina Diragukan Bisa Bertahan
Kamis, 1 Desember 2011 | 18:13 WIB
Kalau dalam satu-dua bulan ke depan tren ini dapat dijaga, baru kita optimal.
Neraca perdagangan Indonesia dengan Cina untuk pertama kalinya mengalami surplus di bulan Oktober 2011. Namun para ekonom masih meragukan hal ini dapat dipertahankan hingga tahun depan.
Kepala Riset Danarakesa Riset Institut, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pemerintah dan pelaku usaha tetap waspada terhadap surplus neraca perdagangan Indonesia dengan Cina karena belum tentu tren ini akan berlanjut. "Masih terlalu dini untuk bergembira karena ini baru satu bulan. Kalau dalam satu-dua bulan ke depan tren ini dapat dijaga, baru kita optimal," ujarnya di Jakarta, hari ini.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diumumkan hari ini, neraca perdagangan Indonesia-Cina di bulan Oktober mengalami surplus US$ 106,9 juta. Ekspor non migas ke negeri Tirai Bambu itu di bulan Oktober meningkat sebesar 7,4 persen menjadi US$ 2,24 miliar dibandingkan US$ 2,08 miliar di bulan September.
Sementara impor Cina di bulan Oktober menurun 3 persen menjadi US$ 2,13 miliar dibandingkan US$ 2,2 miliar di bulan sebelumnya. "Ekspor kita ke Cina didominasi produk-produk natural resources base seperti CPO, karet, dan batu bara yang permintaanya cenderung tidak fluktuatif. Ini juga membuktikan bahwa Cina belum mengalami perlambatan seperti yang diperkirakan banyak orang," tambahnya.
Sementara, Ekonom Standard Chartered, Fauzi Ichsan mengatakan surplus perdagangan dengan Cina didorong permintaan dan tingginya harga komoditas batubara yang tinggi. "Selama harga komoditas tinggi, kita masih bisa berharap surplus untuk tiga bulan ke depan. Tetapi semuanya bergantung kepada perekonomian Cina, jika dia melambat otomatis dia akan mengurangi impor," ujarnya.
Di bulan Oktober, Cina masih merupakan negara tujuan ekspor utama sekaligus negara asal impor utama bagi Indonesia. Walaupun ekspor di bulan Oktober naik, secara keseluruhan neraca perdagangan ke Cina masih defisit sebesar US$ 3,57 miliar.
Secara kumulatif ekspor non migas Indonesia pada periode Januari-Oktober 2011 mencapai US$ 134,73 miliar atau meningkat 30,36 persen di banding periode yang sama sebelumnya. Sementara impor non migas, selama Januari-Oktober 2011 mencapai US$ 112,08 miliar atau naik 27,82 persen dibanding impor nonmigas periode yang sama tahun 2010 sebesar US$ 87,69 miliar.
Komoditi yang mengalami peningkatan ekspor adalah mesin-mesin/pesawat mekanik sebesar US$ 318,6 juta menjai US$ 805,4 juta, bahan bakar mineral sebesar US$ 238,8 juta menjadi US$ 2,65 miliar, karet dan barang dari karet sebesar US$ 152,1 juta menjadiUS $ 1,29 miliar.
Sementara komoditas yang mengalami penurunan lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$ 270,3 juta menjadi US$ 1,54 miliar, bijih, kerak, dan abu logam sebesar US$ 203,8 juta menjadi US$ 629,3 juta, bahan kimia organik sebesar US$ 109,8 juta menjadi US$ 247,7 juta.
Neraca perdagangan Indonesia dengan Cina untuk pertama kalinya mengalami surplus di bulan Oktober 2011. Namun para ekonom masih meragukan hal ini dapat dipertahankan hingga tahun depan.
Kepala Riset Danarakesa Riset Institut, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pemerintah dan pelaku usaha tetap waspada terhadap surplus neraca perdagangan Indonesia dengan Cina karena belum tentu tren ini akan berlanjut. "Masih terlalu dini untuk bergembira karena ini baru satu bulan. Kalau dalam satu-dua bulan ke depan tren ini dapat dijaga, baru kita optimal," ujarnya di Jakarta, hari ini.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diumumkan hari ini, neraca perdagangan Indonesia-Cina di bulan Oktober mengalami surplus US$ 106,9 juta. Ekspor non migas ke negeri Tirai Bambu itu di bulan Oktober meningkat sebesar 7,4 persen menjadi US$ 2,24 miliar dibandingkan US$ 2,08 miliar di bulan September.
Sementara impor Cina di bulan Oktober menurun 3 persen menjadi US$ 2,13 miliar dibandingkan US$ 2,2 miliar di bulan sebelumnya. "Ekspor kita ke Cina didominasi produk-produk natural resources base seperti CPO, karet, dan batu bara yang permintaanya cenderung tidak fluktuatif. Ini juga membuktikan bahwa Cina belum mengalami perlambatan seperti yang diperkirakan banyak orang," tambahnya.
Sementara, Ekonom Standard Chartered, Fauzi Ichsan mengatakan surplus perdagangan dengan Cina didorong permintaan dan tingginya harga komoditas batubara yang tinggi. "Selama harga komoditas tinggi, kita masih bisa berharap surplus untuk tiga bulan ke depan. Tetapi semuanya bergantung kepada perekonomian Cina, jika dia melambat otomatis dia akan mengurangi impor," ujarnya.
Di bulan Oktober, Cina masih merupakan negara tujuan ekspor utama sekaligus negara asal impor utama bagi Indonesia. Walaupun ekspor di bulan Oktober naik, secara keseluruhan neraca perdagangan ke Cina masih defisit sebesar US$ 3,57 miliar.
Secara kumulatif ekspor non migas Indonesia pada periode Januari-Oktober 2011 mencapai US$ 134,73 miliar atau meningkat 30,36 persen di banding periode yang sama sebelumnya. Sementara impor non migas, selama Januari-Oktober 2011 mencapai US$ 112,08 miliar atau naik 27,82 persen dibanding impor nonmigas periode yang sama tahun 2010 sebesar US$ 87,69 miliar.
Komoditi yang mengalami peningkatan ekspor adalah mesin-mesin/pesawat mekanik sebesar US$ 318,6 juta menjai US$ 805,4 juta, bahan bakar mineral sebesar US$ 238,8 juta menjadi US$ 2,65 miliar, karet dan barang dari karet sebesar US$ 152,1 juta menjadiUS $ 1,29 miliar.
Sementara komoditas yang mengalami penurunan lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$ 270,3 juta menjadi US$ 1,54 miliar, bijih, kerak, dan abu logam sebesar US$ 203,8 juta menjadi US$ 629,3 juta, bahan kimia organik sebesar US$ 109,8 juta menjadi US$ 247,7 juta.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




