ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Penyelamatan Merpati Hadapi Jalan Buntu

Kamis, 18 September 2014 | 13:10 WIB
B
B
Penulis: BeritaSatu | Editor: B1
Seorang warga melihat papan pengumuman pembatalan terbang di loket maskapai Merpati Airlanes di terminal 2E, bandara Soekarno hatta, Tangerang, Banten, Senin (03/02). PT Merpati Nusantara Airlines (MNA) menyatakan untuk awal bulan Februari ini akan melakukan peniadaan penerbangan hingga 5 Februari 2014.
Seorang warga melihat papan pengumuman pembatalan terbang di loket maskapai Merpati Airlanes di terminal 2E, bandara Soekarno hatta, Tangerang, Banten, Senin (03/02). PT Merpati Nusantara Airlines (MNA) menyatakan untuk awal bulan Februari ini akan melakukan peniadaan penerbangan hingga 5 Februari 2014. (Antara/Lucky R)

Jakarta - Penyelamatan PT Merpati Nusantara Airlines (Merpati) menghadapi jalan buntu.

"Boleh dikatakan begitu (buntu), karena opsi-opsi yang sudah disiapkan seperti kuasi reorganisasi dan menjual aset perusahaan sudah tidak memungkinkan dilakukan," kata Dahlan usai menggelar Rapat Pimpinan Kementerian BUMN, di Kantor Pusat PT Djakarta Lloyd (Persero), Jakarta, Kamis (18/9).

Untuk menuntaskan restrukturisasi Merpati saat ini setidaknya dibutuhkan dana sekitar Rp 15 triliun untuk memenuhi kewajiban pembayaran utang kepada kreditur sekitar 2.000 pihak, menutup kerugian perseroan, hingga memenuhi tunggakan gaji karyawan.

Dia menjelaskan, salah satu langkah yang dijalankan, yaitu melepas anak usaha, Merpati Maintenance Facilities kepada PT Perusahaan Pengelola Aset. Namun, harga penjualan tersebut diperkirakan hanya berkisar Rp 300 mililar.

ADVERTISEMENT

Selain itu, penjualan aset perusahaan juga tidak memungkinkan karena tidak ada yang tersisa, termasuk pesawat yang digadaikan kepada pihak ketiga.

Opsi lain mengenai Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) ke Pengadilan Niaga atas utang sekitar Rp2 triliun kepada kreditur, pesimis dapat tercapai.

"Penundaan utang harus ada jaminan. Bagaimana bisa berjalan kalau asetnya saja sudah tidak bisa dijadikan agunan," ujarnya.

Saat ini, yang bisa dilakukan pemegang saham hanya sebatas mencari masukan dan pandangan dari publik bagaimana cara menyelamatkan perusahaan penerbangan pelat merah tersebut.

"Logikanya seperti itu. Kalau kita memiliki uang Rp 15 triliun, bisa mendirikan tiga perusahaan penerbangan seperti Merpati," katanya.

Perusahaan yang didirikan 6 September 1962 itu, saat ini terlilit utang hingga sekitar Rp 7,6 triliun. Restrukturisasi berupa penyuntikan dana APBN sudah berkali-kali dilakukan, tapi gagal.

Mulai 1 Februari 2014, Merpati terpaksa menutup sebagian besar rute penerbangan karena tidak memiliki kemampuan untuk menjalankan operasional.

Penyelamatan Merpati ditempuh melalui sejumlah opsi, seperti konversi utang menjadi saham (debt to equity swap), pemisahan (spin off) unit usaha Merpati Maintenance Facilities (MMF) dan Merpati Training Center (MTC), temasuk kerja sama operasional (KSO).

Khusus KSO, setidaknya empat kriteria yang akan menjadi mitra Merpati, yaitu mampu menyediakan modal, menyediakan pesawat, menyediakan modal dan pesawat, dan kombinasi modal, pesawat, dan termasuk pilot.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon