BTEK Buka Opsi Right Issue
Sabtu, 3 Desember 2011 | 12:27 WIB
Capex 2012 dianggarkan Rp 40 miliar untuk membelialat-alat berat kehutanan.
Perusahaan di sektor agro industri, PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK) tengah menjajaki penerbitan saham baru (right Issue) untuk mendanai belanja modal (capital expenditure/capex) 2012 yang diperkirakan Rp 40 Miliar.
"Sebenarnya ada beberapa opsi lain seperti pinjaman perbankan juga," kata Corporate Secretary BTEK, Gilbert Rely di Jakarta, Jumat.
Gilbert mengatakan, capex akan digunakan untuk membeli alat-alat berat paska akuisisi perusahaan pemegang Hak Pengelolaan Hutan (HPH) dan Hutan Tanaman Industri (HTI), PT Bentara Agra Timber (BAT) di Bengkulu pada Maret lalu.
Untuk saat ini, Gilbert mengakui, perseroan masih menanggung rugi dengan total tanggungan utang sebesar Rp 5 miliar kepada pihak perseorangan. Meski demikian, dia optimis, perseroan masih bisa melakukan aksi korporasi untuk menggalang dana seperti right issue atau pinjaman perbankan. "Semua alternatif masih bisa dilakukan kok," tuturnya.
Hingga September 2011, perseroan membukukan penghasilan bersih sebesar Rp 2,6090 miliar, turun drastis dibandingkan periode yang sama tahun 2010 yang tercatat sebesar Rp 15,857 miliar. "Faktor cuaca sangat mempengaruhi penjualan, namun kami yakin hasil akuisisi BAT akan meningkatkan penjualan dan hingga akhir tahun minimal bisa mencetak penjualan sama dengan akhir tahun 2010 sebesar Rp 21,222 Miliar," bebernya.
Meski dalam 5 tahun terakhir, perseroan terus mengalami kerugian, namun perusahaan yang awalnya bergerak di bidang bio teknologi pertanian dengan menghasilkan bibit tanaman ini mulai mengembangkan bisnis kayu gelondongan.
Perusahaan di sektor agro industri, PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK) tengah menjajaki penerbitan saham baru (right Issue) untuk mendanai belanja modal (capital expenditure/capex) 2012 yang diperkirakan Rp 40 Miliar.
"Sebenarnya ada beberapa opsi lain seperti pinjaman perbankan juga," kata Corporate Secretary BTEK, Gilbert Rely di Jakarta, Jumat.
Gilbert mengatakan, capex akan digunakan untuk membeli alat-alat berat paska akuisisi perusahaan pemegang Hak Pengelolaan Hutan (HPH) dan Hutan Tanaman Industri (HTI), PT Bentara Agra Timber (BAT) di Bengkulu pada Maret lalu.
Untuk saat ini, Gilbert mengakui, perseroan masih menanggung rugi dengan total tanggungan utang sebesar Rp 5 miliar kepada pihak perseorangan. Meski demikian, dia optimis, perseroan masih bisa melakukan aksi korporasi untuk menggalang dana seperti right issue atau pinjaman perbankan. "Semua alternatif masih bisa dilakukan kok," tuturnya.
Hingga September 2011, perseroan membukukan penghasilan bersih sebesar Rp 2,6090 miliar, turun drastis dibandingkan periode yang sama tahun 2010 yang tercatat sebesar Rp 15,857 miliar. "Faktor cuaca sangat mempengaruhi penjualan, namun kami yakin hasil akuisisi BAT akan meningkatkan penjualan dan hingga akhir tahun minimal bisa mencetak penjualan sama dengan akhir tahun 2010 sebesar Rp 21,222 Miliar," bebernya.
Meski dalam 5 tahun terakhir, perseroan terus mengalami kerugian, namun perusahaan yang awalnya bergerak di bidang bio teknologi pertanian dengan menghasilkan bibit tanaman ini mulai mengembangkan bisnis kayu gelondongan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




